Jawaban singkatnya

  • Anak muda Korea memborong kamera saku era 2000-an karena foto HP terasa kebanyakan editan. Di aplikasi fashion Ably, penjualan kamera digital naik 74% pada Januari sampai September 2026, dan 63% pembeli di bulan September berusia 20-an atau lebih muda.
  • Tren ini punya kosakata sendiri: dinol (memotret sebagai hobi) dan dikku (menghias kamera dengan pouch, strap, dan gantungan kunci).
  • Di Seoul, tempat belinya adalah Sewoon Sangga di Jongno. Siapkan mulai sekitar ₩100,000, dan ₩300,000–400,000 untuk model yang lagi diburu.
  • Cek flash, baterai, charger, dan jenis kartu memori sebelum bayar. Baterai cadangan untuk model lama bisa susah dicari.

Suatu sore di hari kerja bulan Maret, lorong sebuah pusat elektronik tua di Jongno dipenuhi antrean. Bukan untuk HP baru atau toko pop-up, tapi untuk sebuah etalase kaca berisi kamera saku bekas dari awal 2000-an. Wartawan Hankyung mendapati sebagian besar yang mengantre adalah perempuan muda, banyak di antaranya masih anak kecil waktu kamera-kamera ini baru dirilis.

Korea sudah beberapa kali dilanda gelombang retro, dari kamera film sampai piringan hitam. Demam digicam berbeda dalam satu hal: ini soal menolak kamera yang sudah dibawa semua orang di sakunya.


Kenapa anak muda Korea membeli kamera digital lama?

Karena foto HP mulai terlihat sama semua. HP di Korea secara default memakai pemrosesan AI yang berat: menghaluskan kulit, mencerahkan wajah, menyeimbangkan warna. Berguna untuk memotret dokumen dan makanan, tapi pengguna muda menyebut hasilnya datar dan palsu. 디카 (dika, kamera digital) lawas, yang juga disebut 똑딱이 (ttokttagi, kamera “cekrek-cekrek”), justru sebaliknya: flash langsung yang keras, sedikit noise, dan warna yang condong hangat atau dingin tergantung modelnya. Ketidaksempurnaan itulah intinya.

Seorang profesor Universitas Wanita Sookmyung yang dikutip Hankyung menyebutnya “retro pengalaman”: para pembeli ini tidak bernostalgia pada era yang nyaris tidak mereka ingat. Mereka menikmati proses memotret, menunggu, lalu melihat-lihat lagi di layar kecil, dan itu membuat memotret terasa seperti hobi lagi. Pemicunya bisa ditarik setidaknya ke awal 2023, ketika video “Ditto” NewJeans memakai rekaman camcorder yang berbutir dan membuat resolusi rendah jadi keren.

+74%
Penjualan kamera digital di Ably, Jan–Sep 2026 dibanding tahun sebelumnya
63%
Porsi pembeli kamera di Ably pada September 2026 yang berusia 20-an atau lebih muda
+35.5%
Transaksi kamera digital di Bungaejangteo, Januari 2026 dibanding tahun sebelumnya
~30%
Pelanggan asing di satu toko kamera Sewoon Sangga, menurut perkiraan pemiliknya (Hankyung)

Ini bukan cuma terjadi di Korea. Asosiasi produsen kamera CIPA melaporkan pengiriman kamera saku tumbuh sekitar 16% pada paruh pertama 2026, padahal pasar kamera secara keseluruhan stagnan, dan Fujifilm menyebut sekitar 70% pelanggan seri X-nya berusia di bawah 30 tahun. Korea hanya mengambil tren itu lalu menjadikannya subkultur lengkap, dengan istilah, aksesori, dan kopdarnya sendiri.


Apa itu "dinol" dan "dikku"?

Dua kata baru ini sudah merangkum hampir seluruh skenanya.

Angka aksesorinya, kalau boleh jujur, malah lebih gila dari angka kameranya.

📊 Aksesori digicam di Ably, September 2026 dibanding September 2025 (Segye Ilbo, mengutip data Ably)

AksesoriKenaikan pencarianKenaikan penjualan
Gantungan kunci kamera—+3,779%
Pouch kamera+94%+534%
Case kamera+252%+119%
Strap kamera+98%+109%

Kamera baru juga ikut menunggangi gelombang yang sama. Charmera mungil berlabel Kodak, kamera gantungan kunci seberat 30 g yang dijual dalam kotak desain acak, jadi barang koleksi. Instax Mini Evo Cinema dari Fujifilm, yang rilis di Korea pada Februari 2026 seharga ₩590,000, punya dial era yang meniru tampilan foto dari tahun 1930-an sampai 2020-an. Di 29CM, edisi terbatas Ricoh GR ludes dalam satu menit pada bulan Juni.

Latar belakang: jual-beli antargenerasi

Kebanyakan kamera ini keluar dari laci orang tua. Di Bungaejangteo, penjual berusia 50 tahun ke atas jadi kelompok terbesar pada Januari 2026 dengan 29.1%, sementara perempuan usia 20-an jadi kelompok pembeli terbesar dengan 22.6%. Transaksi langsung antara dua kelompok itu mencakup lebih dari 10% dari seluruh transaksi dan terus bertambah. Seorang pedagang kamera di Dongmyo yang sudah 37 tahun berjualan bercerita kepada Herald Corp. bahwa sekitar tahun 2010 ia membuang digicam yang tidak laku; sekarang ia "tidak sempat menyetok", bahkan unit rusak pun laku.


Di mana beli digicam vintage di Seoul?

Seoul tempat yang enak untuk berburu: kamu bisa mencoba kameranya langsung, dan sebagian penjual sudah terbiasa melayani pembeli asing yang datang sambil membawa screenshot TikTok. Ini tiga tempat untuk memulai.

📷
Sewoon Sangga (세운상가), Jongno
Pusat demamnya. Sekitar lima toko kamera menjual kamera saku era 2000-an yang sudah diservis; siap-siap antre di lorong pada sore hari kerja dan akhir pekan.
🎞️
Pusat Belanja Bawah Tanah Hoehyeon (회현지하상가)
Labirin bawah tanah berisi pedagang piringan hitam, perangko, dan kamera di sebelah Pasar Namdaemun. Lebih kuat di kamera film dan manual. Stasiun Hoehyeon pintu keluar 7.
🧺
Lapak kamera pasar loak Dongmyo (동묘)
Pedagang kawakan di antara tumpukan baju bekas. Harga biasanya ₩100,000–400,000, dan tawar-menawar adalah bagian dari keseruannya.

📍 Buka di Naver Map 📍 Buka di Naver Map 📍 Buka di Naver Map

Secara online, orang Korea jual-beli lewat Bungaejangteo dan Danggeun, tapi keduanya paling lancar dipakai dengan nomor HP Korea dan rekening pembayaran. Panduan Danggeun kami menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan turis asing di sana. Dongmyo juga pas untuk jalan-jalan setengah hari bareng deretan toko baju vintage-nya; lihat belanja vintage dan thrift di Seoul.

Berapa harga digicam bekas sekarang?

💸 Harga digicam bekas di toko-toko Seoul, menurut laporan tahun 2026 (Hankyung, Herald Corp.)

JenisHarga
Kamera saku standar era 2000-an, 4–5 tahun lalusekitar ₩20,000–30,000
Kamera saku standar era 2000-an, sekarangmulai sekitar ₩100,000
Model populer (merek yang lagi naik daun)₩300,000–400,000
Model langka atau mulussekitar ₩500,000

Merek mana yang lagi “hot” berganti setiap kali stok habis. Staf toko di Sewoon bercerita kepada Hankyung bahwa permintaan bergilir antara Olympus, Fujifilm, Sony, Canon, dan Nikon, dan awal 2026 yang paling banyak dicari adalah Canon dan Casio. Kalau kamu tidak terpaku pada satu merek, tanyakan saja stok yang ada daripada mengejar model yang kamu lihat di internet.


Apa yang harus dicek sebelum membayar digicam bekas?

Ini pengecekan umum yang berlaku di mana saja, bukan aturan toko tertentu. Kebanyakan toko mengizinkan kamu mencoba kamera di meja kasir.

Tips praktis: membawanya pulang naik pesawat

Baterai kamera adalah lithium-ion, jadi simpan baterai cadangan di kabin, bukan di bagasi. Kamera dengan baterai terpasang biasanya aman di mana saja, tapi aturan tiap maskapai berbeda. Lihat panduan aturan power bank dan baterai di penerbangan dari Korea. Stopkontak Korea bertipe C/F dengan tegangan 220V; kebanyakan charger kamera mendukung 100–240V, tapi cek labelnya. Selengkapnya di colokan dan tegangan listrik di Korea.


Apakah demam digicam cuma nostalgia?

Tidak juga, dan justru di situ menariknya. Pembeli usia awal 20-an belum pernah memakai kamera-kamera ini saat pertama kali beredar. Yang mereka beli adalah “kerepotan”: perangkat yang cuma bisa satu hal, butuh beberapa detik, dan tidak memperbaiki wajahmu. Dorongan yang sama sedang muncul di seluruh budaya anak muda Korea, dari piringan hitam dan bar LP sampai photo booth empat potong di setiap sudut jalan.

Harga yang bicara. Menurut para pemilik toko yang diwawancarai Hankyung, kamera yang beberapa tahun lalu laku ₩20,000–30,000 kini mulai dari di atas ₩100,000, dan seorang pedagang lama di Sewoon bilang hampir tidak ada lagi unit yang bisa dibeli. Kalau kamera rusak pun laku, ini sudah bukan tren niche lagi.

Kalau mau tampilan serupa tanpa membeli apa pun, photo booth di Seoul adalah versi kilatnya. Lihat perbandingan merek photo booth Korea, dan untuk hobi analog lainnya, toko piringan hitam dan bar LP di Seoul.