Kalau orang bicara soal Seoul di malam hari, klub dan pojangmacha (kedai tenda pinggir jalan) yang selalu jadi sorotan. Yang ada di antara keduanya — hampir tidak ada yang membahas. Itulah hunting pocha. Dari luar, tampilannya sama saja seperti pocha lain. Ada salad keong, soju, bir. Bedanya, tidak ada yang datang demi makanannya.

Jenis tempat ini sulit disamakan dengan padanan Barat mana pun. Mengajak ngobrol orang asing di bar itu universal. Yang tidak biasa adalah ketika bar itu sendiri yang merancang prosesnya, stafnya yang menjembatani, dan tagihannya datang dengan diskon karena kamu ikut main.

Jawaban singkatnya

  • Hunting pocha adalah bar yang dirancang khusus untuk gabung meja. Jarak antarmeja yang rapat, staf yang menjembatani perkenalan, dan diskon begitu dua meja menyatu. Yang dijual lebih ke perjumpaan ketimbang minumannya.
  • Kawasan tempat mereka menumpuk bukan kebetulan — ada alasan hukumnya. Hongdae (Mapo-gu), Kondae (Gwangjin-gu), dan Sinchon (Seodaemun-gu) adalah tiga distrik pertama di Korea yang mengesahkan perda yang mengizinkan orang menari di dalam restoran. Tiga koridor hunting pocha terbesar hari ini persis menempel di situ.
  • Skenanya sedang menyusut. Pada 2024, 56% orang Korea usia 19–29 mengaku jarang minum atau minum kurang dari sekali sebulan — angka tertinggi sejak survei dimulai pada 2005. Panggung untuk bertemu orang sudah pindah ke Instagram.

Jadi, hunting pocha itu sebenarnya apa?

Bar yang dibangun di atas premis orang asing — khususnya laki-laki dan perempuan — saling bergabung ke meja masing-masing, dengan tata duduk, alur layanan, dan skema harga yang semuanya dirancang supaya itu terjadi. Paruh pertama namanya, hunting, adalah Konglish — dipinjam dari bahasa Inggris tapi dipakai dengan cara yang tak akan dipakai penutur aslinya. Di Korea, artinya mendekati orang asing dengan niat romantis. Padanan terdekatnya dalam bahasa Inggris kira-kira “pickup” atau “flirting”. Dalam bahasa Jepang, padanannya nanpa (ナンパ).

Paruh keduanya, pocha, adalah singkatan dari pojangmacha — awalnya gerobak jalanan bertutup terpal yang menjual soju dan anju (camilan teman minum) sampai larut malam. Sekarang, sebagian besar pocha adalah tempat indoor yang meniru tampilan itu: lampu kuning hangat, bangku plastik, menu berlaminasi. Hunting pocha adalah satu cabang dari pohon keluarga pocha indoor tersebut.

Hunting Pocha vs. Gamseong-jujeom — Apa Bedanya?

Gamseong-jujeom (감성주점, kira-kira "kedai bernuansa emosional" atau "bar bertema retro") lebih mirip klub kecil — DJ memutar musik, lampu redup, dan orang menari di sela meja. Hunting pocha adalah format minum sambil duduk: kamu tetap di mejamu, dan kalau dua kelompok sepakat menyatu, ya menyatu. Tidak ada area khusus untuk berdansa. Praktiknya, banyak tempat mencampur keduanya, jadi papan nama di luar tidak selalu memberi petunjuk. Masuk saja: kalau kamu melihat booth DJ dan panggung, itu gamseong-jujeom. Kalau cuma meja yang ditata rapat, itu hunting pocha.

Bagaimana gabung meja benar-benar bekerja, langkah demi langkah

Inilah mesin dari keseluruhan konsepnya. Ini bukan soal mengumpulkan nyali untuk menghampiri seseorang — tempatnya yang mengurangi gesekan itu untukmu.

🍻 Alur umum di dalam hunting pocha

LangkahYang terjadiCatatan
1. MasukKamu datang sebagai rombongan sesama jenis berisi 2–4 orang. Tamu sendirian ditolak di sebagian besar tempat.Jumlah orang harus cocok supaya gabung meja bisa jalan
2. PenempatanStaf mendudukkan rombongan pria dan wanita dalam jarak pandang satu sama lain.Denah lantainya sendiri adalah model bisnisnya
3. MengamatiTerjadi kontak mata, atau kamu menunjuk satu meja ke staf.Staf berperan sebagai perantara di kebanyakan tempat
4. Gabung mejaBiasanya 2 lawan 2 atau 3 lawan 3. Jumlah yang seimbang adalah standar dasarnya.Kalau satu pihak menolak, selesai di situ — memaksa lagi adalah pelanggaran etiket
5. TagihanLazimnya tagihan kedua meja digabung, lalu dipotong dengan persentase tertentu.Tempatnya benar-benar membayarmu (lewat diskon) untuk menggabung meja
6. Ronde keduaNomor ditukar, atau rombongan pindah ke noraebang (karaoke) atau bar lain.Sebagian besar berhenti di sini

Bagian yang paling khas Korea dari semua ini adalah Langkah 5. Minumanmu jadi lebih murah begitu meja digabung. Tempatnya memakai uang untuk meredam kikuknya duduk bareng orang asing.

Satu hal lagi yang layak diketahui: menarik pengunjung perempuan adalah garis start bisnis ini. Tamu laki-laki datang karena ada perempuan, jadi tempatnya menawarkan minuman sambutan gratis, tambahan anju, atau kupon diskon untuk rombongan perempuan — dengan syarat mereka datang lebih awal dan bertahan sampai jam ramai. Dua meja yang duduk bersebelahan bisa jadi sedang berjalan dengan kesepakatan yang sama sekali berbeda.


Kenapa Hongdae, Kondae, dan Sinchon?

Penjelasan yang paling sering muncul adalah kedekatan dengan kampus. Tapi kampus ada di mana-mana di Seoul. Alasan kenapa justru tiga kawasan ini yang jadi pusat hunting pocha punya dimensi hukum yang luput dari kebanyakan orang.

Sekitar 2015, nostalgia musik retro era ‘70-an/‘80-an/‘90-an memicu ledakan jumlah gamseong-jujeom. Masalahnya: saat itu, menari di dalam restoran biasa melanggar Undang-Undang Sanitasi Pangan. Razia dan operasi di wilayah abu-abu saling berkejaran sampai Kementerian Keamanan Pangan dan Obat merevisi peraturan pelaksanaannya, berlaku Februari 2016, yang membolehkan pemerintah daerah mengesahkan perda yang mengizinkan orang menari di area tempat duduk restoran — asalkan standar keselamatan terpenuhi. Tujuannya menarik industri bawah tanah ke permukaan.

Distrik pertama di seluruh Korea yang mengesahkan perda semacam itu adalah Mapo-gu, Seoul — pada 19 Februari 2016. Gwangjin-gu dan Seodaemun-gu menyusul tak lama kemudian. Hanya tujuh distrik di seluruh negeri yang pernah mengesahkan perda itu, termasuk beberapa titik di Busan, Gwangju, dan Ulsan.

Mapo-gu = Hongdae·Hapjeong·Sangsu. Gwangjin-gu = Kondae. Seodaemun-gu = Sinchon·Ewha. Persis inilah tiga koridor hunting pocha dan gamseong-jujeom terbesar di Seoul hari ini. Berlebihan kalau dibilang perda itu yang menciptakan industrinya — tapi tak terbantahkan bahwa di sanalah petak tanah pertama tempat industri ini bisa tumbuh secara legal.

Gangnam-gu dan Yongsan-gu — rumah bagi Stasiun Gangnam dan Itaewon — tidak punya perda itu. Mungkin itu sebabnya tempat-tempat di sana mengambil bentuk berbeda: Gangnam condong ke ruang privat dan branding “cooking bar”; Itaewon mencampur DNA pub Barat dengan DNA pocha dan menarik pengunjung yang lebih internasional. “Hunting pocha” memang satu label, tapi wujud ruangnya berbeda dari kawasan ke kawasan.


Hunting pocha mana di Seoul yang layak diketahui?

Skena ini berputar cepat. Banyak nama yang mendominasi lima tahun lalu kini sudah tutup atau berganti wujud. Daftar di bawah diambil ketat dari tempat-tempat yang benar-benar terdaftar di Dining Code per Agustus 2026. Rating bintangnya disalin apa adanya dari platform — meski di tempat semacam ini, ratingnya lebih mencerminkan seberapa lancar malam seseorang ketimbang kualitas makanannya.

🧱
Byeokdol Pocha (Hongdae)
Hasil "hunting" nomor 1 di seluruh Seoul. Punya ruang privat tanpa biaya ruangan terpisah, jadi sering dipakai juga untuk ulang tahun dan kumpul rombongan. ★4.3
🍶
Du-nom Pocha
Peringkat tinggi di daftar "hunting pocha" maupun "hunting bar" Hongdae. Format pocha indoor klasik. ★4.1
🦍
King Kong Pocha
Peringkat teratas di daftar hunting pocha Hongdae. Letaknya persis di tepi deretan klub, jadi gampang lanjut ke ronde kedua. ★4.2
Ju Dabang (Kondae)
Hunting bar nomor 1 di Kondae. Dibranding sebagai dabang (kedai kopi Korea gaya lama) yang disilangkan dengan cooking bar. Nama paling bertahan lama di skena Kondae. ★4.0
📻
Mannam-ui-Gwangjang (Itaewon)
Hunting pocha peringkat teratas di Itaewon. Namanya secara harfiah berarti "Alun-Alun Perjumpaan" — memang itu konsepnya. Porsi pengunjung asingnya lebih tinggi dibanding kawasan lain. ★3.7

📍 Buka di Naver Map

🏙️ Tempat bernuansa hunting per kawasan — Dining Code, Agustus 2026. Kata kunci pencariannya berbeda tiap area, jadi jangan baca angka ini sebagai perbandingan langsung.

KawasanTempat terdaftarNama yang menonjolRentang usia utamaSuasana
Hongdae14 hunting pocha / 13 hunting barByeokdol Pocha, Du-nom Pocha, King Kong Pocha, SupullimAwal sampai pertengahan 20-anPorsi mahasiswa paling tinggi. Langsung menyambung ke deretan klub
Gangnam13 hunting barGae-pan Pocha, Room-ui-jeongseok, Gangnam 77Akhir 20-an sampai awal 30-anLebih banyak branding ruang privat dan cooking bar. Sebagian menerapkan batas usia masuk
Itaewon10 tempat huntingMannam-ui-Gwangjang, Itaewon Nanjangpan, Un-chil-gi-samCampuran usia 20-an dan 30-anPorsi pengunjung asing tertinggi. Bahasa Inggris lebih terpakai dibanding tempat lain
Kondae5 hunting barJu Dabang, Ssollo Pocha, Heung-e-chwihan-beomAwal sampai pertengahan 20-anArea komersialnya padat — gampang lompat antartempat
Sinchon3 hunting barRoom-ui-jeongseok, Damotori 5, Bar FlyAwal 20-anSkena terkecil. Arus pengunjungnya cenderung mengalir ke Hongdae

📍 Buka di Naver Map

Beberapa nama merek berulang di kawasan berbeda. Room-ui-jeongseok muncul di daftar Gangnam sekaligus Sinchon. Byeokdol Pocha juga punya banyak cabang. Rentang usia dan atmosfernya berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain, jadi cek nama cabang spesifiknya di aplikasi peta sebelum berangkat.


Apa orang masih saling bertemu lewat cara ini?

Angkanya turun — dan turun dari dua arah sekaligus.

Yang pertama adalah kebiasaan minum itu sendiri. Hunting pocha hanya jalan kalau orang betah duduk dan minum agak lama, dan saat ini orang Korea berusia 20-an adalah generasi paling sedikit minum yang pernah tercatat.

56%
Usia 19–29 yang jarang minum atau minum kurang dari sekali sebulan (2024 — tertinggi sejak survei dimulai pada 2005)
95.5 → 64.8g
Rata-rata asupan alkohol harian, usia 20-an (2023 → 2024, turun ~32%)
66.8g
Metrik yang sama untuk orang Korea berusia 60-an. Anak 20-an kini minum lebih sedikit daripada generasi kakek-neneknya.
9.1jam
Rata-rata jam operasional harian bar di Korea — terpendek di antara semua kategori jasa makanan

Ketika survei ini dimulai pada 2005, porsi peminum ringan atau bukan peminum di kalangan usia 19 sampai 29 adalah 37.9%. Pada 2024 angkanya menyentuh 56%. Secara struktural memang sulit menawarkan perjumpaan sosial berbasis bar kepada orang yang tidak minum.

Pergeseran kedua adalah tempat perjumpaannya. Pada Desember 2025, aplikasi kencan Wippy merilis Laporan Tren Kencan Media Sosial 2030 dengan survei terhadap 1,191 pengguna. Lebih dari separuh responden usia 20-an dan 30-an mengaku pernah memulai hubungan lewat media sosial. Di antara mereka, 69.3% responden 20-an dan 55.3% responden 30-an bilang hubungan itu bermula di Instagram.

Beberapa tahun lalu saja, jamachu (자만추, singkatan dari “mengejar perjumpaan alami”) masih jadi lawan tanding umum bagi kencan lewat aplikasi. Sekarang panggung perjumpaan “alami” itu sama sekali bukan offline. Menyaring, mencocokkan, meredam sakitnya penolakan — semua hal yang dulu ditangani hunting pocha di ruang fisik kini sebagian besar pindah ke dalam layar.

Bukan berarti mereka lenyap. Pencarian “Seoul hunting” di Dining Code masih memunculkan sekitar 60 tempat, dan gerbang jalan klub Hongdae tetap padat pada Jumat malam. Tapi ini bukan lagi ritual wajib anak 20-an. Ia sudah jadi pilihan ceruk — sesuatu yang kamu pilih dengan sadar, bukan sesuatu yang kebetulan kamu jalani.


Kalau ini kunjungan pertamamu

Tiga Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berangkat

  • Datang sendirian biasanya tidak akan berhasil. Gabung meja bergantung pada jumlah orang yang seimbang, jadi rombongan sesama jenis berisi 2–4 orang adalah unit standarnya. Datang sendiri dan kamu bisa ditolak di pintu.
  • "Tidak" itu final. Mencoba lagi ke meja yang sudah menolak adalah pelanggaran etiket paling jelas di skena ini. Staf akan turun tangan menghentikannya.
  • Awasi gelasmu. Kalau kamu meninggalkan meja lalu kembali, buang saja sisa isi gelasmu. Ini pengamanan paling dasar di ruangan tempat kamu minum bersama orang asing.

Satu hal lagi. Seluruh pengalaman ini berjalan di atas percakapan bahasa Korea. Penjembatanan gabung meja, obrolan di meja — semuanya berbahasa Korea dan bergerak cepat. Kalau kamu tidak bisa bahasanya, kemungkinan besar kamu cuma duduk diam. Pelancong lebih baik memilih Itaewon, di mana setidaknya sebagian bahasa Inggris masih nyambung. Dan bawa identitasmu, tanpa kecuali. Usia legal minum di Korea adalah 19 tahun (usia internasional), dan sebagian tempat hanya menerima identitas terbitan Korea — paspor asing belum tentu diterima.

Sumber data

Sedang populer di Seoul

Klook.com

Tautan afiliasi — kami mungkin memperoleh komisi tanpa biaya tambahan untukmu. Detail →