Katakan pada orang yang baru pertama kali datang ke Seoul bahwa populasi Korea sedang menyusut, dan ia mungkin tidak akan percaya. Malam Jumat di luar taman bermain Hongdae, sore Sabtu di gang-gang belakang Seongsu-dong, terowongan transfer Jalur 2 di jam sibuk — ke mana pun kamu memandang, kota ini penuh sesak manusia.
Tapi datanglah ke pasar lingkungan pada hari kerja sekitar pukul sebelas pagi, dan ceritanya mulai bergeser. Para pedagang yang duduk di bangku plastik, para pembeli dengan troli kanvasnya — kebanyakan tampak di atas enam puluh. Kereta bayi jarang terlihat. Lewatlah taman bermain kompleks apartemen dan kamu akan melihat lansia bergelantungan di alat olahraga tempat anak-anak dulu memanjat. Keluar ke daerah dan gambarannya makin jelas. Kafe cantik berjendela besar dan berlangit-langit tinggi dengan halaman sekolah yang jadi lahan parkir itu — dulu itu sekolah. Sekolah yang tutup karena anak-anaknya lenyap.
Angkanya begini.
Jawaban singkatnya
- Angka kelahiran total Korea anjlok dari 6.0 pada 1960 ke 0.72 pada 2023 — terendah yang pernah tercatat di mana pun. Semuanya terjadi dalam rentang satu umur manusia.
- Pada 2026, jumlah murid kelas satu SD adalah 298,178 — pertama kalinya angka itu turun di bawah 300,000. Sekolah yang sudah tutup: lebih dari 3,900.
- Tapi angkanya berbalik pada 2024. Angka kelahiran 2025 mencapai 0.80, dan jumlah bayi lahir mencatat lonjakan terbesar dalam 15 tahun. Pemulihan sungguhan atau fatamorgana sesaat? Perdebatannya masih terbuka.
Dari 6 ke 0.8 dalam Enam Dekade
Satu generasi lalu, pemerintah Korea punya masalah yang persis sebaliknya: populasinya tumbuh terlalu cepat.
Pada 1960-an, rata-rata perempuan Korea melahirkan enam anak sepanjang hidupnya. Pemerintah mengirim mobil van ke desa-desa untuk mengampanyekan keluarga berencana. Slogan seperti “Tak peduli anak lelaki atau perempuan — punya dua saja dan besarkan dengan baik” ditempel di bus dan tembok. Memasuki 1980-an, pesannya mengetat jadi “Dua pun terlalu banyak.” Kampanye itu berhasil. Berhasil terlalu baik.
📉 Angka Kelahiran Korea Sepanjang 60 Tahun — Bagaimana Slogannya Berubah
| Tahun | TFR | Yang Sedang Terjadi |
|---|---|---|
| 1960 | 6.0 | ”Kurangi derita — punya sedikit, besarkan dengan baik.” Era pengendalian kelahiran dimulai. |
| 1971 | 4.5 | 1.02 juta kelahiran. Korea tidak akan pernah lagi menembus angka satu juta. |
| 1983 | 2.06 | Tahun Korea turun di bawah tingkat pengganti (2.1). Toh kebijakan pengendalian kelahiran tetap berlanjut. |
| 2002 | 1.17 | Korea masuk wilayah “kelahiran sangat rendah” (di bawah 1.3). |
| 2018 | 0.98 | Negara pertama di dunia yang turun di bawah 1.0. 326,900 kelahiran. |
| 2023 | 0.72 | Titik terendah. Sekitar 230,000 kelahiran. |
| 2024 | 0.75 | Kenaikan pertama dalam sembilan tahun. |
| 2025 | 0.80 | Dua tahun kenaikan berturut-turut. Kembali di atas 0.8 untuk pertama kalinya dalam empat tahun. |
Agar populasi bertahan stabil, angka kelahiran total perlu berada di 2.1. Korea melewati garis itu ke bawah pada 1983 dan tidak pernah kembali — sekali pun tidak, selama lebih dari 40 tahun. Artinya, perubahan yang terjadi sekarang bukanlah kecelakaan mendadak. Itu akumulasi lambat dari empat dekade matematika yang akhirnya terlihat oleh mata telanjang.
Kenapa Ini Terjadi? — Tidak Ada Alasan Tunggal
Kata yang paling sering kamu dengar adalah uang dan waktu. Harga apartemen Seoul. Dan hagwon (bimbel swasta) — setelah bel sekolah berbunyi, sebagian besar anak langsung menuju bimbel, dan biayanya jadi salah satu pos terbesar dalam anggaran rumah tangga. Ditambah lagi, budaya kerja berjam-jam panjang.
Tapi variabel yang lebih langsung adalah pernikahan. Korea punya salah satu angka kelahiran di luar pernikahan terendah di OECD, jadi saat jumlah pernikahan turun, kelahiran mengikuti nyaris sempurna sejajar. Pada 2024, tercatat 178,700 pernikahan pertama — 29.8% lebih sedikit dibanding 2010 (254,600). Usia rata-rata pernikahan pertama perempuan pada 2025: 31.6. Rumah tangga satu orang kini mencakup lebih dari 36% seluruh rumah tangga.
Apa yang Benar-Benar Ditemui Pelancong
Statistik itu abstrak. Sebaliknya, akibatnya justru sangat konkret — terlihat langsung di jalanan. Habiskan beberapa hari berkeliling Korea, dan kamu hampir pasti akan berjumpa setidaknya dua atau tiga dari enam hal berikut.
Berapa Banyak Sekolah yang Sudah Tutup?
Hal pertama yang runtuh, sekaligus yang paling kasatmata, adalah sekolah. Saat kelahiran turun, dominonya butuh enam tahun untuk mencapai SD, dua belas tahun untuk SMP, enam tahun lagi untuk universitas.
Pada tahun ajaran 2026, jumlah murid kelas satu SD di Korea adalah 298,178 anak. Ini pertama kalinya sejak pencatatan dimulai bahwa angkatan masuk SD jatuh di bawah 300,000. Sebagai perbandingan: pada 1971 saja, 1.02 juta bayi lahir. Jumlah anak yang masuk SD hari ini kurang dari sepertiga generasi tersebut.
🏫 Proyeksi Populasi Usia Sekolah (6–21) — Turun 860,000 dalam 5 Tahun
| Tahun | Total Populasi Usia Sekolah | Catatan |
|---|---|---|
| 2025 | 5,131,218 | |
| 2026 | 4,833,026 | Turun di bawah angka 5 juta |
| 2027 | 4,655,267 | |
| 2028 | 4,483,013 | |
| 2029 | 4,275,022 |
Pada Maret 2026 saja, 32 sekolah lagi tutup di seluruh negeri — 26 SD, 5 SMP, dan 1 SMA. Seoul pun tidak kebal: menjelang 2028, jumlah SD dengan murid kurang dari 240 orang diproyeksikan mencapai 101 sekolah, atau 16.5% dari seluruh SD di ibu kota.
Catatan untuk Pelancong
Dalam perjalanan ke luar Seoul, sengaja mencari pyegyo café (kafe bekas sekolah) itu sepadan. Sebagian besar gedungnya dari era 1980-90an, yang berarti langit-langit tinggi dan jendela besar. Harga kopinya sekitar setengah dari yang kamu bayar di Seoul, parkir tidak pernah jadi masalah, dan pemandangan dari bekas halaman sekolahnya biasanya luar biasa. Saat mencari, pakai nama daerahnya + 폐교 카페.
Negara dengan Penuaan Tercepat di Dunia
Angka kelahiran rendah berarti lebih sedikit orang muda — dan, pada saat yang persis sama, porsi orang tua yang membengkak cepat. Pada akhir 2024, Korea resmi menjadi masyarakat super-tua, yaitu negara dengan lebih dari 20% populasi berusia 65 tahun ke atas.
Prancis butuh lebih dari 150 tahun untuk beranjak dari masyarakat menua ke masyarakat super-tua. Korea melakukannya dalam 25 tahun. Masalahnya ada pada kecepatan. Artinya masyarakat tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri.
Jurang antardaerah juga melebar. Sepanjang dekade terakhir, jumlah klinik obstetri dan ginekologi di kawasan Seoul raya naik dari 703 menjadi 779. Di luar kawasan ibu kota, jumlahnya turun dari 601 menjadi 554. Ketika tidak ada lagi rumah sakit untuk melahirkan, pasangan muda pergi. Ketika pasangan muda pergi, sekolah tutup. Ketika sekolah tutup, pasangan berikutnya tidak pernah datang sama sekali. Etalase-etalase tutup yang kamu lihat di kota-kota daerah biasanya adalah titik akhir dari urutan persis itu.
Tapi Kemudian Angkanya Berbalik — Mulai 2024
Di sinilah ceritanya berbelok sedikit. Setelah delapan tahun berturut-turut menurun, angka kelahiran memantul pada 2024, lalu naik lagi pada 2025.
Ada 254,457 kelahiran pada 2025 — 16,100 lebih banyak dari tahun sebelumnya, lonjakan sebesar 6.8%. Itu kenaikan terbesar sejak 2007. Pada kuartal pertama 2026, 75,013 bayi lahir, naik 14.8% dari periode yang sama setahun sebelumnya — kenaikan kuartalan paling tajam sejak pencatatan dimulai pada 1981.
Tiga faktor biasanya disebut. Pertama, pernikahan yang tertunda selama pandemi datang berkelompok. Kedua, kelompok besar orang kelahiran 1990-an kini berusia awal sampai pertengahan tiga puluhan, sementara menebalkan kolam orang di usia paling subur. Ketiga, kebijakan pemerintah — cuti orang tua yang diperluas, bantuan perumahan, dan subsidi tunai.
Sebagian besar analis condong ke dua faktor pertama. Kalau pemulihan ini sebagian besar soal struktur demografi, kenaikannya bisa memudar begitu kelompok kelahiran 1990-an masuk usia empat puluhan pada awal 2030-an. Skenario optimistis pemerintah memproyeksikan angka kelahiran naik kembali ke 1.0 pada 2031 — dan laju saat ini sebenarnya berjalan lebih cepat dari proyeksi itu. Siapa yang benar hanya bisa dijawab oleh beberapa tahun ke depan.
Jadi, Korea Sekarang Negara Seperti Apa?
Populasi kelahiran dalam negeri menyusut tahun demi tahun — namun total populasi sudah tumbuh tiga tahun berturut-turut. Alasannya: orang-orang berdatangan.
Pada akhir 2025, ada 2,783,247 penduduk asing di Korea, mencakup 5.44% dari total populasi. Lebih dari 1 dari 20 orang yang tinggal di Korea hari ini lahir di tempat lain. Sepuluh tahun lalu, angka seperti itu sulit dibayangkan.
🌏 Penduduk Asing menurut Kewarganegaraan (Akhir 2025)
| Peringkat | Kewarganegaraan | Porsi |
|---|---|---|
| 1 | Tiongkok (termasuk etnis Korea-Tionghoa) | 35.2% |
| 2 | Vietnam | 12.1% |
| 3 | Amerika Serikat | 6.5% |
| 4 | Thailand | 6.1% |
| 5 | Uzbekistan | 3.7% |
Kenapa semua ini penting bagi pelancong? Karena Korea hari ini adalah negara yang sedang memutuskan, secara real time, akan jadi negara seperti apa ia kelak. Tungku tandoor yang memanggang roti ala Samarkand di jalan Asia Tengah Dongdaemun, toko kelontong Indonesia di Ansan, gang sate kambing Daerim-dong — tidak satu pun dibangun sebagai atraksi wisata. Semuanya sekadar kawasan yang dibentuk oleh orang-orang yang tinggal di sana. Di tahun-tahun mendatang, jumlahnya akan bertambah.
Dan kembali ke kafe-kafe bekas sekolah itu — jendela besar, langit-langit tinggi, lahan parkir tempat anak-anak dulu berlarian saat istirahat. Itu bukan konsep desain interior yang menggemaskan. Itu wujud sebuah bangsa ketika tabel statistik diterjemahkan menjadi arsitektur. Sambil menyeruput kopimu, carilah bekas kapur yang masih terlihat di dinding, atau papan nomor ruang kelas yang lama. Biasanya, mereka membiarkannya di sana.
Sumber data
- Statistics Korea (National Data Agency), "Statistik Vital 2025: Kelahiran dan Kematian (Pendahuluan)" — Angka kelahiran total 0.80, kelahiran 254,457 (terbit Februari 2026)
- Kementerian Pendidikan, "Penutupan Sekolah 2026 menurut Daerah (SD, SMP, SMA Negeri & Swasta)" dan proyeksi populasi usia sekolah — Murid kelas satu 298,178, 32 sekolah tutup pada Maret 2026
- Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan, Statistik Populasi Registrasi Penduduk — Porsi 65+ 20.7% (November 2025), penetapan masyarakat super-tua
- Kementerian Kehakiman, Statistik Kebijakan Imigrasi dan Orang Asing — Penduduk asing 2,783,247, 5.44% dari total populasi (per 31 Desember 2025)
- Korea Employment Information Service, Indeks Risiko Kepunahan — 141 dari 229 kota dan kabupaten berisiko punah (Juni 2026)
- Health Insurance Review & Assessment Service, Statistik Institusi Medis — Jumlah klinik obstetri dan ginekologi, kawasan ibu kota vs. luar ibu kota (2016–2025)
- Pemerintah Kota Seoul, Registrasi Penduduk — 9,289,813 (Juni 2026)
- Arsip Nasional Korea, "Menemui Korea Lewat Arsip — Keluarga Berencana" — Kebijakan dan slogan pengendalian kelahiran, 1960-1980an