Melangkahlah masuk ke gerbong subway Seoul dan pemandangannya langsung terasa. Penumpang di atas 40 tahun, nyaris tanpa kecuali, memegang Galaxy. Sekumpulan perempuan usia 20an? iPhone di mana-mana. Ini bukan kebetulan. Korea, secara keseluruhan, adalah salah satu pasar smartphone paling terkonsentrasi Samsung di dunia—sekaligus salah satu tempat langka di mana Apple membalikkan keadaan di satu irisan usia-gender tertentu. Berikut angka terbaru 2026 dan kekuatan khas Korea di balik pembelahan itu.

Jawaban singkatnya

  • Korea secara keseluruhan: Galaxy 81% vs iPhone 19% — untuk siapa pun di atas 40, ini praktis pasar Galaxy saja.
  • Satu pengecualian: perempuan usia 20an dengan 67% iPhone. Laki-laki 20an: 41%. Laki-laki dan perempuan 30an: kisaran 30–40%.
  • Alasannya melampaui selera. Samsung Pay dan rekaman panggilan—dua infrastruktur khas Korea—menjangkar Galaxy. Karakter warna kamera, desain, dan ekosistem perangkat menarik ke iPhone.
  • Baru di 2026: begitu anak 20an masuk dunia kerja, mereka berbalik ke Galaxy.

Merek ponsel apa yang dipakai orang Korea?

Sangat dominan, Samsung Galaxy. Dalam survei Gallup Korea yang dirilis 13 Juli 2026, 81% dari 1,675 pengguna smartphone berusia 13 tahun ke atas mengaku memakai Galaxy dan 19% iPhone. Bagi wisatawan yang datang dari pasar tempat Apple menguasai hampir mayoritas—AS, Jepang—angka itu terasa asing.

Ada cara lain membaca konsentrasi itu: 96% pengguna Galaxy mengatakan ponsel berikutnya juga akan Samsung. Begitu seseorang masuk ekosistem Galaxy di Korea, mereka jarang keluar.

81%
Tingkat pemakaian Galaxy se-Korea (Gallup Korea 2026)
67%
Pemakaian iPhone di kalangan perempuan usia 20an — tertinggi dari semua kelompok usia-gender
100%
Pemakaian Galaxy pada usia 60+ (iPhone: 0%)
78%
Responden yang menyatakan ponsel berikutnya akan Galaxy

Kalau dipisah hanya berdasarkan gender, jaraknya tampak tipis. Laki-laki: Galaxy 84%, iPhone 16%. Perempuan: Galaxy 78%, iPhone 22%. Selisih gendernya cuma 6 poin persentase. Garis pembatas sesungguhnya di Korea bukan gender—melainkan usia. Gender adalah variabel kedua yang menumpang di atasnya.


Bagaimana pembelahan laki-laki dan perempuan usia 20-30an?

Satu angka merangkum ceritanya. Di seluruh populasi Korea, iPhone mengalahkan Galaxy tepat di satu kelompok: usia 20an, khususnya perempuan usia 20an.

📊 Pemakaian iPhone menurut usia dan gender (Gallup Korea, Juli 2026, usia 13+, n=1,675)

KelompokiPhoneGalaxy
Perempuan 20an67%33%
Laki-laki 20an41%59%
Perempuan 30an42%58%
Laki-laki 30an34%66%
Remaja perempuan47%53%
Remaja laki-laki32%68%
40an16%84%
50an2%97%
60+0%100%

Begini cara membaca tabelnya. Perempuan usia 20an dua kali lebih mungkin memakai iPhone ketimbang Galaxy—tetapi di kalangan laki-laki seusia, Galaxy sudah jadi mayoritas. Memasuki usia 30an, Galaxy memimpin untuk laki-laki maupun perempuan. Jaraknya melebar sepanjang usia 40an, dan pada usia 50an iPhone lenyap secara statistik. Laki-laki Korea hidup di dunia satu orang satu Galaxy, dan pengecualiannya adalah jendela sempit usia 20 awal sampai pertengahan.

Sebelum kamu menelan angka-angka ini bulat-bulat: Gallup Korea secara eksplisit memperingatkan agar tidak "menafsirkan angka usia-gender tertentu secara berlebihan." Sampel perempuan usia 20an adalah 99 orang, margin of error ±10%. Selain itu, survei 2026 beralih dari wawancara telepon (CATI) ke tatap muka (CAPI), sehingga perbandingan tahun ke tahun jadi kurang andal. Perlakukan "67% perempuan usia 20an" sebagai arah, bukan pengukuran presisi.

Kenapa Korea condong sejauh ini ke Galaxy?

Penjelasan malas—patriotisme—tidak berdiri sendiri. Alasan sesungguhnya orang Korea setia pada Galaxy bermuara pada dua infrastruktur yang tak ada duanya di tempat lain.

Pertama, pembayaran — Samsung Pay jalan di mana-mana, Apple Pay nyaris nihil

Samsung Pay langsung berfungsi di hampir semua terminal kartu di Korea. Sementara itu Apple Pay diluncurkan Maret 2023 bersama Hyundai Card—dan per Juni 2026, Hyundai Card praktis masih satu-satunya penerbit mitra. Shinhan Card sempat bersiap meluncur pada Maret 2026 tetapi batal. KB Kookmin Card dan Toss Bank sudah merampungkan tinjauan regulasi tetapi terus mengundur jadwal, kabarnya karena negosiasi biaya dengan Samsung Pay. Bagi orang Korea, frasa “bayar pakai ponsel” masih mengandaikan Galaxy di tangan.

Di Korea, merekam percakapan telepon yang kamu ikuti sendiri adalah legal. Samsung menyertakan rekaman panggilan sebagai fitur bawaan di pasar yang mengizinkannya—Korea, Jepang, Kanada di antaranya. Karena perekaman ilegal di sebagian negara bagian AS, Apple lama menghindari fitur ini sepenuhnya. Ketika iOS 18.1 akhirnya menambahkannya pada Oktober 2024, implementasinya punya catatan: pengumuman suara otomatis diputar untuk kedua pihak saat perekaman dimulai. Begitu pengumuman itu berbunyi di tengah panggilan kerja, kepraktisannya menguap—penilaian yang nyaris universal di kalangan pekerja kantoran Korea.

Kenapa Korea tidak punya penghalang iMessage

Di AS, kekuatan terbesar yang mengunci orang pada iPhone adalah stigma gelembung hijau iMessage. Penghalang itu tidak ada di Korea. Dari Januari sampai April 2026, aplikasi paling banyak dipakai di negara ini adalah KakaoTalk, dengan rata-rata bulanan 47.7 juta pengguna—praktis seluruh populasi dalam satu messenger. Ganti merek ponsel dan ruang obrolan, koleksi stiker, serta daftar temanmu ikut pindah. Biaya berpindahnya jauh lebih rendah dibanding AS. Itulah sebabnya pangsa merek berayun sedrastis ini antar kelompok usia di Korea.

Lalu kenapa anak 20an memilih iPhone?

Dilihat dari sisi sebaliknya, dua keunggulan infrastruktur di atas adalah kebutuhan dunia kerja. Rekaman panggilan dan Samsung Pay bukan fitur mendesak bagi mahasiswa. Sebagai gantinya, anak 20an memilih karakter warna kamera, desain, perpindahan mulus dengan iPad, AirPods, dan Apple Watch, serta kepekaan estetis yang dipancarkan mereknya.

Stigma budaya juga berperan. Budaya internet Korea punya sepasang ejekan lama: pengguna Galaxy disebut 삼엽충 (samyeopchung, “trilobit Samsung”), dan pengguna Apple 앱등이 (aepdeungi, kira-kira “budak Apple”). Memasuki 2020-an, Galaxy mendapat citra sebagai 아재폰 (ajae-pon, “ponsel om-om”) dengan sepupu yang lebih pedas, 갤레기 (gael-legi, “Galaxy sampah”). Pada 2023, penyanyi Sung Si-kyung viral karena bercerita di YouTube bahwa “seorang perempuan muda bertanya kepada saya, ‘Oppa, kamu benar-benar pakai gael-legi?’” Tapi membingkainya sebagai perang gender itu berlebihan. Seperti ditunjukkan cek fakta media Korea E-Korea, usia adalah variabel utama yang menggerakkan preferensi merek di Korea, dan pada usia 50 tahun ke atas, laki-laki justru sedikit lebih menyukai iPhone dibanding perempuan.

Data persepsi merek Gen Z memperkuat lanskap emosional ini.

Laporan Tren Gen Z 2026 Vinulabs (survei 500 mahasiswa): Citra inti Apple: canggih dan premium, 84%, serta trendi, 83%—tetapi tidak ramah, 68% mengekor tepat di belakangnya. Citra inti Samsung: tepercaya, 82%, praktis dan mudah didekati, 80%, serta cerdas, 76%. Dalam angka: Apple adalah aspirasi, Samsung adalah kepercayaan.

Pembalikan 2026 — anak 20an berbalik ke Galaxy

Inilah cerita paling menarik di Korea saat ini. Ponsel di tangan mereka masih iPhone, tetapi makin banyak anak 20an yang bilang ponsel berikutnya akan Galaxy.

Platform lowongan kerja Catch menyurvei 3,045 pencari kerja: kepemilikan ponsel saat ini iPhone 63% vs Samsung 35%, tetapi niat beli ke depan turun ke iPhone 52%—merosot 11 poin—sementara Samsung naik ke 40%. Dipersempit ke usia 25–29, pembalikannya makin tajam: iPhone 62% pemakaian → 51% niat beli; Galaxy 36% pemakaian → 42% niat beli—urutannya terbalik. Vinulabs, yang menyurvei 500 mahasiswa, menemukan pola serupa: kepemilikan terbelah iPhone 61.6% vs Galaxy 38.4%, tetapi niat beli menyempit menjadi iPhone 57.4% vs Galaxy 42.6%.

63% → 52%
Pencari kerja (3,045) — iPhone: pemakaian kini → niat beli berikutnya
35% → 40%
Survei yang sama — Samsung: pemakaian kini → niat beli berikutnya
36% → 42%
Usia 25–29 — pemakaian Galaxy → niat beli (urutan terbalik)

Alasan berpindahnya berupa hitungan, bukan emosi. Di antara anak 20an yang berencana meninggalkan iPhone demi Galaxy, 26% menyebut “fitur yang saya mau tidak ada” dan 18% menyebut “harganya terlalu tinggi.” Pada harga peluncuran Korea, iPhone 17 dimulai dari ₩1,290,000 untuk 256GB; Galaxy S25 mulai ₩1,155,000. Dan inilah sinyal jelas bahwa citra merek sudah melemah: dari 1,917 pengguna iPhone, hanya 12% yang mengaku memilihnya karena “citra mereknya keren dan trendi”—peringkatnya di bawah desain, kamera, ekosistem perangkat, bahkan OS.

Jawaban paling mewakili datang dari seorang pencari kerja.

"Waktu kuliah, iPhone itu 아묻따 (amuttta—'tak usah tanya, beli saja'). Tapi begitu magang dimulai dan ketiadaan rekaman panggilan dasar terus bikin stres, saya mulai serius memikirkan pindah ke Galaxy untuk ponsel berikutnya." — pencari kerja usia 27 tahun (wawancara Hankyung, Februari 2026)

Dengan kata lain, pemicu perpindahan merek di Korea bukanlah usia itu sendiri—melainkan pekerjaan. Begitu seorang mahasiswa berubah jadi pekerja kantoran, rekaman panggilan, Samsung Pay, dan kemudahan servis mendadak jadi penting, dan infrastruktur pasar Korea menampakkan dirinya memang dibangun untuk Galaxy. Di lapangan, staf penjualan melaporkan laki-laki usia akhir 20an melihat-lihat Galaxy Z Fold dan perempuan seusia mengecek seri Z Flip dan S25.

Kenapa angka pangsa pasar berbeda di setiap artikel berita?

Telusuri berita pangsa pasar smartphone Korea dan kamu akan melihat Apple di 16% pada satu artikel dan 39% di artikel lain. Keduanya benar. Pangsa penjualan kuartalan berayun drastis mengikuti siklus rilis iPhone.

📊 Pangsa penjualan smartphone kuartalan di Korea (Counterpoint Research)

KuartalSamsungApple
2024 Q276%22%
2024 Q380%19%
2024 Q460%39%
2025 Q178%22%
2025 Q284%16%
2025 Q381%18%

Polanya berulang tiap tahun: di Q4, tepat setelah iPhone baru meluncur, Apple melonjak ke 34–39%. Di paruh pertama, saat seri Galaxy S diluncurkan, Apple turun lagi ke 15–20%. Kalau kamu ingin merasakan pasar Korea yang sesungguhnya, abaikan lonjakan satu kuartal dan lihatlah rata-rata tahunan atau survei tingkat pemakaian Gallup. Perlu dicatat: iPhone 17 yang diluncurkan September 2025 disambut baik berkat harga yang dibekukan dan peningkatan perangkat keras, serta menjadi ponsel terlaris dunia pada Q1 2026 (6% dari penjualan global).


Yang benar-benar perlu diketahui wisatawan dan penduduk asing

Checklist memakai ponselmu di Korea

  • iPhone sepenuhnya aman. Negara ini berjalan di atas KakaoTalk, jadi tidak ada kuncian iOS. Pasang KakaoTalk begitu kamu mendarat.
  • Google Maps lemah di sini. Pembatasan hukum membatasi navigasi jalan kaki dan detail Google Maps di Korea. Pakai Naver Map atau KakaoMap—keduanya mendukung bahasa Inggris dan jalan di iOS maupun Android.
  • Kartu transportasi. Sejak Oktober 2025, kamu bisa menambahkan kartu transportasi T-money ke Apple Wallet. Sifatnya prabayar dan isi ulangnya dulu terbatas, tetapi sejak Maret 2026 kartu terbitan luar negeri bisa dipakai di aplikasi Mobile T-money, dan isi ulang KakaoPay ditambahkan pada Juni.
  • Jangan mengandalkan Apple Pay. Dengan Hyundai Card sebagai satu-satunya penerbit mitra, terminal contactless yang menerimanya langka. Kartu fisik, uang tunai, atau—kalau kamu bisa membuka rekening Korea—KakaoPay atau Naver Pay jauh lebih andal.
  • KakaoTalk, bukan AirDrop. Cara baku berbagi foto dan berkas dengan orang Korea adalah KakaoTalk. Tawarkan AirDrop lebih dulu dan ada 80% kemungkinan lawan bicaramu memakai Android.

Ringkasnya

Korea adalah negara dengan Galaxy sebagai bawaan. Bagi siapa pun di atas 40, itu bahkan bukan pilihan—dan alasannya, lebih dari patriotisme, adalah infrastruktur Samsung Pay dan rekaman panggilan. Pengecualiannya adalah anak 20an, terutama perempuan usia 20an, yang memilih kamera, desain, dan ekosistem perangkat. Dan cerita 2026 adalah bahwa bahkan kelompok pengecualian ini berbalik ke Galaxy begitu mereka mulai bekerja. Di Korea, merek ponsel sebagian soal selera—tetapi sebagian besar adalah penanda di titik mana kamu berada dalam hidup.

Sumber data

Pertanyaan yang sering diajukan

Merek ponsel apa yang terutama dipakai orang Korea?

Samsung Galaxy. Dalam survei Gallup Korea Juli 2026, 81% dari 1,675 pengguna smartphone berusia 13 tahun ke atas menjawab Galaxy, 19% iPhone. Galaxy mencapai 84% di kelompok 40an, 97% di kelompok 50an, dan mendekati 100% untuk usia 60 tahun ke atas.

Apakah perempuan Korea usia 20an benar-benar sebanyak itu memakai iPhone?

Ya. Pemakaian iPhone di kalangan perempuan usia 20an mencapai 67%—tertinggi di antara semua kelompok usia-gender—dua kali lipat Galaxy yang 33%. Laki-laki usia 20an: 41%, perempuan 30an: 42%, laki-laki 30an: 34%. Namun ukuran sampel perempuan usia 20an hanya 99 orang (margin of error ±10%), sehingga Gallup menyarankan agar angkanya dibaca sebagai kecenderungan alih-alih angka presisi.

Adakah kerugian memakai iPhone di Korea?

Pembayaran dan rekaman panggilan. Per Juni 2026, Apple Pay praktis masih terikat pada Hyundai Card saja, sementara Samsung Pay jalan di hampir semua terminal. Rekaman panggilan legal di Korea dan tertanam di ponsel Galaxy sebagai kebutuhan kerja. iPhone menambahkannya di iOS 18.1 tetapi pengumuman suara otomatisnya membuatnya sulit dipakai dalam konteks profesional.

Sebagai wisatawan, apakah iPhone nyaman dipakai di Korea?

Sama sekali tidak masalah. Negara ini berjalan di atas KakaoTalk, jadi tidak ada kuncian platform ala iMessage. Peta (Naver Map, KakaoMap), transportasi (T-money di Apple Wallet sejak Oktober 2025), dan pembayaran semuanya bekerja di iOS. Cuma jangan mengandalkan Apple Pay saat membayar—bawa kartu fisik atau siapkan KakaoPay sebagai cadangan.

Sedang populer di Seoul

Klook.com

Tautan afiliasi — kami mungkin memperoleh komisi tanpa biaya tambahan untukmu. Detail →