Ada satu momen kecil di restoran Korea yang bikin hampir semua pendatang tergagap. Kamu butuh air lagi. Kamu tahu persis apa yang kamu mau. Tapi kamu sama sekali tidak tahu harus memanggil apa orang yang bisa membawakannya.

Buku pelajaran bahasa Koreamu mengajarkan “yeogiyo”. K-drama yang kamu maraton memakai “imo”. Cowok Korea di meja sebelah barusan berteriak “sajangnim!” — dan seseorang langsung datang. Ketiganya benar, tapi masing-masing punya konteksnya sendiri. Panduan ini bersandar pada survei berskala besar National Institute of Korean Language dan sebuah makalah sosiolinguistik 2023 untuk memetakan sapaan mana yang aman di mana.

Jawaban singkatnya

  • Default-nya "jeogiyo" — tidak berasumsi soal gender, usia, atau status. Cocok di mana saja. Peringkat 1 survei nasional dengan 62.5%.
  • Kalau ada bel panggil di meja, tekan saja. Sebagian besar restoran menengah dan besar di Seoul punya. Kamu bahkan tak perlu memilih kata.
  • Hindari "imo", "eonni", dan "ajumma". Orang Korea pun memakainya hanya setelah ada kedekatan. Dalam survei nasional, 46.6% pekerja layanan merasa tidak nyaman dengan sapaan tipe ajeossi/ajumma.

Kenapa Bahasa Korea Tidak Punya Kata yang Jelas untuk Ini?

Versi singkatnya: bahasa Korea memang tidak punya kata netral serbaguna untuk memanggil orang asing. Bahasa Inggris punya excuse me. Bahasa Jepang punya sumimasen. Bahasa Korea tak pernah menyepakati satu padanan, jadi lubang itu diisi oleh sapaan kekerabatan — imo (bibi), samchon (paman), eonni (kakak perempuan), eomeoni (ibu). Kamu menyapa orang yang belum pernah kamu temui seolah dia keluarga, dan jaraknya pun menyusut.

Masalahnya, cara ini memaksamu menebak usia dan jenis kelamin lawan bicara. Salah satu saja meleset, seketika terasa kasar. Selama dua dekade terakhir, orang Korea perlahan bergeser dari sapaan kekerabatan ke “jeogiyo” dan “yeogiyo” — kata-kata yang tidak mengasumsikan apa pun.

Orang Korea Sendiri Merasa Canggung

Dalam Survei Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi Sosial milik National Institute of Korean Language — mencakup 4,000 orang berusia 10 sampai 60 tahun di 17 provinsi — 37.1% responden mengaku bingung bagaimana menyapa orang asing. 38% merasa tidak nyaman karena etiket berbahasa, dan 67.6% di antaranya menyebut alasannya "tidak tahu harus pakai kata apa". Dengan kata lain, ini bukan cuma masalah orang asing — kira-kira empat dari sepuluh orang Korea ragu setiap kali.


Jadi Apa yang Paling Aman Diucapkan?

Satu kata: “jeogiyo”. Dalam survei nasional, ungkapan yang paling banyak dipakai untuk memanggil orang asing adalah “jeogiyo” (저기요), sebesar 62.5%. Kekuatannya justru karena ia tidak memuat informasi apa pun. Ia tidak menebak orangnya laki-laki atau perempuan, dua puluh atau enam puluh tahun, pemilik atau pegawai paruh waktu. Tidak ada yang bisa salah.

62.5%
Memakai "jeogiyo" untuk memanggil orang asing — peringkat 1 dengan selisih jauh
33.5%
Memakai "ajeossi / ajumma" — peringkat 2, tapi juga paling tidak disukai
16.9%
Memakai "yeogiyo" — terutama umum di kalangan penutur paruh baya dan lansia

Sumber: National Institute of Korean Language, Survei Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi Sosial (4,000 responden, 17 provinsi, usia 10–60). Jawaban ganda diperbolehkan.

Separuh Kuncinya Ada di Cara Mengucapkan

  • Jeogiyo — kira-kira dibaca "cho-gi-yo". Akhiran -yo adalah penanda kesopanan; jangan pernah dibuang. "Jeogi" saja adalah banmal yang santai dan bisa terdengar ketus.
  • Sambil bicara, angkat satu tangan setinggi bahu. Di kedai K-BBQ yang riuh, tanganmu akan terlihat lebih dulu sebelum suaramu terdengar.
  • Jangan memanggil berkali-kali beruntun. Ucapkan sekali, buat kontak mata — itu sudah cukup.
  • Menjentikkan jari atau melambai dengan telapak menghadap ke bawah bukan cara memanggil orang di Korea.

”Yeogiyo” vs “Jeogiyo” — Apa Bedanya?

Arah. “Jeogiyo” (저기요) mengarah ke lawan bicara untuk menarik perhatiannya. “Yeogiyo” (여기요) mengarah ke tempat kamu sendiri, semacam “ke sini, ya”. Studi Shim Ju-hee tahun 2023 (Discourse and Cognition, Vol. 30, No. 1) menunjukkan bahwa perbedaan ini terbelah rapi mengikuti garis generasi.

📊 Bagaimana Dua Sapaan Terbelah Menurut Generasi — Shim Ju-hee (2023), Discourse and Cognition, Vol. 30, No. 1

Jeogiyo (저기요)Yeogiyo (여기요)
Mengarah keLawan bicaraPenutur (mejamu sendiri)
Kelompok usia utamaDi bawah 20-an40-an ke atas
Kecenderungan genderPenutur muda secara umumPerempuan sejak usia 30-an; laki-laki menyusul sejak 50-an
NuansaFormal, menjaga jarak sopanAkrab, kadang terselip nada tuntutan pelanggan
Rekomendasi untuk wisatawan◎ Pilihan default○ Boleh dipakai, tapi tergantung konteks

Detail menarik dari wawancara dalam studi itu: orang yang memilih “yeogiyo” sering melakukannya secara strategis, bukan karena ingin kasar. Di restoran formal yang tiap meja punya pelayan khusus, kamu tak perlu menunjuk siapa pun — kamu cuma perlu menandakan lokasimu, jadi “yeogiyo” lebih efisien. Responden juga mengaku memilih “yeogiyo” saat makanan mereka terlalu lama datang, sebagai cara menegaskan posisi mereka sebagai pelanggan yang membayar.

Intinya: Tak satu pun dari dua kata itu kasar. Tapi "yeogiyo" membawa aroma halus "akulah yang memanggil" — hierarki yang samar. Kalau bahasa Korea bukan bahasa ibumu, pakai saja "jeogiyo" yang lebih sederhana dan aman, dan kamu takkan pernah salah.

Seberapa Aman Sebenarnya Setiap Sapaan?

Di bawah ini semua sapaan yang mungkin kamu dengar atau pertimbangkan, diurutkan berdasarkan tingkat keamanannya bagi turis asing. Bertahanlah di kelompok hijau dan pengalamanmu akan mulus di mana pun di Seoul.

🚦 Peringkat Keamanan Sapaan di Restoran — Panduan Wisatawan

SapaanKeamananArti / NuansaCocok di ManaPerhatikan
Jeogiyo (저기요)🟢 TerbaikPermisiRestoran, kafe, atau bar mana punTidak ada. Kalau ragu, pakai ini
Sajangnim (사장님)🟢 TinggiHarfiahnya “bos”, berfungsi sebagai sapaan hormat serbagunaKedai lingkungan, rumah makan lawas, kios pasar, kafe independenTerdengar janggal di restoran rantai besar atau hotel
Yeogiyo (여기요)🟡 Sedang”Ke sini, ya”Cocok di mana sajaDisukai penutur yang lebih tua; bisa terasa jadul bagi staf muda
Seonsaengnim (선생님)🟡 SedangSapaan netral penuh hormat — mirip “Bapak/Ibu”Rumah sakit, kantor pemerintah, situasi formalTerlalu formal untuk restoran santai
Imo (이모)🟠 Hati-hatiAdik/kakak perempuan ibu — “bibi”Kedai gukbap, warung masakan rumahan, pojangmacha — dan hanya sebagai pelanggan tetapKasar bagi staf muda. Wisatawan: lewati saja
Eonni / Oppa (언니 / 오빠)🟠 Hati-hatiKakak perempuan / kakak laki-lakiDi antara teman sebaya, tempat minum yang akrabSalah menebak usia dan langsung berubah kasar
Samchon / Sajangnim Adeunim (삼촌 / 사장님 아드님)🟠 Hati-hatiSapaan kekerabatan untuk laki-lakiPojangmacha, kios pasarRisikonya sama dengan “imo”
Ajumma / Ajeossi (아줌마 / 아저씨)🔴 HindariPerempuan / laki-laki paruh bayaPaling tidak disukai nomor 1 dalam survei nasional
Agassi / Chonggak (아가씨 / 총각)🔴 HindariPerempuan muda / laki-laki mudaMenunjuk gender dan usia sekaligus
”Ada orang tidak, sih?” (여기 사람 없어요?)🔴 Hindari”Tidak ada orang di sini?”Terdengar seperti keluhan, bukan permintaan

Sapaan Mana yang Benar-Benar Menyinggung?

Semakin banyak sebuah sapaan menebak soal orangnya, semakin besar rasa tersinggungnya. National Institute of Korean Language menanyai pekerja layanan yang berhadapan langsung dengan publik tentang perasaan mereka terhadap berbagai sapaan dari pelanggan. Ini hasilnya.

😐 Pekerja Layanan dan Ritel yang Menyebut Sebuah Sapaan "Tidak Nyaman" — National Institute of Korean Language

Cara Pelanggan MemanggilMerasa Tidak Nyaman
Ajeossi / Ajumma (ajumeoni)46.6%
Agassi / Chonggak35.4%
Yeogiyo / Jeogiyo33.9% (terendah)

Jurang gendernya mencolok. Di kalangan laki-laki, 37.8% mengaku tidak suka dipanggil “ajeossi”. Di kalangan perempuan, angkanya melonjak ke 58.4%. Secara etimologi, “ajumma” dan “agassi” awalnya bukan sapaan yang merendahkan — “agassi” berakar dari agissi, sapaan hormat untuk putri keluarga bangsawan — tetapi lewat pemakaian berulang dalam konteks yang merendahkan perempuan, keduanya mengeras menjadi hinaan, menurut analisis lembaga tersebut.

Survei yang sama mengusulkan alternatif: sapaan berbasis pekerjaan yang tidak mengungkap gender maupun usia. Untuk restoran, lembaga itu menyarankan “sajangnim” atau “jongeobwonnim” (petugas); untuk menyapa orang asing dengan sebuah pertanyaan, “seonsaengnim”. Dari semuanya, hanya “sajangnim” yang benar-benar melekat. Itulah sebabnya dalam budaya makan Korea hari ini, “sajangnim” bukan pernyataan faktual tentang siapa pemilik tempatnya, melainkan sekadar gestur hormat.


Apa Persisnya yang Harus Diucapkan, Situasi demi Situasi

Menghafal satu sapaan itu membantu; menghafal beberapa kalimat utuh jauh lebih baik. Semua frasa di bawah memakai bentuk sopan dan berfungsi di restoran mana pun.

🗣️ Frasa Siap Pakai Menurut Momen Makan — Tinggal Baca Keras-Keras

SituasiBahasa KoreaCara BacaArti
Menarik perhatian저기요cho-gi-yoPermisi
Siap memesan주문할게요ju-mun-hal-ge-yoSaya mau pesan
Menunjuk menu이거 주세요i-geo ju-se-yoYang ini, ya
Tambah air물 좀 더 주세요mul jom deo ju-se-yoMinta air lagi, ya
Tambah banchan반찬 좀 더 주세요ban-chan jom deo ju-se-yoMinta lauk pendamping lagi, ya
Kurangi pedas덜 맵게 해 주세요deol maep-ge hae ju-se-yoTolong jangan terlalu pedas
Dibungkus포장해 주세요po-jang-hae ju-se-yoDibungkus, ya
Siap membayar계산할게요gye-san-hal-ge-yoSaya mau bayar
Bayar pakai kartu카드로 할게요ka-deu-ro hal-ge-yoPakai kartu
Meninggalkan meja잘 먹었습니다jal meo-geot-seum-ni-daMakanannya enak sekali, terima kasih

Kalau Mendadak Blank — Kombinasi Serbaguna

  • Jeogiyo + angkat tangan + tunjuk menu + igeo juseyo — empat gerakan ini menuntaskan 90% urusan memesan.
  • Tempelkan -juseyo di belakang kata benda apa pun dan ia berubah jadi permintaan sopan. "Mul juseyo" (minta air), "jeotgarak juseyo" (minta sumpit), "yeongsujeung juseyo" (minta struk).
  • Pembayaran biasanya dilakukan di kasir dekat pintu keluar, bukan di mejamu. Dan tidak ada budaya tip.

Masih Perlukah Memanggil Pelayan di Seoul Sekarang?

Setengah benar. Banyak restoran menengah-besar dan rantai waralaba di Seoul kini punya bel panggil di setiap meja. Kalau kamu melihatnya, tekan — itu jawaban yang benar. Tak perlu meninggikan suara atau memilih kata yang tepat. Periksa permukaan meja, dinding di sampingmu, atau sisi bawah tepi meja.

Proses pemesanannya sendiri berubah cepat. Menurut Survei Usaha Jasa Makanan dari Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan, adopsi kios pesan mandiri naik dari 0.9% pada 2018 → 4.5% pada 2021 → 13.0% pada 2025. Lompatan pertama terjadi saat COVID-19; yang kedua menyusul kenaikan biaya tenaga kerja.

13.0%
Adopsi kios pesan mandiri di usaha jasa makanan (2025, kira-kira tiga kali lipat angka 2021)
54.8%
Porsi kios di antara perangkat pesan mandiri (mobile 35.6%, tablet 9.2%)
11,000
Robot pelayan yang beroperasi secara nasional (naik dari 3,000 pada 2021)

🍽️ Apa yang Diberitahukan Sistem Pemesanan

Yang Kamu LihatYang Kamu LakukanPerlu Memanggil?
Bel panggil di meja (tombol merah)Tekan sekaliTidak
Tablet di mejaPesan langsung di layar; tombol ganti bahasa sering tersediaTidak
Kios di pintu masukPesan dan bayar dulu, lalu cari tempat dudukTidak
Kode QRPindai dengan ponsel → pesan lewat halaman webTidak
Robot pelayanSaat berhenti, ambil piringmu lalu tekan tombol konfirmasi di layarnyaTidak
Tidak ada apa-apa (rumah makan lawas, kios pasar, warung masakan rumahan)“Jeogiyo” + angkat tanganYa

Inilah paradoksnya: tempat-tempat yang paling menuntutmu memanggil sering kali justru tempat yang paling layak dikunjungi. Kios gukbap di pasar, warung masakan rumahan di gang, rumah makan legendaris berusia 40 tahun — tak satu pun punya kios atau bel panggil. Di sana, satu “jeogiyo” yang tepat sasaran sudah menyelesaikan semuanya.

Kalau Kamu Berhadapan dengan Kios Berbahasa Korea Saja

Banyak kios masih default ke bahasa Korea saja. Pertama, cek pojok kanan atas atau kanan bawah untuk tombol ENG / 中 / 日. Kalau tidak ada, panggil staf kasir dengan "jeogiyo" lalu tunjuk menunya — biasanya mereka akan menekankannya untukmu. Beberapa mesin menolak kartu terbitan luar negeri, jadi bijak untuk membawa sedikit uang tunai sebagai cadangan.


Tiga Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Turis Asing

1. Memanggil orang “imo” karena mendengarnya di K-drama. Imo adalah hasil sebuah hubungan, bukan kalimat pembuka. Itu sapaan pelanggan tetap setelah berkali-kali datang ke tempat yang sama sampai wajahnya dikenali. Pelanggan yang baru pertama datang memakainya terdengar seperti menekankan senioritas usia. Semakin muda stafnya, semakin buruk kesannya.

2. Membuang akhiran sopan “-yo”. “Jeogi” versus “jeogiyo”. “Juseyo” versus “jwo”. Beda satu suku kata dalam tata bahasa, beda jauh dalam nada. Bahkan kalau bahasa Koreamu minim, selama ada -yo, kesopanannya tetap sampai.

3. Memanggil keras berulang-ulang. Sekali saja cukup di restoran Korea. Kalau kamu sudah bertatapan tapi tak ada yang datang, hampir pasti mereka tidak mengabaikanmu — mereka sedang menyelesaikan antrean pekerjaan. Tunggu sekitar tiga puluh detik lalu coba sekali lagi.

Ingat Ini Saja

  • Lihat bel? Tekan belnya.
  • Tidak ada bel? Jeogiyo + angkat tangan.
  • Ingin terdengar sedikit lebih hangat di kedai lingkungan? Coba sajangnim.
  • Sisanya bisa menunggu sampai bahasa Koreamu terasa lebih nyaman.

Sumber data

Sedang populer di Seoul

Klook.com

Tautan afiliasi — kami bisa memperoleh komisi tanpa menambah biayamu. Selengkapnya →