Keluarlah dari Pintu Keluar 3 Stasiun Itaewon dan mulailah mendaki bukit. Di suatu titik di perjalanan — kamu akan merasakannya sebelum bisa menamainya — bunyi jalanan berubah. Papan klub dan kedai burger tertinggal di belakang. Papan nama berbahasa Arab dan Urdu mulai bermunculan, satu toko demi satu toko. Etalase tukang daging memasang stiker halal berwarna hijau. Lalu, di puncak bukit, sebuah kubah biru menjulang ke langit.
Masjid Pusat Seoul. Dibuka pada 1976, ini masjid Islam pertama dan terbesar di Korea. Banyak orang tahu ada bangunan seperti ini di tengah Seoul. Anehnya, sedikit sekali yang benar-benar pernah melangkah masuk — sebagian besar karena mereka tidak yakin apakah boleh. Jawaban singkatnya: boleh.
Jawaban singkatnya
- Lokasi — Sekitar 500 meter mendaki dari Pintu Keluar 3 Stasiun Itaewon (Jalur 6), 10 menit jalan kaki. Alamatnya secara teknis Hannam-dong, bukan Itaewon-dong.
- Masuk — Gratis · non-Muslim dipersilakan · tanpa reservasi. Tapi tidak boleh celana pendek, atasan tanpa lengan, atau rok pendek. Alkohol, produk babi, dan hewan peliharaan dilarang.
- Yang dilihat — Kubah yang berubah dari putih jadi biru pada Januari 2025, kaligrafi langit-langit ruang salat yang baru dilukis pengrajin Turki, dan pemandangan ke arah Sungai Han dari puncak bukit.
- Konteks — Korea menjadi rumah bagi 250,000–300,000 Muslim, termasuk sekitar 60,000 mualaf Korea. Bangunan ini adalah markas komunitas mereka.
Kenapa masjid ini justru berada di bukit di Itaewon?
Minyak. Lebih tepatnya, ledakan proyek konstruksi Timur Tengah pada 1970-an dan krisis minyak yang menyertainya.
Pada awal 1970-an, perusahaan konstruksi Korea membanjiri lokasi proyek di Arab Saudi dan Libya. Bagi pemerintah, hubungan dengan negara-negara Timur Tengah berarti devisa dan keamanan energi — dan mereka butuh sesuatu yang menandai hubungan itu secara konkret. Jawabannya: “Mari kita bangun masjid yang layak di Seoul.” Pemerintah menyediakan tanahnya. Sebagian besar biaya konstruksi ditanggung Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Pembangunan dimulai pada Oktober 1974. Masjidnya dibuka pada 21 Mei 1976. Tujuh belas negara — termasuk Arab Saudi, Libya, dan Kuwait — mengirim delegasi ke upacara pembukaannya. Suasananya lebih mirip pertemuan diplomatik ketimbang peresmian rumah ibadah.
Muslim sudah ada di sini jauh sebelum masjidnya
Islam di Korea berakar pada Perang Korea. Brigade Turki yang dikerahkan sebagai bagian dari pasukan PBB membawa serta para imam, dan selama serta setelah perang, merekalah yang memperkenalkan Islam kepada orang Korea. Pada September 1955, sekitar 70 orang beriman berkumpul di kawasan Dongdaemun, Seoul, untuk membentuk Korea Muslim Federation — titik awal resminya. Presiden pertamanya adalah Umar Kim Jin-gyu. Selama lebih dari dua dekade sebelum masjidnya dibangun, mereka berpindah-pindah antara ruang salat darurat di berbagai penjuru kota. Ketika masjid itu akhirnya membuka pintunya, jumlah Muslim di seluruh negeri kurang dari 3,000 orang.
Boleh masuk? Apa yang perlu diperhatikan?
Ya, boleh. Tanpa biaya masuk. Tanpa reservasi wajib. Cuma ingat: ini bukan objek wisata. Ini fasilitas keagamaan aktif tempat salat digelar lima kali sehari. Korea Muslim Federation memasang panduan di dekat gerbang utama. Berikut isinya, diterjemahkan ke hal-hal praktis.
🕌 Masjid Pusat Seoul — panduan pengunjung (berdasarkan papan pengumuman)
| Aturan | Kebijakan resmi | Praktiknya |
|---|---|---|
| Biaya masuk | Gratis | Ada kotak donasi, tapi tak ada yang akan menekanmu |
| Aturan busana | Tidak boleh celana pendek, atasan tanpa lengan, jeans sobek, rok pendek, atau atasan berpotongan rendah | Gampang keliru saat musim panas. Bawa celana panjang tipis dan kemeja lengan panjang |
| Penutup kepala perempuan | Wajib saat masuk ruang salat | Selendang dan jubah pinjaman tersedia di area ganti di samping pos keamanan |
| Barang terlarang | Alkohol, makanan mengandung babi, hewan peliharaan | Ya, roti sosis di kantong belanja minimarketmu termasuk |
| Ruang salat | Boleh melihat-lihat, tapi bagian dalamnya butuh izin lebih dulu | Sebelum 2010, kamu bisa langsung menghampiri mihrab. Sekarang perlu diatur dulu |
| Fotografi | Bagian luar dan halaman: boleh. Memotret orang saat salat: tidak boleh | Mengganggu ibadah bisa berkonsekuensi hukum |
| Alas kaki | Lepas di pintu ruang salat | Rak sepatu tersedia. Pakai kaus kaki — lebih nyaman |
Yang benar-benar bikin orang tersandung di kunjungan pertama
- Celana pendek musim panas. Kalau kamu naik ke sini dengan pakaian ala jalan-jalan di Itaewon, kamu akan meminjam jubah di gerbang. Mereka memang meminjamkannya, tapi kalau kamu berencana lebih dulu, berpakaianlah sesuai.
- Datang saat waktu salat. Begitu salat dimulai, ruang salat adalah milik jemaah. Tunggu di halaman atau di luar, lalu lihat-lihat setelah selesai. Lebih enak untuk semua orang.
- Bukitnya. Tanjakannya landai, tapi tetap 500 meter menanjak terus. Pada sore musim panas, ini lebih melelahkan dari kelihatannya. Incarlah pagi hari atau menjelang matahari terbenam.
- Bertanya itu boleh. Petugas di halaman umumnya senang menjawab pertanyaan. Selama kamu tidak kasar, mereka akan menyambut rasa ingin tahumu.
Kapan sebaiknya saya datang?
Muslim salat lima kali sehari. Waktunya bergeser sedikit tiap hari mengikuti matahari terbit dan terbenam, jadi masjidnya memasang jadwal salat bulanan. Cek situs web atau Instagram Korea Muslim Federation sebelum berkunjung — itu cara paling tepercaya.
🕐 Lima waktu salat harian — artinya bagi kunjunganmu
| Salat | Waktu | Dari sudut pandang pengunjung |
|---|---|---|
| Subuh | Fajar, sebelum matahari terbit | Waktu paling sepi. Bukan jendela kunjungan yang pas |
| Zuhur | Tepat lewat tengah hari | Pada hari kerja, cepat selesai |
| Asar | Sore menjelang petang | Slot waktu yang paling sering berpapasan dengan turis |
| Magrib | Tepat setelah matahari terbenam | Lampu kubah menyala — foto terbaik sepanjang hari |
| Isya | Malam | Tenang dan hening |
Apa yang terjadi kalau kamu datang saat Ramadan
Selama Ramadan, santapan yang membatalkan puasa saat matahari terbenam disebut iftar. Masjid Pusat Seoul menyajikan iftar gratis setiap petang sepanjang bulan itu. Dimulai dengan kurma, pisang, dan susu untuk berbuka secara perlahan, disusul makan malam lengkap yang disajikan di atas nampan. Kamu mengantre, mengambil secukupnya — tak ada yang menanyakan apakah kamu Muslim. Programnya sempat dihentikan selama COVID-19 dan dijalankan penuh lagi sejak 2023. Ramadan mengikuti kalender lunar, jadi ia maju sekitar sepuluh hari tiap tahun.
Ada apa di dalam dan di sekitar bangunannya?
Masjid ini bukan cuma gedung tiga lantai itu. Di petak lereng bukit yang sempit ini, ruang salat, kantor, sekolah, kafe, dan toko daging berdiri berdempetan — fungsinya nyaris seperti kampung kecil.
Detail kecil yang saya sukai
Inskripsi Arab di atas gerbang utama dulu disertai terjemahan bahasa Korea: "Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya." Ketika pintu masuknya dirancang ulang pada 2025, teks Korea itu dihapus — hanya versi Arab aslinya yang tersisa. Kalau kamu melihat huruf Korea di foto-foto daring, itu gambar sebelum renovasi. Ada kesenangan tersendiri dalam menebak tahun foto masjid lewat satu detail ini.
Kawasan seperti apa Usadan-ro itu?
Jalan-jalan yang menurun dari masjid — kawasan Usadan-ro — sudah lama menjadi rumah bagi kira-kira 1,800 warga Muslim dari Mesir, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Turki, dan seterusnya. Kawasan ini tidak mengambil bentuknya yang sekarang pada 1976, saat masjidnya dibuka. Itu terjadi pada 1990-an. Pada akhir 1980-an, pekerja dari Asia Tenggara dan Asia Barat mulai berdatangan dalam jumlah makin besar. Menjelang awal 1990-an, sebuah toko kecil yang menjual bahan makanan yang mereka kenali sudah buka di dekat masjid. Itulah benihnya. Urutannya: masjid dulu, lalu orangnya, lalu perdagangannya.
Kawasan ini sedang berubah sekarang juga
Bukit tempat masjid berdiri berbatasan dengan zona pembangunan ulang Hannam New Town. Sepanjang 2025, warga di blok-blok hunian sekitarnya berpindah, meninggalkan makin banyak rumah kosong. Wajah jalanannya berubah kentara hanya dalam beberapa tahun. Kalau Usadan-ro yang kamu temukan daring tidak cocok dengan yang kamu lihat langsung, itu sebabnya. Jangan percaya buta pada tulisan blog lama — cek dulu apakah toko yang kamu incar masih buka sebelum berangkat.
Makan di mana? Ada kedai kebab dan kari di gang bawah masjid, tapi belakangan ini skena kuliner halal Seoul justru melebar lebih cepat di luar Itaewon ketimbang di dalamnya. Kamu akan menemukan pilihan yang tersebar di Samseong/COEX, Jongno, Dongdaemun, Hongdae, dan Gongdeok — beberapa di antaranya kini menarik lebih banyak pelanggan Korea ketimbang Muslim. Kami sudah membahas restorannya di panduan terpisah, jadi cek di sana untuk rekomendasinya.
Siapa Muslim Korea itu?
Di sinilah kisah bukit ini paling jarang diceritakan.
Populasi Muslim di Korea diperkirakan 250,000 sampai 300,000 orang. Per akhir Juli 2024, warga negara asing dari negara berpenduduk mayoritas Muslim berjumlah kira-kira 320,000 orang — sekitar 11% dari seluruh penduduk asing di negara ini. Tapi angka itu mencakup orang yang tidak aktif menjalankan agamanya, jadi jumlah Muslim yang benar-benar taat kemungkinan lebih rendah.
Warga Korea yang memeluk Islam — sering disebut “Muslim pribumi” di media lokal — berjumlah kira-kira 60,000 orang per 2021. Bahkan angka itu perlu dibaca hati-hati. Imam Lee Ju-hwa dari Masjid Pusat Seoul pernah bicara terbuka soal betapa sulitnya generasi pertama mualaf Korea mewariskan keyakinannya kepada anak-anak mereka, dan bahwa jumlah penganut yang aktif mungkin justru menurun. Angka di daftar dan angka di saf salat bukanlah hal yang sama.
Imamnya menjadi orang Korea pada 2010
Imam Masjid Pusat Seoul saat ini adalah Lee Ju-hwa (Abdur Rahman). Lahir di Seoul pada 1963, ia tumbuh di keluarga tanpa agama dan memeluk Islam pada 1984 setelah terpilih sebagai penerima beasiswa kerajaan Arab Saudi. Ia belajar di Universitas Islam Madinah dan diangkat menjadi imam masjid ini pada Juni 2010 — orang Korea pertama yang memegang posisi itu. Ia menyampaikan khotbah Jumat dalam tiga bahasa: Arab, Korea, dan Inggris. Kenyataan bahwa ia membutuhkan ketiganya sudah cukup memberitahumu siapa saja yang berkumpul di sini.
Kelompok yang tumbuh paling cepat: mahasiswa internasional
Beberapa tahun terakhir, kelompok yang membentuk ulang populasi Muslim Korea bukan lagi buruh — melainkan mahasiswa. Kampus-kampus pun menyesuaikan diri. Universitas Hanyang jadi yang pertama membuka restoran halal, pada 2013. Sejong, Ewha, dan Kyung Hee kemudian menambahkan menu halal. Universitas Nasional Seoul mulai menyajikan pilihan halal di kantin mahasiswanya pada 2018; sebelum asramanya punya fasilitas salat yang layak, mahasiswa biasa salat di atap gedung serikat mahasiswa. Hanyang dan Universitas Korea sejak itu menyediakan ruang salat multikultural di gedung tekniknya, tempat populasi mahasiswa internasionalnya terpusat.
Tidak semua reaksi menyambut baik
Ketegangan warga seputar fasilitas Islam pernah beberapa kali memanas di Korea. Saat krisis penyanderaan di Afghanistan pada 2007, unjuk rasa digelar di depan Masjid Pusat Seoul, ancaman dilontarkan, dan polisi dikerahkan. Sebagian orang memandang pemasangan ruang salat sebagai keberpihakan agama. Sebagian lain membingkainya sebagai soal kebebasan beragama dan infrastruktur pariwisata. Artikel ini tidak memihak. Tapi ada baiknya kamu tahu, sebelum datang, bahwa bukit ini tidak selalu jadi tempat yang damai.
Apa cuma di sini tempat salat di Seoul?
Bagi pelancong Muslim, inilah pertanyaan yang paling penting. Di wilayah metropolitan Seoul, sebenarnya hanya ada satu masjid yang benar-benar dibangun sebagai masjid — Masjid Pusat Seoul. Tapi tempat untuk salat lebih banyak daripada yang kamu kira.
🧭 Tempat salat di Seoul dan wilayah ibu kota (pastikan status operasionalnya sebelum datang)
| Lokasi | Jenis | Catatan |
|---|---|---|
| Masjid Pusat Seoul | Masjid penuh · markas KMF | 39 Usadan-ro 10-gil, Yongsan-gu. Ruang salat terpisah untuk pria dan wanita |
| Masjid Al-Tawheed (Dapsimni) | Masjid kecil | Berada di dalam gedung biasa. Lebih kecil dari Masjid Pusat |
| Ruang salat Bandara Internasional Incheon | Fasilitas 24 jam | Tersedia Al-Quran, sajadah, dan penanda arah kiblat |
| COEX (Samseong) | Ruang salat Muslim | Untuk pengunjung zona wisata MICE Gangnam |
| Lotte World (Jamsil) | Ruang salat Muslim | Tutup pada malam hari — jamnya terbatas |
| Kampus universitas | Ruang salat multikultural | Hanyang, Korea, Universitas Nasional Seoul, dan lainnya. Umumnya untuk mahasiswa terdaftar |
| Rumah sakit umum besar | Kapel lintas agama | Asan Medical Center, Samsung Medical Center, Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, dan lainnya punya ruang doa lintas agama |
Yang perlu kamu tahu soal makan halal
- Restoran dengan sertifikasi halal resmi di Korea jumlahnya kurang dari dua puluh, secara nasional. Sebagian besar papan "halal" yang kamu lihat bersifat klaim sendiri, bukan bersertifikat.
- Korea Tourism Organization pernah menjalankan program klasifikasi restoran ramah Muslim, tapi dihentikan pada 2022 karena partisipasinya rendah. Akibatnya, tidak ada satu daftar resmi pun.
- Kalau standarmu ketat, mintalah melihat sertifikatnya di kasir, dan cek apakah mereka menyajikan alkohol — itu penanda yang paling bisa diandalkan.
- Ada pilihan bagus di luar Itaewon: Samseong/COEX, Jongno, Dongdaemun, Hongdae, dan Gongdeok semuanya punya tempat ramah halal yang tersebar.
Bagaimana menyusun rute setengah hari?
Itinerary Itaewon setengah hari
- Pagi — Pintu Keluar 3 Stasiun Itaewon → bukit Usadan-ro → Masjid Pusat Seoul. Kubahnya paling bagus difoto saat matahari rendah.
- Makan siang — Kebab atau kari di gang bawah masjid, atau di sekitar Stasiun Itaewon. Jam makan siang Jumat padat sekali.
- Sore — Jalan kaki ke Leeum Museum of Art (Hannam-dong), atau ambil arah sebaliknya ke Gyeongnidan-gil dan Haebangchon. Semuanya dalam jarak jalan kaki.
- Malam — Naiklah ke arah Namsan untuk pemandangan malamnya. Dari masjid ke N Seoul Tower kurang dari 10 menit naik taksi.
- Saat pulang — Naik bus lingkungan Yongsan 01 persis di depan masjid. Kamu jadi tak perlu jalan menurun ke stasiun.
Alasan untuk naik ke bukit ini sebenarnya sederhana. Seoul tidak punya banyak tempat di mana irama waktu yang begitu berbeda bertumpuk di dalam satu gang. Di bawah sana, antrean klub terbentuk pada Sabtu malam. Di atas sini, 800 orang melepas sepatunya pada Jumat siang. Berjalanlah 500 meter di antara keduanya, dan kamu akan merasakannya di kaki — berapa banyak lapisan yang membentuk kota ini, berapa banyak dunia yang ia tampung sekaligus.
Sumber data
- Korea Muslim Federation (KMF) — panduan pengunjung masjid, direktori masjid nasional
- Entri Namuwiki dan Wikipedia untuk Masjid Pusat Seoul — riwayat pembangunan, renovasi kubah dan pintu masuk 2024–2025
- Ensiklopedia Kebudayaan Korea — entri Korea Muslim Federation (didirikan pada 1955)
- Statistik penduduk asing Kementerian Kehakiman dan estimasi populasi migran Muslim di dalam negeri (per akhir Juli 2024)
- SBS Korean — "60,000 Muslim Pribumi Korea" (angka mualaf 2021)
- Herald Gyeongje — liputan "Kampung Muslim Itaewon" (populasi warga Usadan-ro dan sejarah perdagangannya)
- Seoul Shinmun — "Era 10,000 mahasiswa Muslim" (ruang salat kampus dan adopsi menu halal)
- Hankyung — program klasifikasi restoran ramah Muslim Korea Tourism Organization dihentikan (2022)
- Semua angka dan informasi operasional didasarkan pada riset per Agustus 2026 dan belum diverifikasi di lapangan.