Duduklah di kafe mana pun di Seoul dan kamu akan melihatnya dalam hitungan menit: mahasiswa di meja sebelah membuka jendela ChatGPT di samping esainya, dan di subway seorang pekerja menyuapkan catatan rapat ke AI untuk diringkas. Angka-angkanya bilang kesan itu bukan fatamorgana. Korea kini termasuk negara di mana AI generatif merangsek paling cepat dan paling dalam ke keseharian. Tapi begitu kamu melihat isinya, ada cerita yang tidak sesederhana “semua orang cuma pakai ChatGPT.”

Jawaban singkatnya

  • 75% orang dewasa Korea pernah mencoba AI generatif, dan 61% adalah pengguna aktif bulanan — kira-kira dua kali lipat rata-rata OECD (sekitar 33%).
  • Nomor satunya ChatGPT (23.45 juta pengguna aplikasi bulanan pada April 2026, atau 46% pengguna smartphone), unggul atas Gemini (8.45 juta) dan Claude (2.41 juta).
  • Meski begitu, Gemini kini memimpin ChatGPT dalam kepuasan. Pertumbuhan tahunan menunjuk ke arah yang sama: Claude +1,148%, Gemini +1,034%, berbanding ChatGPT +34%.
  • Penggunaan terbanyak adalah pencarian informasi sehari-hari (42.5%). Tapi makin lama orang memakai AI, tujuannya bergeser dari rasa penasaran ke produktivitas kerja dan belajar.
  • Satu dari empat pengguna aktif berlangganan berbayar — angka yang mencolok dibanding tingkat konversi gratis-ke-berbayar 2–5% yang lazim di perangkat lunak.
61%
Penggunaan aktif bulanan di kalangan orang dewasa (ConsumerInsight, Feb–Apr 2026)
23.45 juta
Pengguna aplikasi ChatGPT aktif bulanan (Wiseapp·Retail, Apr 2026)
1,148%
Pertumbuhan pengguna aplikasi Claude dibanding tahun lalu — sekitar 12× dalam setahun
25%
Konversi berbayar di antara pengguna aktif (SaaS pada umumnya: 2–5%)

Apa benar orang Korea sebanyak itu memakai AI?

Iya. Dalam survei yang berjalan sepuluh minggu (Februari–April 2026) oleh ZDNet Korea dan firma riset ConsumerInsight, mencakup 8,000 orang dewasa (800 per minggu), 75% pernah mencoba layanan AI setidaknya sekali. Dari jumlah itu, 81% memakainya lagi dalam sebulan terakhir — artinya, di seluruh responden, 61% adalah pengguna aktif bulanan. Tiga dari lima orang dewasa.

Angka itu baru terasa besar kalau ada pembandingnya. Menurut data penggunaan TIK OECD yang dirilis Januari 2026, adopsi AI generatif di negara-negara anggota berada di sekitar 33% pada 2025 — satu dari tiga orang. Korea berjalan hampir dua kali lipatnya.

Di antara orang yang pernah mencoba AI, 40% bilang mereka memakainya “nyaris setiap hari” (termasuk beberapa kali sehari). Ini bukan lagi alat yang dibuka sekali karena penasaran; ia sudah mengendap jadi kebiasaan harian.

📊 Penggunaan AI generatif menurut pekerjaan (ConsumerInsight, 2026)

PekerjaanTingkat penggunaanCatatan
Bidang teknologi69%Tertinggi
Profesional68%Dokter, pengacara, akuntan, dsb.
Kantoran/administrasi67%Kelompok terbesar
Manajerial65%
Seluruh orang dewasa (rata-rata)61%~2× rata-rata OECD
Bagian yang lebih mencolok justru soal uang. 19% dari seluruh orang dewasa saat ini membayar langganan AI; di antara pengguna aktif bulanan, itu berarti satu dari empat (25%). Ketika konversi gratis-ke-berbayar khas perangkat lunak (SaaS) duduk di 2–5% (Harvard Business Review), Korea sudah melewati fase "mencoba AI" dan masuk ke fase "membayarnya." Ingat juga bahwa ChatGPT Plus di sini berharga sekitar ₩29,000 per bulan, dan gambarannya makin tajam.

Kombinasi itu — adopsi tinggi, kemauan membayar tinggi, dan perpindahan yang cepat — membuat perusahaan AI global menyebut Korea sebagai “test bed paling menuntut sekaligus paling dinamis.” Bikin sesuatu yang bagus dan ia langsung menghasilkan uang; bikin yang biasa saja dan ia ditinggalkan sama cepatnya.


AI mana yang mereka pakai? ChatGPT berkuasa — tapi retaknya mulai terlihat

Kamu harus membaca dua kumpulan data berdampingan: survei tentang apa yang orang katakan (ConsumerInsight) dan data panel tentang apa yang benar-benar mereka buka di ponsel (Wiseapp·Retail).

📱 Penggunaan dalam sebulan terakhir — basis survei (ConsumerInsight, Feb–Apr 2026, jawaban ganda)

LayananTingkat penggunaanCatatan
ChatGPT58%OpenAI · pilihan baku de facto
Gemini48%Google · naik cepat
A. (SKT)9%SK Telecom · buatan lokal teratas
Perplexity6%Spesialis pencarian berbasis AI
Nano Banana6%Pembuatan gambar
Copilot4%Microsoft
Grok4%xAI
Canva4%AI di dalam perkakas desain
Claude3%Anthropic · naik ke 6% di akhir masa survei
Wrtn3%Portal AI asal Korea

📈 Pengguna aktif bulanan (MAU) — basis panel aplikasi (Wiseapp·Retail, April 2026)

AplikasiMAUPertumbuhan dibanding tahun lalu
ChatGPT23.45 juta+34%
Gemini8.45 juta+1,034%
Claude2.41 juta+1,148%

Kenapa dua angka itu berbeda

Kedua survei mencakup periode yang sama, tapi ChatGPT tampil 58% di satu data dan 46% (23.45 juta ÷ 51.22 juta) di data lainnya — karena metodenya berbeda. Survei ikut menghitung peramban web, akun kantor, dan penggunaan di PC, sedangkan panel aplikasi hanya menghitung pembukaan aplikasi di smartphone. Gemini, sementara itu, mungkin terdongkrak karena sudah terpasang bawaan di Android. Tak ada yang salah; kamu butuh keduanya untuk melihat gambaran utuh. Dan soal arah, keduanya sepakat: ChatGPT No. 1, tapi laju pengejarannya milik Gemini dan Claude.

Kenapa orang pindah ke Gemini?

Dari angka mentah, keunggulan ChatGPT tampak kokoh. Dari kepuasan dan kesediaan merekomendasikan, peringkatnya justru terbalik.

⭐ Kepuasan dan rekomendasi per layanan (ConsumerInsight, 2026)

LayananKepuasanRekomendasi (poin)
Gemini81%78
ChatGPT75%73
Claude71%77

Jajak pendapat OpenSurvey terhadap 1,000 orang berusia 10–59 tahun pada Juli 2026 menunjuk arah yang sama: kepuasan keseluruhan Gemini (77.3%) mengalahkan ChatGPT (70.6%) dengan selisih 6.7 poin persentase — pembalikan yang terjadi dalam setengah tahun.

Alasannya tampaknya soal ekosistem. Dua dari tiga pengguna utama Gemini adalah orang yang meninggalkan ChatGPT demi Gemini. Sebaliknya, 88% pengguna utama ChatGPT bilang “ChatGPT adalah AI pertama saya dan saya bertahan dengannya.” Dengan kata lain, ChatGPT berjalan di atas inersia, Gemini di atas pilihan sadar. Buat orang yang sudah hidup di Gmail, Google Docs, dan Google Meet, Gemini bukan aplikasi baru — melainkan perpanjangan dari perkakas yang sudah dipakai.

Tingkat penggunaan Claude masih sederhana di 3%, tapi ia melompat dari 1% ke 6% sepanjang sepuluh minggu masa survei. Dipuji untuk dokumen panjang dan pemrograman, ia menyebar di kalangan pengembang dan profesional.


Bagaimana orang Korea benar-benar memakai AI?

Tanyakan apa yang orang lakukan dengan AI dan jawabannya ternyata cukup bersahaja.

🎯 Tujuan utama penggunaan AI generatif (2025)

TujuanPorsi
Pencarian informasi sehari-hari42.5%
Pekerjaan24.6%
Belajar16.0%
Hobi12.7%

Fakta bahwa “pencarian” memuncaki daftar itu penting. Di Korea, AI pertama-tama mapan bukan sebagai jenis perkakas baru melainkan sebagai pengganti kotak pencarian Naver atau Google. Dalam jajak pendapat OpenSurvey, 56.9% pengguna AI generatif bilang “kalau penasaran sesuatu, saya langsung tanya AI,” dan 42.3% bilang mereka terus menggali dengan pertanyaan lanjutan alih-alih berhenti di jawaban pertama.

Meski begitu, pencarian belum sepenuhnya pindah. Survei yang sama menemukan berita dan informasi keseharian masih mantap di tangan Naver, dengan penggunaan utama 60%+. Pekerjaan dan pengetahuan ke AI; rumah makan, cuaca, dan berita ke Naver. Orang Korea kini membagi jendelanya menurut keperluan.

Bagi pekerja kantoran, penggunaannya lebih konkret. Bidang yang dinilai paling efektif adalah peringkasan dan penulisan dokumen (31.2%) serta riset bahan (27.3%) — bersama-sama 58.5%. Intinya bukan kreativitas yang mentereng; melainkan mengotomatiskan pekerjaan kantor yang membosankan.

Makin lama dipakai, makin bergeser tujuannya

Dalam survei yang sama, pergeseran di kalangan pengguna berat sangat kentara. "Sekadar penasaran" turun dari 19% ke 9%, dan "keperluan pribadi" dari 54% ke 42%, sementara "produktivitas kerja dan belajar" hampir berlipat ganda dari 18% ke 35%. Orang membukanya karena takjub, lalu — begitu terbiasa — berakhir dengan mempekerjakannya.


ChatGPT si guru, Gemini si ahli, Claude si asisten

Bagian paling menarik dari riset Korea bukan soal adopsi — melainkan bagaimana orang memandang hubungannya dengan masing-masing AI. ConsumerInsight bertanya kepada pengguna “AI ini apa bagimu?” dan jawabannya terbelah rapi menurut layanan.

🧑‍🏫
ChatGPT = guru & mentor
Dipakai luas, dari obrolan sehari-hari sampai terjemahan dan perencanaan. Tutor satu lawan satu yang menjelaskan hal yang belum kamu tahu. Infrastruktur dasar yang menampung pemula sekaligus pengguna mahir.
🔧
Gemini = perkakas & ahli
Efisiensi praktis di atas kedekatan emosional. Penggunanya pindah demi integrasi ekosistem Google dan informasi real-time, jadi mereka menilainya dari performa, bukan hubungan.
🤝
Claude = asisten & rekan kerja
Porsi yang melihatnya sebagai "perkakas" paling rendah di antara ketiganya, sementara porsi yang melihatnya sebagai "asisten" atau "keluarga, teman, atau rekan kerja" jauh lebih tinggi — cerminan dari memori konteks panjangnya dan kepiawaiannya memoles kalimat bahasa Korea.

Secara keseluruhan, 56% pengguna AI bilang mereka memandang AI bukan sebagai sekadar perkakas atau mesin melainkan sebagai kehadiran yang punya relasi — asisten, ahli, guru, atau rekan kerja. Di antara pengguna berat harian, hanya 36% yang menyebutnya “cuma alat,” di bawah rata-rata 44%. Makin sering dipakai, makin kamu memanusiakannya.

Dan orang jarang memakai satu saja. Pengguna AI Korea rata-rata sudah mencoba 3.6 layanan, dan pengguna utama Gemini yang aktif rata-rata lebih dari empat. Mencocokkan aplikasi berbeda untuk pekerjaan berbeda — pemakaian multi-AI — sudah jadi hal biasa.


Seberapa beda antargenerasi?

Jurang antargenerasinya lebar, tapi semua anak panahnya menunjuk ke atas.

👥 Penggunaan AI generatif menurut kelompok usia

Kelompok usiaCiri khas
RemajaPenggunaan 67.6%; +25.8%p dibanding tahun lalu — pertumbuhan tercepat
20-an95.9% pernah mencobanya — praktis semua orang; No. 1 dalam durasi dan jumlah sesi per orang
30-anPorsi penggunaan terkait pekerjaan tertinggi di antara semua kelompok usia
40-anKelompok terbesar di antara pengguna aplikasi ChatGPT
50-an ke atasPenggunaan lebih rendah tapi menanjak; sebagian besar untuk pencarian informasi

Komposisi demografinya juga berbeda per aplikasi. Menurut Wiseapp·Retail, ChatGPT condong ke perempuan dan orang usia 40-an, sementara Claude 62.1% laki-laki dan paling padat di kalangan usia 20-an. Gemini juga condong laki-laki dan usia 20-an. Sama-sama “aplikasi AI,” rumahnya berbeda: ChatGPT mengendap di sekitar perempuan 40-an yang bekerja dan mencari informasi, sementara Claude dan Gemini mengendap di sekitar laki-laki 20-an dengan kebutuhan pemrograman dan belajar teknologi yang kuat.


Di mana AI buatan lokal?

Asumsi umum yang dibawa orang asing ke Korea — negeri yang dibangun di atas Naver dan Kakao, jadi AI buatannya pasti kuat — hanya separuh benar.

Nama-nama lokal yang layak dicatat adalah A. milik SK Telecom (penggunaan 9%), Clova Note milik Naver, dan portal AI Wrtn (3%). Itu beda kelas dengan ChatGPT dan Gemini. Naver mengembangkan modelnya sendiri, HyperCLOVA X, tapi belum menyusul raksasa teknologi global di lomba chatbot umum.

Sebaliknya, platform Korea mengganti strategi: alih-alih beradu langsung dengan chatbot buatan sendiri, mereka melapisi AI di dalam aplikasi yang sudah dipakai seluruh negeri.

Solusi ala Korea — masuk ke KakaoTalk, bukan bikin aplikasi AI mentereng lagi

  • Kakao bermitra dengan OpenAI untuk membawa "ChatGPT for Kakao" ke dalam KakaoTalk itu sendiri. Alih-alih meminta orang memasang aplikasi baru, mereka menjatuhkan AI ke jendela obrolan yang sudah terbuka.
  • Naver memilih meng-AI-kan pencariannya sendiri, memperluas "AI briefing" yang merangkum jawaban di atas hasil pencarian.
  • Hasilnya: satu dari tujuh pengguna internet Korea kini membaca berita lewat chatbot AI setiap minggu.

Buat pelancong dan pendatang yang tiba di Korea, kesimpulan praktisnya begini: kamu lebih mungkin bertemu AI bukan sebagai aplikasi terpisah melainkan sebagai fitur yang diam-diam meresap ke layanan yang sudah kamu pakai.


Berikutnya apa — agen, dan ketidakpercayaan

Terakhir, survei-survei itu menanyakan apa yang mau orang serahkan ke agen AI.

🤖 Peran yang mau didelegasikan orang ke agen AI (dua teratas, jawaban ganda)

PeranTingkat jawaban
Produktivitas kerja profesional43%
Keuangan dan pengelolaan aset34%
Urusan rumah tangga dan smart home26%
Perjalanan dan mobilitas25%
Kesehatan dan kebugaran23%
Belanja dan transaksi atas namamu22%

Orang menginginkan asisten serbaguna yang bahkan mengurus kalender dan dompet mereka. Namun responden yang sama menyebut kesalahan informasi (29%) dan kurangnya kepercayaan (18%) sebagai kekhawatiran terbesar mereka soal memakai AI. OpenSurvey menemukan ketegangan yang sama: kepuasannya tinggi di 70–77%, sementara kepercayaan pada hasil pencarian ada di kisaran 50-an untuk kedua layanan.

Bidang dengan harapan tertinggi (kerja, uang, rumah tangga) dan titik ketakutan terdalam (kesalahan, kepercayaan) hampir bertumpuk persis. Makin banyak yang ingin kamu serahkan, makin sulit mempercayainya — kontradiksi itulah tantangan inti pasar AI Korea saat ini.

Ringkasnya

Lanskap AI Korea bisa diringkas jadi tiga kalimat.

Buat siapa pun yang berkunjung ke Korea atau mengamati pasar Korea, pesan dari data ini jelas. Bukan soal “orang Korea memakai AI.” Melainkan bahwa orang Korea memakai AI secara membandingkan — menimbang satu dengan lainnya, dan pindah begitu ada yang lebih baik.

Sumber data

  • ZDNet Korea · ConsumerInsight, "Generative AI Consumer Survey" (Feb–Apr 2026, 8,000 orang dewasa) — ChatGPT si guru, Gemini si ahli, Claude si asisten
  • Wiseapp·Retail, "ChatGPT, Gemini, Claude app users at an all-time high" (dirilis Mei 2026, basis April 2026, sampel 51.22 juta) — laporan AIMatters
  • OpenSurvey, "AI Search Trend Report, H2 2026" (2 Juli 2026, 1,000 orang berusia 10–59) — blog OpenSurvey
  • OECD, data penggunaan TIK (dirilis Januari 2026, basis 2025)
  • KISDI (Korea Information Society Development Institute), "The generative AI usage gap from an AI-inclusion perspective" — statistik tujuan penggunaan dan kelompok usia
  • Kakao, pengumuman "ChatGPT for Kakao" — Kakao Newsroom

※ Angka bisa berbeda menurut lembaga riset dan metodenya (survei vs panel aplikasi), jadi sumbernya dicantumkan langsung di sepanjang artikel.