Tanyakan kepada pria Korea usia 20-an atau 30-an “kamu lagi pakai apa akhir-akhir ini?” dan jawabannya berubah tiap musim. Tulisan ini adalah potret berbasis data tentang apa yang benar-benar berputar di lemari mereka — bukan hype, bukan siaran pers merek. Sumbernya Laporan Tren Akhir Tahun 2025 Musinsa (16 juta anggota, Januari–Desember 2025) dan pemantauan industri, untuk memetakan merek fesyen mana yang benar-benar dibelanjakan pria Korea usia 20-an dan 30-an, dipilah per segmen dan rentang harga.
Sekilas
- Pria usia 20-an hidup di streetwear lokal dan item harian: Musinsa Standard, Thisisneverthat, Covernat, Insilence.
- Menjelang 30, pusat gravitasinya bergeser ke merek contemporary dan heritage kelas pemula: Maison Kitsuné, AMI, A.P.C., Barbour, Stone Island.
- Kata kunci 2026: workwear, running-core, poet-core, comfort classic, dan gasimbi — seni membelanjakan uang demi kepuasan psikologis, bukan sekadar demi harga.
Merek apa yang sebenarnya dipakai pria Korea usia 20-an dan 30-an pada 2026?
Satu kalimat: yang berusia 20-an condong ke streetwear lokal dan label kasual harian, sementara yang berusia 30-an berpindah ke merek contemporary dan heritage kelas pemula. Kira-kira begini peta rentang harganya:
| Segmen | Merek Utama | Kelompok Usia Inti | Perkiraan Harga (atasan, USD) |
|---|---|---|---|
| Basic & Value | Musinsa Standard, Uniqlo, SPAO | Awal 20-an | $15 – $40 |
| Street & Harian Korea | Thisisneverthat, Covernat, Codegraphy (CGP), Insilence, Filluminate | 20-an – awal 30-an | $40 – $115 |
| Outdoor & Performa | The North Face, Salomon, Nike (running) | Semua usia | $75 – $230 |
| Contemporary & High-End Pemula | Maison Kitsuné, AMI, A.P.C., Comme des Garçons | 30-an | $115 – $385 |
| Heritage & Premium | Barbour, Stone Island, Polo Ralph Lauren | 30-an | $230+ |
Apa yang diungkap data Musinsa 2025–2026 soal belanja pria?
Laporan Tren Akhir Tahun 2025 Musinsa (1 Januari–12 Desember 2025, berbasis data aktivitas anggota) adalah potret sumber tunggal paling tepercaya tentang konsumsi fesyen Korea. Angka-angka utamanya:
| Metrik | Angka |
|---|---|
| Anggota kumulatif | 16 juta+ (1.64 juta baru pada 2025) |
| Item yang bertransaksi | 83 juta |
| Pencarian kumulatif | 425 juta |
| Penjualan sepatu lari | ~82.9% naik dibanding tahun sebelumnya |
| Total alas kaki terjual | 6.6 juta pasang (SKU tunggal teratas: Nike Air Force 1 White, 55,600 pasang) |
| Penjualan parfum | ~24% naik dibanding tahun sebelumnya |
Di seluruh kategori menswear, mood workwear mendominasi. Cowok usia belasan dan 20-an condong ke celana denim lebar dengan detail wash tebal, sementara pria 30-an tertarik pada sepatu derby — serbaguna, desainnya minim, mudah dinaikkan atau diturunkan gayanya. Dalam peringkat merek bulanan Desember, Musinsa Standard bertahan di #1 dan The North Face di #2, dengan permintaan outerwear musim dingin memberi merek outdoor lonjakan tahunannya.
Merek street dan harian lokal mana yang benar-benar dipakai pria Korea usia 20-an?
Inti lemari cowok 20-an di Korea dibangun di atas label street dan kasual lokal yang terjangkau dengan value-for-money solid. Inilah nama-nama yang terus muncul dalam data akhir tahun Musinsa:
| Merek | Aura | Posisi |
|---|---|---|
| Musinsa Standard | Basic minimal | Raja volume — kualitas andal dengan harga terjangkau |
| Thisisneverthat | Street | Wajah streetwear Korea, kuat di grafis dan permainan logo |
| Covernat | Kasual street | Lama identik dengan citra cowok 20-an, kini memperluas basisnya |
| Insilence | Minimal · unik | Nuansa kalem, semi-contemporary |
| Codegraphy (CGP), Filluminate, Dmtry Black | Street | Streetwear harian bersiluet gampang tanpa harga mengada-ada |
Merek contemporary dan heritage apa yang dituju pria Korea saat memasuki usia 30-an?
Usia 30-an adalah zona belok — masa ketika streetwear lokal mulai memberi jalan kepada label contemporary dan heritage. Sebuah kalimat yang berulang kali terdengar di forum fesyen Korea: “Di usia 20-an, kamu memakai basic SPA dengan sesekali statement piece high-end. Di usia 30-an, kamu membangun ulang lemari dengan item yang dibuat baik, berbahan dan berpotongan lebih bagus.”
| Arah | Merek Utama | Yang Mendefinisikannya |
|---|---|---|
| High-end pemula (logo casual) | Maison Kitsuné, AMI, A.P.C. | Rentang harga antara luxury dan kasual standar. Logo rubah dan hati Ami de Cœur adalah pintu masuknya |
| Outerwear heritage | Barbour, Stone Island | Narasi dan kekhususan merek jadi penting. Jaket wax yang kamu wax ulang — ritual kepemilikan adalah bagian dari daya tariknya |
| Basic minimal berbasis bahan | COS, Uniqlo U, Portery | Potongan dan kain di atas branding. Ini jalur quiet luxury |
Label heritage Inggris Barbour, khususnya, melonjak di kalangan pria Korea usia 20-an dan 30-an beberapa tahun terakhir. Daya tariknya bukan sekadar jaketnya — melainkan seluruh siklusnya: membeli jaket wax, sesekali mem-wax ulang, dan memperlakukan proses perawatan sebagai bagian dari nilai produk. Konsumsi sebagai proyek kecil yang memuaskan.
Apa kata kunci yang mendefinisikan menswear Korea pada 2026?
Arus yang mengalir di bawah semua pilihan merek itu mengerucut jadi lima kata kunci:
- Workwear. Chore jacket, celana kerja, sepatu derby — item berdarah pekerja kerah biru jadi benang paling kuat di seluruh kategori menswear. Bukan sampai level kostum, cukup punya DNA utilitas supaya terasa membumi.
- Running-core / Gorpcore. Alas kaki performa dan item fungsional yang dipakai sebagai busana sehari-hari. Penjualan sepatu lari Musinsa: +82.9% dibanding tahun sebelumnya. Ini menyambung dengan ledakan hiking dan aktivitas luar ruang di kalangan orang Korea usia 20-an dan 30-an — perlengkapan outdoor sudah sepenuhnya jadi busana harian.
- Poet-core. Nuansa liris yang berdekatan dengan prep dan sedikit acak-acakan, dibangun dari kemeja bergaris, dasi yang dipakai longgar, dan celana cargo pendek — disebut Esquire Korea sebagai tren menswear S/S 2026 yang menentukan. Bayangkan sensibilitas seragam sekolah, tapi kancingnya terbuka dan santai.
- Comfort Classic. Item menswear klasik yang sengaja dilonggarkan: celana cargo alih-alih slacks, sepatu desert suede alih-alih Oxford. Ini tailoring yang dikuras kekakuannya — versi 2026 dari “berpakaian rapi” yang tidak terasa seperti berdandan.
- Konsumsi gasimbi. Gabungan kata Korea yang memadukan “harga” dan “kepuasan psikologis.” Istilah ini menggambarkan pola pikir membeli lebih sedikit barang tetapi lebih dipikirkan — item yang terasa persis sesuai selera, meski label harganya lebih tinggi daripada alternatif yang secara fungsi setara. Pada 2026, individualitas dan niat desain mulai mengalahkan sensitivitas harga murni di kalangan pembelanja pria.
Apa bedanya tren menswear Korea dengan yang terjadi di AS dan Jepang?
Data toko global Musinsa memperlihatkan perbedaan selera antarnegara yang jelas. Jepang condong kuat ke sensibilitas street; AS menyukai siluet oversized yang longgar. Korea mengukir ruang ketiga: item yang relatif basic tetapi diangkat lewat perbedaan halus pada bahan, potongan, dan detail. Pembelanja pria Korea usia 20-an sampai 30-an tidak mengejar desain yang berisik — ia mengejar item basic yang terkalibrasi sempurna. Satu wawasan itu menjelaskan dominasi tenang merek seperti Musinsa Standard, COS, dan Uniqlo U: mereka tidak berteriak, tetapi pas dengan cara cowok Korea ingin terlihat.
Sumber data
- Laporan Tren Musinsa 2025 (Musinsa)
- K-Fashion dalam Data — Laporan Akhir Tahun 2025 Musinsa (Economy Tribune)
- Peringkat Bulanan: Merek Terlaris Desember (Musinsa)
- Merek Paling Dicintai Tahun Ini — Top 15 (Musinsa)
- Industri Fesyen Merayu Pria 20-an dan 30-an lewat Strategi ‘Gasimbi’ (Women Times)
- Tren Menswear Spring/Summer 2026 (Esquire Korea)
- Pasar Contemporary Pria yang Meluas: Persaingan Merek Lokal vs Impor (Apparel News)