Sebut Seongsu dan yang pertama dibicarakan orang pasti kafe. Padahal kawasan ini sudah memberi makan orang jauh sebelum flat white pertama tiba. Warung iga babi yang mengenyangkan penonton pacuan kuda, kedai budae-jjigae yang jadi makan siang buruh pabrik sepatu, pasangan lansia yang masih menumis usus di dalam Pasar Ttukdo — mereka semua masih di sana, di titik yang sama, puluhan tahun kemudian. Dan 10 menit berjalan kaki dari gang-gang itu, kamu akan menemukan ruang makan era 2020-an yang cuma bisa dipesan lewat aplikasi. Ini daftar 12 tempat makan, dibelah tepat di tengah menurut tahun buka — dua Seongsu, satu kawasan.

Jawaban singkatnya

  • Seongsu lawas berkumpul di sekitar Gang Iga Babi di selatan Seoul Forest dan Pasar Ttukdo. Suwon Wonjo Galbi, buka sejak 1975, adalah sesepuh gang itu — porsi murah hati, sekitar ₩10,000 per kepala.
  • Seongsu kekinian hidup di sepanjang Yeonmujang-gil, Sangwon-gil, dan Seoul Forest-gil. Italia, masakan rumahan Jepang, dan natural wine jadi daya tariknya, dengan harga ₩20,000–₩30,000 per orang. Reservasi atau daftar tunggu sudah jadi bagian dari paketnya.
  • Dua zona itu terpisah 10–15 menit jalan kaki. Lawas untuk makan siang, kekinian untuk makan malam (atau sebaliknya) — mencampur keduanya dalam sehari adalah cara paling cerdas menikmati Seongsu.

Kenapa Warung Lawas dan Restoran Kekinian Bisa Hidup Berdampingan di Satu Kawasan Seoul?

Peta kuliner Seongsu melacak persis dari apa kawasan ini hidup. Ketika pacuan kuda dibuka di Ttukseom pada 1954, orang-orang mengikutinya. Sejak 1960-an, pabrik sepatu, logam, dan percetakan masuk, lalu tumbuhlah kancah makanan kelas pekerja di sekelilingnya. Teori paling kuat di balik Gang Iga Babi? Pelanggan pacuan kuda. Pemilik Suwon Wonjo Galbi — yang buka pada 1975 — bercerita kepada majalah Pemerintah Kota Seoul bahwa “pengunjung pacuan kuda mulai mampir untuk mengisi perut.”

Pacuan kuda pindah ke Gwacheon pada 1989. Pada 2005, Seoul Forest dibuka di lahan itu. Sepanjang 2010-an, gedung pabrik tua berlangit-langit tinggi lahir kembali sebagai kafe dan concept store, lalu terbentuklah Seongsu yang kita kenal sekarang. Karena itu, dalam radius satu kilometer, kamu masih menemukan kantin era pabrik berdampingan dengan ruang makan era pop-up. Jarang ada kawasan Seoul yang dua lapisan sejarahnya berhimpitan sedekat ini.

1954
Pacuan Kuda Ttukseom dibuka — asal-usul Gang Iga Babi
1975
Suwon Wonjo Galbi buka — restoran tertua di gang itu
1989
Pacuan kuda pindah ke Gwacheon — pergeseran komersial pertama
2005
Seoul Forest dibuka — titik awal Seongsu masa kini

Bagaimana kami memilah 12 tempat ini

12 restoran di bawah dipilah menurut tahun buka menjadi 6 lawas (buka 1970-an–1990-an) dan 6 kekinian (buka sejak akhir 2010-an). Tahunnya diperiksa silang dengan terbitan Pemerintah Kota Seoul, laporan media, dan data usaha publik. Jika tahun pastinya tak bisa dipastikan, kami menandainya "kira-kira". Harga mengacu pada menu yang dipublikasikan — selalu cek ulang pada hari kamu datang.


Bagian 1. Seongsu Lawas — 6 Warung Warisan dari Era Pabrik

Sisi ini berjalan di atas dua kata kunci: meja pinggir jalan (meja digelar di depan toko, ritual jajanan jalanan khas Korea) dan Pasar Ttukdo. Sebagian besar ramah uang tunai dan walk-in saja. Antrean mulai terbentuk setelah pukul 5–6 sore.

🔥
Suwon Wonjo Galbi
Buka 1975. Sesepuh Gang Iga Babi. Bermula dari pelanggan pacuan kuda.
🍲
Famous Seongsu Gamjatang
Buka 1983. Buka 24 jam, 365 hari. Gamjatang, sup pereda mabuk, sujebi.
🥘
Yeongsu Bunsik
Di dalam Pasar Ttukdo (Cheongchun). Kedai usus tumis milik pasangan lansia, 40+ tahun.
🍜
Jjinjja Sotttukkeong
Papan namanya bilang pork belly. Tapi penggemar fanatiknya datang untuk budae-jjigae — makan siang buruh pabrik selama 30+ tahun.

🏆 6 Warung Lawas Seongsu & Seoul Forest — Menurut Tahun Buka

#RestoranBuka (perk.)Menu AndalanKisaran HargaLokasi
1Suwon Wonjo Galbi1975Iga babi~₩10,000/orangGang Iga Babi
2Famous Seongsu Gamjatang1983Gamjatang, sup pereda mabuk~₩10,000/orang5 menit jalan dari Stasiun Seongsu Pintu 4
3Yeongsu Bunsik~40+ tahunUsus tumis, babi panggang arang~₩11,000–12,000Pasar Ttukdo Cheongchun
4Jjinjja Sotttukkeong~30+ tahunBudae-jjigae, baekbanDi bawah ₩10,000Gang Seongsu-dong 2-ga
5OegajipGenerasi ke-2Daging perut babi, pipi babiKisaran ~₩10,000Seongsu-dong 2-ga, meja pinggir jalan
6Ttukseom Charcoal Galbi~30 tahunIga babi, naengmyeonKisaran ~₩10,000Gang Iga Babi

1. Suwon Wonjo Galbi — Tempat Gang Itu Bermula (1975)

Restoran tertua di Gang Iga Babi Seongsu. Ketika majalah Pemerintah Kota Seoul, Seoul Love, mengulas sejarah gang ini, tempat inilah yang bersaksi tentang bagaimana semuanya bermula. Gaya khasnya: porsi murah hati dan gula yang ditahan — galbi di sini tidak semanis gaya glasir Seoul pada umumnya. Satu pesanan biasanya datang sebagai nampan berisi tiga porsi, campuran potongan bertulang, dipanggang bersih dan gurih. Rantai pasok dagingnya lewat Pasar Ternak Majang yang dekat, jadi rasio porsi terhadap harga terasa ramah. Gang Iga Babi Seongsu-dong · Hanya malam · Bisa dijangkau jalan kaki dari Stasiun Seoul Forest & Ttukseom

📍 Buka di Naver Map

2. Famous Seongsu Gamjatang — Markas Pereda Mabuk 24 Jam di Seongsu (1983)

Institusi gamjatang (sup tulang babi) yang bertahan di titik yang sama sejak 1983. Kini ia mengisi seluruh lantai dasar gedung tiga lantai plus bangunan tambahan, buka 24 jam sehari, 365 hari setahun — artinya rombongan pereda mabuk subuh dan geng minum larut malam berpapasan di ruangan yang sama. Gamjatang dan sup pereda mabuk jadi jangkarnya; tambahan sujebi (adonan sobek tangan) sudah legendaris. Kalau kamu lupa waktu karena keliling kafe dan melewatkan jam makan normal, ini rencana cadangan paling bisa diandalkan di Seongsu. Lima menit jalan kaki dari Stasiun Seongsu Pintu 4. Buka 24 jam, 365 hari · 5 menit jalan dari Stasiun Seongsu Pintu 4 · Bisa ada daftar tunggu 📍 Buka di Naver Map

3. Yeongsu Bunsik — Usus Tumis Pasangan Lansia di Dalam Pasar Ttukdo (~40+ Tahun)

Terselip di dalam Pasar Ttukdo (Cheongchun), dekat Stasiun Seongsu Pintu 3. Sepasang lansia sudah menjalankan tempat ini lebih dari 40 tahun. Namanya memang “bunsik” (kedai jajanan), tapi sejatinya ini kedai teman minum. Bintang utamanya usus tumis, ditopang pork belly panggang arang, ceker ayam, dan cumi tumis. Banchan-nya termasuk sepotong kecil pancake — pajeon atau kimchijeon — dan setiap menu bisa dipesan satu porsi, jadi mengejutkan betapa ramahnya tempat ini buat yang makan sendirian. Siapkan diri untuk atmosfer pasar yang khas: orang-orang menemani makan siang mereka dengan sebotol bir. Di dalam Pasar Ttukdo Cheongchun · Tutup Minggu · Usus tumis, babi arang ~₩11,000–12,000 (berdasarkan liputan 2021)

📍 Buka di Naver Map

4. Jjinjja Sotttukkeong — Saat Bintangnya Bukan yang Tertulis di Papan Nama (~30+ Tahun)

Tempat sederhana di gang belakang Seongsu yang tenang. Papan namanya mengiklankan pork belly panggang di atas tutup kuali, tapi menu yang membangun reputasinya adalah budae-jjigae — sup tentara gaya lama, tanpa taburan keju, hanya kimchi yang benar-benar terfermentasi, ham, dan daun bawang direbus bersama. Selama lebih dari 30 tahun, inilah makan siang para buruh pabrik di blok sekitarnya. Sampai pukul 2 siang, kamu bisa memesannya sebagai baekban (set nasi). Sedikit tempat di Seongsu yang menjaga budaya makan era industri kawasan ini sesetia tempat ini. Tutup Minggu · Baekban hanya sampai pukul 2 siang · Budae-jjigae di bawah ₩10,000

📍 Buka di Naver Map

5. Oegajip — Daging Perut Babi Panggang Briket dan Meja Pinggir Jalan (Generasi ke-2)

Inilah kedai daging lawas yang benar-benar disebut warga lokal Seongsu. Kini dijalankan generasi kedua, fokusnya pada daging perut, pipi, dan kulit babi, semuanya dipanggang di atas briket arang. Meja-meja yang digelar di depan toko menyegel suasana kampung lama. Salad daun bawang iris manis-asam dan kimchi-mari guksu (mi dingin dalam kuah kimchi) yang dingin menggigit jadi penutup favorit para penggemar. Siapkan diri untuk antre 30 menit bahkan pada malam hari kerja — rencanakan sesuai itu. Hanya buka malam. Buka malam hari kerja & Sabtu, tutup Minggu · Daging perut & pipi babi kisaran ~₩10,000 · Sering antre 📍 Buka di Naver Map

6. Ttukseom Charcoal Galbi — Pilar Gang Iga Babi di Sisi Seoul Forest (~30 Tahun)

Jangkar lama Gang Iga Babi dekat Seoul Forest. Interiornya mencampur lesehan dengan meja biasa, potongan galbi-nya tebal, dan bumbunya ditahan — bukan glasir manis yang mungkin kamu bayangkan. Dapurnya memanggang setengah matang iga bermarinasi sebelum sampai ke mejamu, jadi kamu bisa langsung makan begitu duduk. Setelah pukul 5 sore, antrean terbentuk. Untuk rute jalan kaki terpendek dari jalan-jalan sore di Seoul Forest menuju makan malam, inilah pilihan terbaikmu. Gang Iga Babi · Antre saat malam · Iga babi kisaran ~₩10,000, naengmyeon terpisah 📍 Buka di Naver Map

Tips untuk zona lawas

  • Gang Iga Babi baru hidup saat senja. Datang siang hari dan separuh tempatnya masih tertutup.
  • Galbi di gang ini biasanya datang sebagai nampan berisi tiga porsi. Untuk dua orang, satu nampan umumnya cukup.
  • Banyak yang tutup pada hari Minggu (Yeongsu Bunsik, Jjinjja, Oegajip). Di hari Minggu, Famous Seongsu Gamjatang yang buka 24 jam adalah jaring pengamanmu.
  • Sebagian besar tempat lawas menerima kartu, tapi membawa sedikit uang tunai membuat hidup lebih mudah. Beberapa punya toilet bersama di luar toko.

Bagian 2. Seongsu Kekinian — 6 Tempat Makan yang Lahir di Era Pop-Up

Sisi ini tersebar di sepanjang Yeonmujang-gil, Sangwon-gil, dan Seoul Forest-gil. Banyak yang bisa dipesan lewat aplikasi reservasi. Jam istirahat dan tutup hari Senin adalah hal biasa. Siapkan ₩20,000–₩30,000 per orang.

🍕
Darobe
Daftar tunggu pizza tungku kayu nomor 1 di Seongsu. Antre 1–2 jam di akhir pekan itu wajar.
🍝
Numerodos
Italia terjangkau. Bebas corkage. Merek asli Seongsu dengan tiga cabang.
🍱
Hoho Sikdang
Masakan rumahan Jepang di Seoul Forest 4-gil. Blue Ribbon 6 tahun berturut-turut.
🍷
Archi
Brunch di siang hari, bar natural wine di malam hari. Fusion Prancis.

🍽️ 6 Tempat Makan Kekinian Seongsu & Seoul Forest — Panduan Reservasi & Antrean

#RestoranGenreAndalanReservasi / AntreCatatan
1DarobePizza tungku kayuPizza, pastaSistem antre, 1–2 jam akhir pekanTutup Senin
2NumerodosItaliaCarbonara, MargheritaBerbasis walk-inBebas corkage
3Hoho SikdangRumahan JepangSake-don, tonkatsu, omuriceDaftar tungguBlue Ribbon 6 tahun beruntun
4ArchiFusion PrancisNapolitain, brunch, natural wineReservasi disarankanTutup Senin
5IzzaItaliaPizza, pastaReservasi CatchTableRamai saat malam
6Sketch Table SeongsuItaliaPizza andalan, vongoleReservasi disarankanRamah anak

1. Darobe — Simbol Antrean Seongsu (Pizza Tungku Kayu)

Kedai pizza tungku kayu di Seongsu-dong 1-ga, dekat Stasiun Ttukseom. Tempat ini luas dianggap punya antrean terpanjang di Seongsu — 1 sampai 2 jam pada akhir pekan adalah patokannya. Ada jam istirahat dari pukul 3 sampai 5 sore, jadi satu-satunya trik nyata adalah membidik tepat saat buka (11:30) atau tepat setelah jam istirahat (17:00). Tutup Senin. 685-208 Seongsu-dong 1-ga, Seongdong-gu, Seoul · 11:30–21:30 (istirahat 15:00–17:00, last order 20:00) · Tutup Senin 📍 Buka di Naver Map

2. Numerodos — Italia Terjangkau yang Tumbuh di Seongsu

Tempat Italia kasual di Sangwon 1-gil. Bermula tepat di kawasan ini dan kini punya tiga cabang (yang ketiga bernama Numerotres) — merek asli Seongsu sungguhan. Harganya terasa jelas ditahan untuk kategori kekinian. Berdasarkan menu yang dipajang: carbonara ₩18,000, Margherita ₩19,000, amatriciana ₩19,000, pizza mascarpone ₩20,000, risotto porcini ₩20,000, scoglio ₩23,000. Tempat ini bebas corkage, jadi bawa saja botolmu sendiri. 35-9 Sangwon 1-gil, Seongdong-gu, Seoul · 11:00–21:00 · Bebas corkage

📍 Buka di Naver Map

3. Hoho Sikdang — Masakan Rumahan Jepang di Sisi Seoul Forest

Kedai masakan rumahan Jepang di Seoul Forest 4-gil. Sake-don (nasi mangkuk salmon), tonkatsu, dan omurice jadi jangkar menunya, dan panduan Blue Ribbon sudah mengakuinya enam tahun berturut-turut. Ia salah satu pendatang kekinian paling awal yang berakar di Seongsu, dan meski kini sudah tumbuh jadi merek multi-cabang, gerai Seoul Forest tetap jadi tolok ukurnya. Jam istirahatnya panjang (14:40–17:00), jadi hindari jendela makan siang yang terlalu sore. 25 Seoul Forest 4-gil, Seongdong-gu, Seoul · 11:00–21:50 (istirahat 14:40–17:00) 📍 Buka di Naver Map

4. Archi — Brunch di Siang Hari, Natural Wine di Malam Hari

Dibuka dekat Seoul Forest oleh chef Kim Hyun-woo, yang juga menjalankan restoran masakan rumahan Jepang Mesiya. Ini fusion Prancis yang berganti mode: brunch di siang hari, bar natural wine di malam hari, dengan napolitain sebagai piring andalannya. Dapurnya bangga membuat saus berbasis kaldu dari nol, yang menempatkan Archi di sisi yang lebih ramah lambung dalam kancah dining kekinian Seongsu. Jalan kaki dari Seoul Forest ke meja malam di sini terasa pas dan singkat. Seongsu-dong 1-ga, Seongdong-gu, Seoul · 11:00–22:00 (istirahat 15:30–16:30) · Tutup Senin 📍 Buka di Naver Map

5. Izza — Tempat Italia yang Benar-Benar Bisa Dipesan

Restoran Italia di Seongsu yang menerima reservasi lewat CatchTable. Di kawasan yang identik dengan antrean walk-in, kemampuan mengunci meja lebih dulu adalah nilai jual terbesarnya. Slot malam terisi sangat cepat, jadi pesan beberapa hari sebelumnya. Kawasan Yeonmujang-gil, Seongsu · Reservasi CatchTable · Ramai saat malam

📍 Buka di Naver Map

6. Sketch Table Seongsu — Saat Rombonganmu Campur Segala Usia

Tempat Italia yang dibangun di sekitar pizza andalan dan vongole. Di antara ruang makan kekinian Seongsu, yang satu ini punya jarak antarmeja dan keluwesan menu yang menjadikannya pilihan aman saat membawa anak atau orang tua. Ketika kamu membawa pengunjung Seongsu pemula dari berbagai usia, tingkat kegagalannya rendah di sini. Kawasan Seongsu · Reservasi disarankan · Fokus pizza & pasta

📍 Buka di Naver Map


Cara Mencampur yang Lawas dan yang Baru dalam Satu Hari

Kombinasi paling efisien: jalan-jalan pagi di Seoul Forest → kekinian untuk makan siang (Hoho Sikdang atau Archi, 5 menit jalan dari Seoul Forest-gil) → kafe dan pop-up di Yeonmujang-gil pada sore hari → lawas untuk makan malam (Gang Iga Babi, 10 menit jalan ke arah Stasiun Ttukseom). Tempat kekinian punya jam istirahat panjang, jadi mereka pas secara alami untuk makan siang. Tempat lawas baru hidup saat malam. Waktunya jatuh pada tempatnya sendiri.

⚖️ Zona Lawas vs Zona Kekinian: Berdampingan

Zona LawasZona Kekinian
LokasiGang Iga Babi, Pasar Ttukdo (Cheongchun)Yeonmujang-gil, Sangwon-gil, Seoul Forest-gil
Tahun buka1970-an–1990-anAkhir 2010-an ke atas
Budget/orang~₩10,000₩20,000–₩30,000
ReservasiUmumnya walk-in sajaCatchTable & aplikasi reservasi
Jam ramaiSetelah pukul 5 soreMakan siang & makan malam
TutupBanyak tutup MingguBanyak tutup Senin
PembayaranKartu diterima, tunai bergunaKartu & pembayaran digital

Tips makan di Seongsu yang benar-benar terpakai

  • Pilih pintu keluar subway lebih dulu. Stasiun Seongsu (Jalur 2) Pintu 3 dan 4 mengarah ke Pasar Ttukdo dan zona gamjatang. Stasiun Seoul Forest (Jalur Suin–Bundang) menaruhmu lebih dekat ke dining kekinian dan taman.
  • Jam istirahat adalah jebakan Seongsu. Banyak tempat kekinian tutup kira-kira pukul 3 sampai 5 sore. Jendela itu adalah isyaratmu untuk pindah ke kafe — praktis sudah jadi irama lokal.
  • Jangan mengandalkan parkir. Ini distrik gang bekas pabrik dan gudang. Parkir khusus nyaris tidak ada.
  • Perputarannya cepat. Seongsu punya salah satu kancah kuliner paling cepat berubah di Seoul. Selalu cek ulang di Naver Map pada hari kamu datang untuk memastikan tempatnya masih buka.

Pertanyaan yang sering muncul soal makan di Seongsu

T. Bisakah makan sendirian? Di sisi lawas, tempat seperti Yeongsu Bunsik membolehkanmu memesan satu porsi, jadi makan sendiri sangat mungkin. Famous Seongsu Gamjatang buka 24 jam dan terasa santai buat satu orang. Untuk tempat panggangan (Oegajip, kedai-kedai Gang Iga Babi), standarnya nampan tiga porsi, jadi dua orang atau lebih lebih cocok.

T. Ada pilihan vegetarian atau halal? Daftar ini sebagian besar berpusat pada daging, jadi pilihan vegetarian dan halal terbatas. Tempat Italia kekinian mungkin punya menu tanpa daging seperti Margherita atau risotto porcini, tapi kamu perlu bertanya langsung ke restoran soal kaldu, keju, dan bahan lainnya.

T. Bagaimana kalau harga tempat lawas tak sesuai panduan ini? Harga tempat lawas sebagian besar mengacu pada laporan media terakhir. Harganya kemungkinan sudah naik mengikuti inflasi, jadi perlakukan kisaran harga di artikel ini sebagai titik acuan kasar. Kami berencana memperbarui harga setelah verifikasi lapangan.

Sumber data

Harga dan jam buka mengacu pada informasi yang tersedia publik dan dapat berubah. Kami berencana memperbaruinya setelah verifikasi di lapangan.

Sedang populer di Seoul

Klook.com

Tautan afiliasi — kami bisa memperoleh komisi tanpa menambah biayamu. Selengkapnya →