Berjalanlah cukup lama di Seoul dan kamu akan merasakannya — momen ketika kota ini mulai mendaki. Di bawah tembok benteng tua Naksan, di lereng Inwangsan, di sisi selatan Namsan: gang tiba-tiba menyempit, tangga muncul saat jalan habis. Lereng-lereng ini kini berhias mural dan bertabur kafe, tapi jangan keliru — dulu ini tanah yang tak diinginkan siapa pun.

Tujuh puluh tahun lalu, Seoul adalah kota berpenduduk satu juta yang rata oleh perang. Dua dekade kemudian, angkanya melewati lima juta. Orang-orang yang datang di antara dua titik itu membangun rumah dari papan kayu di tepi sungai kecil dan naik ke lereng bukit. Inilah kisah bagaimana kampung-kampung itu lahir dan apa yang kini berdiri di tempatnya — diceritakan lewat enam lokasi.

Jawaban singkatnya

  • Perkampungan kumuh Seoul bermula di sepanjang Sungai Cheonggyecheon — pengungsi perang mendirikan gubuk di atas air dan di tepinya sebelum sungai itu ditutup beton. Mereka digusur pada 1960-an dan dipindahkan ke Gwangju, Provinsi Gyeonggi (kini Kota Seongnam).
  • Sebagian besar berganti menjadi kompleks apartemen (Nangok → Gwanaksan Humancia), sebagian menjelma daya tarik wisata (Ihwa-dong, Haebangchon), dan hanya dua yang masih berpenghuni (Guryong Village, Gaemi Village).
  • Pelancong bisa menelusuri sejarahnya di promenade Sungai Cheonggyecheon · Ihwa-dong & Naksan · Pasar Sinheung Haebangchon — ketiganya gratis dan terjangkau dengan subway.

Kenapa Perkampungan Kumuh Muncul di Seoul?

Alasannya sederhana sekali. Orang datang jauh lebih cepat daripada rumah bisa dibangun.

Ketika Korea merdeka dari pemerintahan Jepang pada 1945, etnis Korea pulang bergelombang dari Manchuria dan Jepang. Lalu perang meletus pada 1950, dan pengungsi mengalir ke selatan. Setelah gencatan senjata, keluarga desa meninggalkan sawah demi pekerjaan pabrik di ibu kota. Mereka menetap di tanah negara yang tak diklaim siapa pun — tepi sungai, sisi rel, lereng bukit. Bahan bangunannya apa saja yang ditinggalkan militer AS: peti kayu, lembaran seng, potongan papan. Dari situlah nama panjachon (perkampungan papan) berasal. Karena bertengger di lereng tempat bulan tampak menggantung tepat di atas kepala, kampung-kampung ini juga dijuluki daldongnae (harfiah “kampung bulan”).

136,650bangunan
Bangunan tanpa izin, survei se-Seoul (1966)
114,455orang
Warga yang dipindahkan paksa ke Kompleks Gwangju (1968–71)
33korban jiwa
Korban tewas dalam runtuhnya Apartemen Wau (1970)

Pemerintah kota mulai serius menangani masalah ini ketika Kim Hyun-ok menjabat wali kota pada 1966. Survei se-kota menemukan 136,650 bangunan tanpa izin. Rencananya tegas: melegalkan 46,650 di antaranya, merobohkan 90,000 sisanya, lalu memindahkan penghuninya ke Apartemen Warga (simin apateu) — blok hunian publik yang dibangun terburu-buru — atau merelokasi mereka keluar kota sekalian. Kecepatan adalah seluruh filosofinya.

Hasilnya datang sama cepatnya. Pada Desember 1969, lima belas blok Apartemen Warga Wau rampung di Changjeon-dong, Mapo-gu. Pada pagi 8 April 1970, nyaris empat bulan setelah dibuka, bangunan itu ambruk. Tiga puluh tiga orang tewas. Tiang penopangnya memang tak pernah cukup kuat menanggung beban. Wali Kota Kim dicopot, dan program Apartemen Warga praktis mati di tempat.

Kompleks Gwangju — Kota yang Didorong Keluar oleh Seoul

Sisi lain dari strategi itu adalah relokasi massal. Seoul menyusun rencana kota baru berkapasitas 350,000 jiwa di Kabupaten Gwangju, Provinsi Gyeonggi (kini Seongnam). Antara 1968 dan Juni 1971, kota mengangkut 23,692 rumah tangga — 114,455 orang — dari Cheonggyecheon, Jongno, dan zona penggusuran lain, lalu mengirim mereka ke sana. Masalahnya: tempat tujuan itu tak punya air bersih, tak punya sistem pembuangan, tak punya lapangan kerja, tak punya sekolah. Hanya tanah mentah. Pada Agustus 1971, puluhan ribu warga bangkit dalam Pemberontakan Kompleks Gwangju. Program relokasi dibatalkan, dan lahan itu resmi menjadi Kota Seongnam pada 1973. Pola jalan lama di pusat Seongnam sampai kini masih mengikuti garis yang ditarik pada masa nekat itu.

Pada 1980-an, permainannya berubah. Kali ini pendorongnya adalah pembangunan ulang dan mendekatnya sejumlah ajang internasional. Pada 1984, Mok-dong; pada 1986–87, Sanggye-dong; lalu Sadang-dong — para penyewa melawan penggusuran yang datang tanpa rencana relokasi. Di Sanggye-dong, setelah tenda mereka dirobohkan pada April 1987, warga memindahkan protes ke halaman Katedral Myeongdong dan bertahan di sana. Dokumenter tentang perjuangan itu diberi judul Sanggye-dong Olympics.


Apa yang Terjadi pada Kampung-Kampung Itu

🏞️
Cheonggyecheon (Jongno/Jung-gu)
Titik awal segalanya. Jalan beton penutup → jalan layang → restorasi sungai (2005). Kini jadi rute jalan kaki di pusat kota.
Haebangchon (Yongsan)
Permukiman pengungsi dari Utara setelah 1945. Dulu berisi 300+ bengkel rajut → kini deretan kafe, toko buku indie, dan studio kriya.
🎨
Ihwa-dong (Jongno)
Kampung bulan di Naksan. Sekitar 70 mural yang dilukis pada 2006 mengubahnya jadi tujuan wisata — dan konsekuensinya menyusul.
🏢
Nangok (Gwanak)
Ikon daldongnae. Kini kompleks apartemen 3,322 unit memenuhi lereng bukitnya.
🚧
Baeksa Village (Nowon)
Lokasi permukiman ulang sejak 1967, kampung bulan terakhir Seoul. Pembongkaran dimulai 2025; apartemen ditargetkan rampung 2029.
🏘️
Guryong Village (Gangnam)
Perkampungan kumuh yang berseberangan jalan dengan Tower Palace. Relokasi berjalan; akan jadi kawasan 3,800 unit.

Cheonggyecheon — Sungai Tempat Semuanya Bermula

Selepas perang, Cheonggyecheon bukan sungai; ia sebuah alamat. Gubuk berdesakan di tepiannya dan bahkan berdiri di atas tiang pancang yang ditancapkan ke air. Makin ke hilir, makin rapat. Pada 1958, pemerintah mulai menuang beton di atas sungai itu, menguburnya. Pada 1971, Jalan Layang Cheonggye sudah membentang di atas tutup beton tersebut. Airnya lenyap, begitu pula orang-orang yang pernah hidup di sisinya.

Pada 2003, jalan layang itu dibongkar. Pada 2005, sungainya dikembalikan ke permukaan — Cheonggyecheon yang kita susuri hari ini. Tak ada gubuk yang tersisa, tapi di sepanjang promenade dekat Jembatan Majeon, ada deretan panel dinding yang memuat foto-foto perkampungan kumuh Cheonggyecheon lama. Kamu akan menemukannya sambil mengikuti aliran air. Tak jauh dari sana, Pasar Loak Hwanghak-dong adalah keturunan langsung dari perdagangan yang dulu tumbuh subur di sini.

📍 Buka di Naver Map

Haebangchon — Nama yang Sekaligus Sejarah

Naiklah satu bukit dari Itaewon dan kamu sudah sampai, di lereng selatan Namsan. Namanya berarti “Kampung Pembebasan” dan berasal dari 1945. Para perantau yang pulang dari Manchuria dan Jepang, keluarga terusir dari Utara — mereka mengklaim lereng tak diinginkan ini dan menumpuk diri satu di atas yang lain. Pasar Sinheung adalah pasar mereka.

Sejak 1960-an, yang menghidupi kampung ini adalah rajutan. Pada puncaknya, sekitar 300 bengkel rumahan berdengung di sini, mengirim sweter ke seluruh negeri. Banyak rolling door berkarat yang kamu lewati di gang-gangnya adalah hantu pabrik-pabrik itu.

Ketika kawasan komersial Itaewon mulai meluas di akhir 2000-an, gang-gang Haebangchon dipenuhi kafe, toko buku indie, dan studio kriya. Sewa naik; warga lama terdorong keluar. Berjalanlah di bawah arkade Pasar Sinheung dan kamu akan melihat benturannya secara langsung: pabrik rajut berumur 60 tahun bersebelahan dengan wine bar berumur tiga tahun.

📍 Buka di Naver Map

Ihwa-dong — Apa yang Diberikan Mural, dan Apa yang Diambilnya

Terselip tepat di bawah bagian Naksan dari Tembok Kota Seoul lama, sedikit mendaki dari Dongdaemun. Orang mulai berkumpul di sini menjelang akhir masa kolonial Jepang; setelah perang, kepadatannya meledak. Pembatasan ketinggian demi melindungi tembok benteng membuat pembangunan ulang nyaris mustahil, sehingga gang-gang era 1960-an dan ‘70-an dibiarkan utuh — fosil sebuah kampung.

Pada 2006, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata menggelontorkan ₩250 juta (sekitar US$180,000 saat itu) dari dana lotre untuk kampanye seni publik di sini. Sekitar 70 mural dilukis di dinding dan tangga. Drama televisi dan acara ragam datang, wisatawan menyusul. Lalu muncul masalah yang tak pernah dikenal kampung ini — keramaian sampai lewat tengah malam, sampah, kamera yang diarahkan ke jendela kamar tidur.

Pada April 2016, sebagian warga mengambil tindakan sendiri dan mengecat ulang mural-mural itu. Dua mural tangga yang paling sering difoto — sekawanan ikan mas dan hamparan bunga matahari — ditutup cat abu-abu. Peristiwa itu menelanjangi garis retak yang membelah kampung: antara mereka yang ingin ketenangan kampungnya kembali, dan mereka yang sudah menggantungkan hidup pada wisatawan yang dibawa mural.

Ihwa-dong kini lebih sepi dibanding masa puncak ketenarannya. Mural yang tersisa, gang-gangnya, dan pemandangan Seoul pada malam hari dari Taman Naksan tetap sepadan dengan pendakiannya. Cuma ingat: sebelum jadi apa pun, ini adalah kampung tempat orang tinggal.

Cara Berkunjung ke Ihwa-dong dengan Sopan

  • Datanglah antara pukul 10 pagi dan 6 sore. Pagi buta dan malam hari adalah milik warga yang tinggal di sini.
  • Jangan pernah memotret jendela, pintu, atau jemuran. Gangnya sempit — kameramu sudah berada di dalam rumah orang.
  • Hindari duduk di tangga atau berkerumun untuk mengobrol. Suara merambat lurus ke atas di dinding-dinding ini.

📍 Buka di Naver Map

Nangok — Sang Ikon, Terhapus Tanpa Sisa

Di lereng Gwanaksan, Sillim-dong, Gwanak-gu. Nama lamanya Nakgol, dan sepanjang 1980-an sampai ‘90-an, kalau orang Korea mendengar kata “daldongnae,” inilah tempat yang terbayang. Semuanya bermula di awal 1960-an ketika tiga puluhan rumah tangga mematok pijakan. Menjelang akhir 1970-an, seluruh lereng bukit tertutup rumah.

Proses pembangunan ulangnya luar biasa berliku. Ditetapkan sebagai zona pembangunan ulang pada 1973, penetapan itu dicabut pada 1982. Ditetapkan lagi pada 1995, proyeknya kembali mandek saat pengembang swasta mundur. Baru pada Juni 2000, ketika Korea National Housing Corporation mengambil alih, sesuatu benar-benar bergerak.

Kini, bersandar pada Gwanaksan, kompleks berisi 43 gedung setinggi 13 sampai 20 lantai dengan 3,322 unit (2,810 dijual, 512 sewa publik) menempati lahan itu. Nyaris tak ada penanda yang memberi tahu bahwa sebuah kampung bulan pernah menempel di lereng ini. Bukan tempat yang perlu dicari pelancong, tapi mungkin inilah akhir paling jujur dari cerita ini: sebagian besar perkampungan kumuh Seoul berakhir persis seperti ini.

Baeksa Village — Tahun-Tahun Terakhir Kampung Bulan Terakhir

Persil 104, Junggye-bon-dong, Nowon-gu. Bacalah nomor persil itu dalam angka Sino-Korea — baek (100) dan sa (4) — dan jadilah namanya: Baeksa Village. Ia lahir pada 1967, ketika keluarga-keluarga yang tergusur dari zona penggusuran Cheonggyecheon dan Yeongdeungpo dipindahkan ke sini.

Alasan kampung ini bertahan hampir enam puluh tahun adalah sebuah ironi. Pada 1971, ia terkunci di dalam Green Belt (zona pembatasan pembangunan). Ketika permukiman lain diratakan menjadi blok apartemen sepanjang 1980-an dan ‘90-an, waktu berhenti di sini. Rumah-rumah berpemanas briket batu bara bertahan. Lebar gang, dinding penahan, letak keran air bersama — struktur fisik koloni permukiman ulang era 1960-an terjaga utuh. Karena itulah para fotografer menyebutnya “daldongnae terakhir Seoul.”

Pada Januari 2025, kajian pembongkaran lolos. Pagar seng berdiri. Yang akan tumbuh di sini adalah kompleks berisi 26 gedung, 4 lantai basement sampai 35 lantai, 3,178 unit, dengan target rampung pada paruh pertama 2029. Untuk sekarang, kamu tidak bisa masuk.

Guryong Village — Perkampungan Kumuh di Jantung Gangnam

Gaepo-dong, Gangnam-gu, terselip di antara Guryong-san dan Daemo-san. Di seberang jalan: Tower Palace. Kontrasnya begitu tajam sampai kamera berita internasional menjadikan sudut ini salah satu yang paling sering difoto di Seoul.

Kampung ini terbentuk belakangan dibanding yang lain. Menjelang Asian Games 1986 dan Olimpiade 1988, kota meratakan lebih dari 200 permukiman tanpa izin atas nama penataan wajah kota. Mereka yang tergusur terdampar di lahan pertanian yang saat itu masih sepi di lereng Gaepo-dong. Sebuah kampung yang justru dilahirkan oleh perayaan kotanya sendiri.

Selama tiga puluh tahun berikutnya, kebakaran meletus berulang kali — gubuk berimpitan dinding ke dinding, instalasi listrik seadanya, penghangat musim dingin yang rapuh. Beritanya kembali setiap musim. Setelah negosiasi berlarut, Seoul memastikan pembangunan ulang: sekitar 3,800 unit. Lebih dari 600 di antaranya akan menjadi sewa jeonse (setoran uang jaminan) jangka panjang untuk pengantin baru dan keluarga muda, dengan target rampung 2029.

Catatan soal Berkunjung

Guryong Village dan Gaemi Village di Hongje-dong bukan objek wisata — keduanya permukiman tempat orang hidup. Gaemi Village masih dihuni sekitar 210 rumah tangga, kira-kira 420 warga; Guryong Village sedang dalam proses relokasi. Keduanya punya gang sempit dan batas properti pribadi yang tak jelas — sekadar memotret pun mudah sekali menerobos ruang hidup orang. Kalau ingin memahami sejarah perkampungan kumuh Seoul, cukup datangi tempat-tempat yang sudah menjadi ruang publik: Cheonggyecheon, Ihwa-dong, dan Haebangchon.


Enam Kampung Sekilas

🗺️ Perkampungan Kumuh Seoul — Asal Usul dan Kondisi Kini

#KampungLokasiTerbentukHari Ini
1Perkampungan kumuh CheonggyecheonJongno/Jung-guPascaperang 1950-anPromenade Sungai Cheonggyecheon, dipulihkan 2005
2HaebangchonYongsan-gu, Yongsan 2-ga-dong1945–Jalan kafe dan toko buku indie, Pasar Sinheung
3Ihwa-dongJongno-gu, di bawah Naksan1940-an–50-anKampung mural, Taman Naksan; masih permukiman
4Nangok (Nakgol)Gwanak-gu, Sillim-dongAwal 1960-anKompleks apartemen 3,322 unit
5Baeksa VillageNowon-gu, Junggye-bon-dong1967Sedang dibongkar; kompleks 3,178 unit rampung 2029
6Guryong VillageGangnam-gu, Gaepo-dongAkhir 1980-anRelokasi berjalan; direncanakan kompleks 3,800 unit

Enam tempat ini mengerucut jadi tiga akhir cerita. Sebagian terhapus total, digantikan menara apartemen. Sebagian mempertahankan nama tapi menjadi kampung yang sama sekali berbeda. Dan beberapa masih menampung orang, menjalani tahun-tahun terakhirnya sebelum buldoser datang. Kurang lebih itulah kisah tentang apa yang disingkirkan Seoul demi menjadi kota seperti sekarang — dalam enam koordinat, sepanjang tujuh puluh tahun.

Sumber data

  • National Institute of Korean History, Our History Net — Perkampungan kumuh, kampung bulan, warga tergusur
  • Seoul Archives — Kebijakan hunian tanpa izin era 1960-an
  • National Archives of Korea — Cheonggyecheon / runtuhnya Apartemen Wau
  • Encyclopedia of Korean Culture — Perkampungan kumuh · runtuhnya Apartemen Wau · Sanggye-dong Olympics
  • Digital Encyclopedia of Seongnam — Kompleks Perumahan Gwangju
  • Digital Encyclopedia of Gangnam — Guryong Village Gaepo-dong
  • Korea Democracy Foundation Open Archives — Perjuangan melawan penggusuran Mok-dong & Sanggye-dong
  • Seoul City Media Hub — Mural Kampung Ihwa / Gaemi Village
  • Hankyung (2025-03-31) — Pembangunan ulang 3,800 unit Guryong Village Gaepo
  • Newsis (2025-04-24) — Pembangunan ulang Baeksa Village bergulir

Sedang populer di Seoul

Klook.com

Tautan afiliasi — kami mungkin memperoleh komisi tanpa biaya tambahan untukmu. Selengkapnya →