Cara orang minum di Seoul sedang berubah. Sepuluh tahun lalu, mise-en-scène di setiap meja barbeku sama saja: satu botol hijau, satu gelas bir, dan seseorang mengaduk keduanya dengan sumpit — ritual somaek. Kamu masih melihat adegan itu hari ini. Tapi lihat sekeliling: dua orang usia 20-an di meja sebelah membuka kaleng highball, dan lebih jauh lagi, ada yang menyeruput arak sulingan beras tanpa es. Pergeserannya muncul di angka, di rak toko, dan di antara baris-baris menu bar mana pun di kota ini.
Jawaban singkatnya
- Pengiriman minuman beralkohol Korea turun tiga tahun berturut-turut — merosot 5.2% pada 2025 menjadi 2.98 juta kiloliter.
- Tapi ceritanya bukan tentang orang yang kehilangan minat. Soju sulingan, highball, dan pilihan non-alkohol semuanya tumbuh.
- Kata kunci bagi kalangan 20–30-an Seoul: kadar alkohol lebih rendah, selera pribadi, dan asal-usul. Berapa banyak yang kamu minum makin tak penting — apa yang kamu minum jauh lebih penting.
Apakah orang Korea benar-benar minum lebih sedikit?
Ya — dan penurunannya lebih curam daripada yang disadari kebanyakan orang. Pengiriman alkohol dalam negeri pada 2025 berjumlah 2,987,726 kiloliter, turun 5.2% dari tahun sebelumnya. Ini tahun ketiga berturut-turut penyusutan, padahal pembatasan pandemi sudah dicabut sejak 2023. Menyalahkan COVID tidak lagi masuk akal.
Tidak ada satu alasan yang rapi. Pandemi melonggarkan cengkeraman hoesik — makan malam wajib sambil minum selepas kerja — dan naluri memperlakukan kesehatan sebagai sesuatu yang dikelola aktif sudah merembes ke orang usia 20-an. Malam keluar yang merusak paginya makin dianggap biaya, bukan bonus. Inflasi juga tidak membantu: satu ronde di bar Seoul kini dengan mudah melewati ₩30,000 per orang.
Itu bukan berarti barnya kosong
Volume totalnya menyusut, tetapi orang yang minum tetap minum. Yang berubah adalah berapa banyak yang mereka habiskan sekali duduk dan bagaimana mereka memilih pesanan. Sepuluh tahun lalu, memutuskan mau minum apa cuma butuh tiga detik. Sekarang orang membaca menu dari atas sampai bawah sebelum memutuskan.
Jadi soju dan bir masih berkuasa, kan?
Benar. Bir di posisi pertama berdasar volume pengiriman, soju encer kedua, dan urutan itu tidak akan terbalik dalam waktu dekat. Tapi tanah di bawahnya sedang bergeser.
Perubahan paling kasatmata ada pada kadar alkohol. Soju botol hijau yang pada 1990-an bertengger di 25% terus merayap turun selama beberapa dekade, dan baru saja turun lagi. Saero, soju zero-sugar terdepan, diluncurkan ulang pada Januari 2026 dengan kadar 15.7% — dari sebelumnya 16.0% — dan mengganti basisnya menjadi 100% sulingan beras dalam negeri. “Soju yang halus” bukan lagi tren. Itu standar baru.
🍶 Jajaran dasar yang akan kamu temui di bar atau minimarket mana pun di Seoul
| Minuman | Kadar Alkohol | Merek Utama | Dalam Satu Kalimat |
|---|---|---|---|
| Soju encer | 15–16% | Chamisul, Jinro, Chum-Churum, Saero | Si botol hijau. Standar di K-BBQ dan pocha |
| Bir lager | 4.5–5% | Cass, Terra, Kelly | Pasangkan dengan ayam goreng, tanpa tanya-tanya |
| Makgeolli | 5–7% | Jangsu, Jipyeong, Kooksoondang | Seduhan keruh berbasis beras. Paling pas dengan jeon di hari hujan |
| Soju sulingan | 20–25% | Won Soju, Hwayo, Tokki Soju | Arak beras. Diendus dulu, baru diseruput |
| Highball | 5–9% | Aneka RTD kalengan | Wiski + soda. Patokan baru kalangan 20–30-an |
Kita juga perlu bicara soal somaek — campuran soju dan bir yang diaduk sumpit itu, yang dulu jadi tata bahasa tiap meja minum orang Korea. Bahkan produsennya kini mulai menjauh darinya. Lotte Chilsung baru-baru ini menayangkan iklan yang bertanya, “Kenapa merusak bir yang enak dengan menambahkan soju?” — nyaris ucapan perpisahan resmi bagi ritual itu. Era mencampur minuman demi menaikkan kadar alkohol sedang memudar. Orang ingin mencicipi tiap minuman apa adanya.
Bagaimana Won Soju mengguncang seluruh permainan?
Ketika kabar pada 2022 menyebut seorang bintang K-pop akan meluncurkan merek soju, industrinya menguap. Merchandise selebritas, pikir mereka. Hasilnya membuktikan sebaliknya. Won Soju, yang dirilis Jay Park lewat labelnya Won Spirits, memborong habis produksi awal 1.72 juta botol dalam sekejap — dan mengacak hierarki rak minuman minimarket dalam semalam.
Yang diguncang Won Soju bukan sekadar rasanya, melainkan kategorinya sendiri. Sampai saat itu, soju sulingan hidup di dunia paket hadiah hari raya dan restoran Korea kelas atas: ₩20,000–40,000 sebotol, sesuatu yang diminum teman-teman orang tuamu. Won Soju menyeret arak itu ke lemari pendingin minimarket dan membungkusnya dalam botol yang ingin diunggah orang ke Instagram.
Rak soju sulingan kini jauh lebih padat. Hwayo, buatan rumah keramik ternama Gwangju-yo, bersandar pada desain botolnya dan lini produk beraging yang mencakup kadar 17%, 25%, dan 41%. Tokki Soju, yang dibuat Bran Hill kelahiran Amerika hanya dari beras ketan, air, dan nuruk (starter fermentasi), membangun reputasinya di Brooklyn lebih dulu — lalu diimpor balik ke Korea. Bagi siapa pun yang besar dengan botol hijau, momen kesadaran itu — “tunggu, soju bisa punya aroma?” — biasanya terjadi lewat salah satu dari tiga ini.
Pertama kali mencoba soju sulingan?
- Jangan ditenggak seperti soju botol hijau. Kamu akan melewatkan aromanya begitu saja.
- Sajikan dingin (8–12°C) dan minum murni. Boleh pakai es kalau kamu suka.
- Pasangkan dengan rasa yang halus — ikan mentah, *jeon*, sayuran berbumbu — ketimbang *anju* berat dan berminyak.
- Belum siap membeli satu botol penuh? Cari ukuran 200 ml di minimarket.
Apa yang sebenarnya dipegang orang usia 20-an dan 30-an?
Kalau soju sulingan yang jadi bahan obrolan, pemenang volume sesungguhnya adalah highball. Wiski dan soda — dipinjam dari budaya haibōru Jepang — mendarat di Korea sekitar 2022 dan kini menempati lokasi terbaik di tiap kulkas minimarket.
Di minimarket, highball sudah menyalip wiski maupun anggur dalam pangsa pendapatan, dan 65% pembelinya berusia 20-an dan 30-an. Daya tariknya nyaris terlalu jelas: kadar alkohol rendah, tidak manis, satu kaleng sudah cukup, dan tak perlu membayar sebotol penuh wiski untuk sampai ke sana.
📊 Pangsa pendapatan alkohol di minimarket (H1 2024)
| Kategori | Pangsa Pendapatan | Tren |
|---|---|---|
| Highball | 39.9% | Melonjak. RTD kalengan memimpin |
| Wiski | 34.1% | Ditopang permintaan bahan highball |
| Anggur | 26.0% | Mendingin setelah ledakan era pandemi |
Bagian menariknya adalah apa yang terjadi setelahnya. Orang yang berkenalan dengan wiski lewat highball kini naik kelas ke minum murni. Laporan sepanjang 2026 mencatat kenaikan jelas permintaan single malt, terutama di kalangan pria usia 20-an. Ini polarisasi: botol yang nilainya naik masuk koleksi; sisanya dicampur jadi highball. Produksi dalam negeri juga bergerak: Lotte Chilsung sedang membangun distileri di Seogwipo, Jeju, dengan target produksi uji coba pada 2026.
Makgeolli juga diam-diam berpindah tempat. Citra lamanya — mangkuk sederhana berpasangan dengan panekuk gurih, diminum generasi tua — sedang digantikan botol seharga di atas ₩10,000 dari brewery skala kecil, yang dituang di makin banyak bar minuman tradisional Seoul. Saeng makgeolli tanpa pasteurisasi menghadirkan karbonasi dan keasaman yang sedikit berbeda di tiap botol, dan desain labelnya cukup bagus untuk difoto. Korea Liquor Awards 2026 dan Makgeolli Expo, keduanya didominasi label kerajinan premium, mengikuti arus yang sama.
Lalu ada juga pilihan untuk tidak minum sama sekali. Pasar bir non-alkohol Korea tumbuh dari ₩8.1 miliar pada 2014 menjadi ₩70.4 miliar pada 2024 — nyaris sembilan kali lipat dalam satu dekade — dan diproyeksikan mencapai ₩94.6 miliar pada 2027. Gerakan “sober curious” — hadir di acara minum tanpa mabuk — resmi tiba di Korea.
Di mana sebenarnya kamu bisa menemukan minuman ini di Seoul?
Bagi pengunjung, laboratorium termudahnya adalah minimarket. Buka 24 jam, tanpa pembatasan jam penjualan — dan entah bagaimana, soju botol hijau, soju sulingan, dan highball kalengan semuanya hidup berdampingan di satu kulkas. Kamu harus berusia 19 tahun atau lebih, dan mereka bisa saja meminta paspormu.
🥢 Ke mana harus pergi, tergantung apa yang kamu mau
| Yang Kamu Mau | Ke Mana | Suasananya |
|---|---|---|
| Soju botol hijau + makanan | Nopo & pocha (Euljiro, Jongno) | Meja aluminium, suara keras, harga murah |
| Bir + camilan goreng | Gang Nogari, pub hof | Meja luar penuh sebelum pukul 6 sore |
| Soju sulingan | Bar minuman tradisional (Seongsu, Ikseon-dong, Seochon) | Dijual per gelas. Bandingkan beberapa label sekali duduk |
| Saeng makgeolli | Bar khusus makgeolli (Mapo, Yeonnam) | Daftar brewery sepanjang menu anggur |
| Highball | Izakaya, minimarket | Titik masuk dengan hambatan paling rendah |
Yang perlu diketahui di meja
- Kamu tidak menuang untuk gelasmu sendiri. Orang lain yang mengisinya; kamu mengisi gelas mereka sebagai balasan.
- Saat orang yang lebih tua menuang untukmu, terima gelasnya dengan dua tangan. Cukup diangkat sedikit.
- Ronde pertama biasanya diminum bersama-sama. Setelah itu, minum sesuai temponya sendiri sama sekali tidak masalah.
- Kalau kamu sudah cukup, biarkan gelasmu tetap penuh. Gelas kosong mengundang tuangan berikutnya.
Ke mana budaya minum Seoul melangkah?
Arahnya terasa hampir pasti. Volume totalnya terus menyusut. Kadar alkoholnya terus turun. Tapi cerita yang menempel di tiap botol makin panjang. Ketika minum adalah kewajiban sosial, tidak ada alasan peduli pada mereknya. Sekarang, ketika itu soal selera pribadi, memilih adalah separuh kesenangannya.
Kalau kamu merencanakan satu malam keluar di Seoul, mulailah dengan botol hijau — tapi jangan berhenti di situ. Tidak banyak kota yang membiarkanmu menelusuri bagaimana biji-bijian yang sama, yaitu beras, menjadi makgeolli di satu gelas dan soju sulingan di gelas berikutnya, semuanya dalam satu malam.
Sumber data
- Laporan Cukai Minuman Keras National Tax Service / Korean Statistical Information Service — Data Pengiriman Alkohol (2025)
- Laporan pengiriman alkohol dan belanja alkohol rumah tangga 2025 — FoodIcon, Insight Korea
- Tren volume dan nilai pengiriman soju sulingan — Metro Seoul, Nongmin Shinmun
- Angka penjualan awal Won Soju — Biz Hankook
- Pangsa pendapatan highball minimarket dan porsi konsumen 20–30-an — News1, Cookie News
- Peluncuran ulang Saero dan tren soju berkadar rendah — Asia Times, Biz Watch, ZDNet Korea
- Ukuran pasar bir non-alkohol — Data News, NewsWay
- Survei perilaku minum kalangan 20–30-an — I&Survey, Some Trend
- Pergeseran permintaan single malt — Kyunghyang Shinmun, Herald Economy (Juli 2026)