Jawaban singkatnya

  • Pada April 1977, sesisir 16 pisang berharga 5,500 won. Semangkuk jajangmyeon saat itu 200 won. Artinya 27.5 mangkuk jajangmyeon per sesisir.
  • Pada 1989, Jeju memanen 20,000 ton pisang dari 443ha — tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu. Januari 1991 membawa liberalisasi impor. Pada 1993, pisang Jeju lenyap. Empat tahun.
  • Bahkan pisang kini mulai meredup. Impor turun dari 427,260 ton (2018) menjadi 319,852 ton (2022), merosot 25.1% — dan konsumsi buah per kapita sendiri turun dari 59.8kg (2015) ke 51.5kg (2020).

April 1977. Etalase sebuah toko buah.

Di balik kaca, di tempat terbaik, tergantung sesisir pisang. Enam belas buah. Label harganya tertulis 5,500 won.

Musim yang sama, kota yang sama — di sebuah restoran Tionghoa, semangkuk jajangmyeon (mi saus hitam) seharga 200 won.

April 1977: sesisir 16 pisang seharga 5,500 won. Semangkuk jajangmyeon saat itu seharga 200 won. Sesisir = 27.5 mangkuk; satu buah = sekitar 1.7 mangkuk.

Matematikanya sederhana. Bagi 5,500 dengan 200, hasilnya 27.5. Sesisir pisang bisa membeli dua puluh tujuh setengah mangkuk jajangmyeon. Dihitung per buah, masing-masing sekitar 343 won — satu buah pisang lebih mahal daripada satu setengah mangkuk jajangmyeon.

Artikel ini berawal dari angka itu. Tapi ujungnya bukan cerita masa lalu.

Pada 2026, di minimarket Korea, pisang terpajang di rak buah termurah. Pembalikan itu tidak terjadi begitu saja. Ada tanggal persis di baliknya, ada industri yang mati karena tanggal itu, dan hal yang sama kini sedang terjadi pada buah yang berbeda.

₩5,500

Harga sesisir 16 pisang, April 1977. Semangkuk jajangmyeon saat itu: ₩200

443ha

Luas tanam pisang Jeju tahun 1989. Produksi 20,000 ton menjadikannya tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu

4tahun

Dari puncak 1989 hingga lenyap 1993 — dengan liberalisasi impor di antaranya, Januari 1991

-25.1%

Perubahan impor pisang: 427,260 ton (2018) → 319,852 ton (2022), Bea Cukai Korea

Benarkah Sesisir Pisang 1977 Seharga 27 Mangkuk Jajangmyeon?

Benar. Tapi kita harus memisahkan mana yang terverifikasi dan mana yang dihitung dalam kalimat itu.

Ada dua angka yang terkonfirmasi: sesisir 16 pisang seharga 5,500 won pada April 1977, dan semangkuk jajangmyeon seharga 200 won pada waktu yang sama. Keduanya tercantum dalam liputan khusus pisang Kukmin Ilbo. Angka 27.5 mangkuk hanyalah hasil pembagian dua angka itu — bukan statistik yang dikarang artikel ini.

27.5mangkuk

Perbandingan itu valid karena jajangmyeon adalah menu makan di luar paling umum di Korea saat itu. Itulah alasan media Korea sampai sekarang masih memakainya sebagai patokan saat menerjemahkan harga menjadi sesuatu yang terasa nyata. Sebuah artikel Kyunghyang Shinmun yang mengutip data harga Badan Konsumen Korea menunjukkan bagaimana hidangan itu bergerak.

🍌 Harga semangkuk jajangmyeon sebagai patokan (per tahun, mengutip data Badan Konsumen Korea)

TahunSemangkuk jajangmyeonSetara sesisir pisang 1977 (5,500 won)
1970100 won55 mangkuk
1977200 won27.5 mangkuk
1990sekitar 1,000 wonsekitar 5 mangkuk
20236,361 won0.86 mangkuk

Baris terakhir merangkum seluruh artikel ini. Uang 5,500 won untuk sesisir pisang tahun 1977 bahkan tak cukup membeli semangkuk jajangmyeon pada 2023. Harga jajangmyeon naik 63 kali lipat dari 1970 ke 2023. Harga pisang bergerak ke arah sebaliknya.

Ada juga catatan berbeda untuk periode yang sama. Sebuah kolom 2026 menggambarkan sesisir pisang era 1970-an seharga sepuluh mangkuk jajangmyeon — tidak cocok dengan harga terukur 1977 milik Kukmin Ilbo. Artikel ini memilih angka yang punya label harga nyata di belakangnya.

Ada juga catatan dari 1982. Meski jenisnya berbeda.

7,000 won per kilogram tahun 1982 — dinyatakan sebagai sumber sekunder

Sebuah unggahan komunitas yang memindai gambar koran lama mencantumkan pisang 7,000 won per kilogram, nanas kecil 2,000 won dan besar 5,000 won. Artikel ini hanya memakai angka-angka itu sebagai referensi. Unggahan itu tidak mencantumkan nama koran maupun tanggal, dan saya tidak bisa langsung mencocokkan halaman aslinya. Singkatnya, ini sumber sekunder yang dibagikan di forum komunitas. Berbeda dengan 5,500 won tahun 1977, angka ini tidak dipakai untuk mendukung argumen artikel ini.

Mengapa Pisang Begitu Mahal?

Karena impor tidak bebas. Lebih dari itu, artikel ini tidak melebih-lebihkan.

Pisang tidak tumbuh di Korea. Iklimnya tidak cocok. Jadi yang menentukan harganya bukan pertanian — melainkan perdagangan. Fakta bahwa banyak media mencatat Januari 1991, liberalisasi impor penuh, sebagai titik balik berarti sebelumnya impor belum bebas.

Masalahnya adalah bentuk spesifik pembatasan itu. Undang-undang apa, kuota apa, sejak tahun berapa — artikel ini tidak bisa memastikan. Maka ia hanya mencatat hasil yang terkonfirmasi: sebelum Januari 1991, pisang bukan barang umum di Korea, dan label harga 1977 menunjukkan keadaan itu.

Ada dua cerita yang biasanya ditambahkan orang Korea di titik ini. Keduanya tidak muncul di sini.

Orang sering berkata begitu — tapi saya tidak menemukan artikel sumbernya

  • "Satu pisang setara upah harian seorang buruh." Agar itu benar, Anda harus mencocokkan harga 343 won per buah tahun 1977 dengan upah harian tahun itu. Saya tidak menemukan data upah itu, jadi artikel ini tidak mengajukan klaim tersebut.
  • "Pisang adalah buah tangan termewah untuk menjenguk orang sakit." Cerita yang tersebar luas di Korea, tetapi riset ini tidak menemukan sumber primer. Yang terverifikasi hanya bahwa pisang era 1970-an adalah lambang buah impor kelas atas.

Satu angka lagi menempatkan jarak era itu ke dalam pandangan. PDB per kapita Korea sekitar 300 dolar pada era 1970-an dan sekitar 36,000 dolar pada 2025. Pendapatan orang yang berdiri di depan etalase 1977 itu berbeda dari sekarang dalam kelipatan dua digit. Mungkin lebih tepat mengatakan semuanya mahal, bukan hanya pisang. Tapi di antara semuanya, pisang sangat mahal.


Benarkah Jeju Pernah Hidup dari Pisang?

Benar. Dan kisah itulah tulang punggung artikel ini.

Pada 1989, luas tanam pisang Jeju adalah 443ha. Sebuah koran regional Jeju menulis luas yang sama sebagai 4.4 juta meter persegi. Produksinya 20,000 ton. Dan saat itu, orang Jeju menyebut pisang begini: tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu.

Jeju, 1989: 443ha lahan pisang, panen 20,000 ton. Tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu saat itu.

Blokir impor dan harga tetap tinggi; jaga harga tetap tinggi dan seseorang akan menanamnya. Musim dingin Jeju sejuk, dan tutupi tanaman dengan rumah kaca vinil maka tanaman subtropis akan bertahan. Petani Jeju menanam pisang pada 1980-an bukan soal perasaan — melainkan perhitungan. Jika bisa ditanam di dalam negeri, impor dibatasi, dan harganya di kisaran dua puluh sekian mangkuk jajangmyeon, itulah investasi terbaik saat itu.

Urutan yang terjadi setelahnya sungguh kejam.

🍌 Naik turunnya pisang Jeju — empat tahun dari puncak ke kepunahan (1989–1993)

WaktuApa yang terjadiAngka terkonfirmasi
1989Puncak pisang Jeju. Disebut tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu443ha (4.4 juta m²), produksi 20,000 ton
Jan 1991Liberalisasi impor pisang penuhPerbandingan harga eceran sebelum/sesudah liberalisasi belum terkonfirmasi
1993Pisang Jeju lenyapTergusur oleh barang impor
1993–1994Kesimpulan Putaran Uruguay mempercepat pembukaan pasar pertanianDeskripsi tahun berbeda-beda menurut media

Jarak antara baris yang mencatat luas dan produksi puncak dengan baris yang mencatat kepunahannya bukan empat baris — melainkan empat tahun.

443ha bukan angka abstrak. Di dalamnya ada petani yang membangun rumah kaca, pinjaman yang masuk ke rumah kaca itu, dan rencana melunasi pinjaman dengan panen pisang. Setelah Januari 1991, premis rencana-rencana itu lenyap. Pisang yang dikirim dari Filipina dan pisang yang ditanam di rumah kaca vinil berpemanas di Jeju sejak awal tidak bermain di permainan biaya yang sama.

Apa arti liberalisasi impor

Liberalisasi impor berarti mengizinkan suatu barang diimpor tanpa izin pemerintah atau batasan jumlah. Untuk pisang, momen itu dicatat banyak media sebagai Januari 1991. Setelahnya, kesimpulan Putaran Uruguay 1993–1994 memperluas pembukaan pasar pertanian. Namun, perhatikan bahwa deskripsi tahun tidak cocok antar media. Sebuah koran regional Jeju menggambarkan Putaran Uruguay sebagai penyebab lenyapnya pisang Jeju, sementara media lain mengaitkan 1991 dengan Putaran itu. Artikel ini hanya mencatat tanggal yang pasti: liberalisasi penuh impor pisang Januari 1991, produksi Jeju berakhir 1993.

Ada satu hal yang harus diperjelas. Menentukan siapa yang salah atas lenyapnya pisang Jeju bukan tugas artikel ini. Berkat liberalisasi, setiap konsumen Korea kini makan pisang dengan murah. Itu fakta. Pada saat yang sama, 443ha lenyap. Itu juga fakta. Kedua fakta tidak saling meniadakan.

Apakah Pisang Jeju Sekarang Sudah Benar-benar Hilang?

Belum. Mereka kembali. Sangat kecil, dan sangat mahal.

Rumah kaca pisang Jeju tumbuh dari 2 petani dan 10,000 m² pada 2015 menjadi 10 petani dan 55,000 m² pada 2017. Itu 5.5 kali lipat dalam dua tahun. Pada 2017, harganya 7,000 won/kg untuk pisang Jeju versus 3,500 won/kg untuk impor — tepat dua kali lipat. Satu kebun Jeju memanen sekitar 200 ton setahun dari 37,474 m² (15,420 pyeong).

55,000 m² hanyalah 1.2% dari 443ha tahun 1989 — yaitu 4.43 juta m². Bukan industri. Sebuah ceruk.

9,998 won untuk 1kg pisang lokal. Sekitar tiga kali harga pisang impor biasa.

Angka ini paling penting di bagian ini. Fakta bahwa ia laku di harga tiga kali lipat memang menarik, tapi yang lebih penting justru jarak tiga kali lipat itu sendiri.

Artinya, jarak harga yang terbuka pada Januari 1991 masih ada 35 tahun kemudian. Bukan karena petani Jeju malas. Operasi rumah kaca subtropis berpemanas dan kebun luas di dekat khatulistiwa sejak awal memang bukan permainan biaya yang sama. Liberalisasi memindahkan perbedaan itu langsung ke harga konsumen, dan sejak itu tidak ada yang membalikkannya.


Kapan Pisang Menjadi Buah Nomor 1 Korea?

Awal 2010-an. Dan kemenangan itu diraih melawan buah lokal.

Setelah liberalisasi 1991, impor pisang bergerak seperti termometer ekonomi Korea.

🍌 Impor pisang dan ekonomi Korea — 30 tahun setelah liberalisasi (1997–2022, Bea Cukai Korea dan lainnya)

TahunImporKonteks
1997135,000 tonTepat sebelum krisis finansial
199885,000 tonTepat sesudahnya; anjlok tajam dalam setahun
2008turun 50,000 ton dari tahun sebelumnyaKrisis finansial global
2010337,000 tonNaik 80,000 ton year-on-year
2011sekitar 357,000 tonNomor 1 penjualan buah ritel besar dua tahun berturut-turut
2012penjualan 26 miliar wonBuah nomor 1 penjualan di satu jaringan ritel besar
2018427,260 ton44.9% dari total impor buah 895,290 ton
2022319,852 tonTurun 25.1% dari 2018

Lihat penurunan antara 1997 dan 1998 — dari 135,000 ton ke 85,000 ton. Saat krisis finansial datang, pisang termasuk barang pertama yang dipangkas rumah tangga Korea. 2008 menunjukkan pola yang sama. Buah impor bukan kebutuhan pokok.

Namun memasuki 2010-an, karakternya berubah. Pada 2012, penjualan pisang di satu jaringan ritel besar menembus 26 miliar won, buah nomor 1 — mengalahkan apel, pir, jeruk lokal, bahkan jeruk impor dan ceri yang harganya turun berkat perjanjian perdagangan bebas.

Statistik 2018 menunjukkan skala dominasi itu.

2018: Dari 895,290 ton buah yang diimpor Korea, 427,260 ton adalah pisang. 44.9% buah impor adalah pisang saja.

Buah yang dulu seharga 27.5 mangkuk jajangmyeon pada 1977 kini mencakup hampir separuh buah impor pada 2018. Pembalikan itu tuntas.

Masalahnya ada di baris terakhir tabel itu.


Tapi Pisang Juga Sudah Mulai Meredup?

Benar. Ini bagian paling tak terduga dari artikel ini.

Impor pisang: 427,260 ton pada 2018 → 319,852 ton pada 2022. Turun 25.1%. Pada periode yang sama, total impor buah juga turun 20.4%, dari 895,290 ton menjadi 712,331 ton.

Pisang tidak tergusur buah lain. Orang Korea memang mulai makan buah lebih sedikit.

Konsumsi buah per kapita tahunan Korea turun dari 59.8kg pada 2015 menjadi 51.5kg pada 2020. Itu 8.3kg dalam lima tahun.

-8.3kg

Dikonversi ke harian, rasanya seperti makan satu potong buah lebih sedikit setiap hari. Dan penurunannya tidak merata. Buah yang menyusut dan buah yang tumbuh terbelah menjadi dua kubu yang jelas.

🍌 Buah impor per item — 2022 vs 2018 (Bea Cukai Korea)

Item20182022Perubahan
Pisang427,260 ton319,852 ton-25.1%
Jeruk142,443 ton77,787 tonsekitar -50%
Nanas77,520 ton67,104 ton-13.4%
Kiwi32,922 ton44,351 ton+34.7%
Mangga16,954 ton23,198 ton+36.8%
Stroberibelum jelas12,217 tonsekitar +40%

Buah murah menyusut dan buah mahal tumbuh. Frasa Seoul Economic Daily untuk pergeseran struktural ini tepat: makan lebih sedikit, tetapi makan buah yang lebih mahal.

Anda juga bisa menunjuk arahnya lewat cara lain: rasa manis. Menurut standar Badan Pengembangan Pedesaan, jeruk sekitar 11 Brix, mangga 15–16 Brix, kiwi 16–17 Brix. Yang menyusut kurang manis; yang tumbuh lebih manis. Impor mangga Peru naik 60% dari 13,426 ton pada 2017 menjadi 22,291 ton pada 2021.

Pisang menang karena jadi murah pada 1991. Pada 2020-an, ia tergusur justru karena murah. Syarat kemenangan menjadi syarat kekalahan.


Apakah Harga Alasan Orang Korea Meninggalkan Apel dan Pir?

Bukan. Pisau.

Penyebabnya ada di tempat yang agak tak terduga. Pada April 2018, harga dua buah lokal andalan Korea runtuh bersamaan.

April 2018 (aT/KREI): Apel Fuji di harga 23,035 won/10kg, -22.3% dibanding tahun normal. Pir Singo di harga 29,385 won/15kg, -23%. Pengiriman pir juga membengkak — 9,000 ton pada April (+15%) dan 18,000 ton pada Mei (+20%) — menumpuk kelebihan pasokan.

Dan satu kalimat yang melekat pada pir lebih berat daripada statistik mana pun di artikel ini. Pir sudah lama terlempar keluar dari 10 besar penjualan buah.

Mengetahui apa arti pir di Korea mengubah bobot kalimat itu. Pir adalah buah yang diletakkan di meja ritual leluhur, pusat bingkisan hari raya, dan buah yang dipakai untuk mengempukkan daging dalam masakan Korea. Pir itu kini di luar 10 besar penjualan.

10 — di luar daftar

Analisis industri saat itu tidak menunjuk harga. Konsumsi, katanya, bergeser ke stroberi dan pisang — buah yang tak butuh pisau, dengan tekstur lembut.

Satu kalimat ini memuat mesin sesungguhnya dari pembalikan konsumsi buah Korea.

Saat rumah tangga satu orang bertambah, makan siang dilakukan di meja kantor, dan buah bergeser dari pencuci mulut setelah makan menjadi camilan, perbedaan ini menjadi penentu. Semakin sedikit orang yang membeli dus apel 5kg lalu mengupas satu setiap hari.

Dengan kata lain, yang membalikkan konsumsi buah Korea bukan tarif atau nilai tukar — melainkan tenaga yang harus dikeluarkan tangan Anda. Jika liberalisasi 1991 memberi pisang harganya, perubahan gaya hidup 2010-an memberi pisang kemenangannya.

Mengapa apel dan pir belum juga hilang

Meski di luar 10 besar penjualan, apel dan pir tidak hilang di Korea — karena dipakai dalam ritual. Pada 10 September 2026, Kementerian Pertanian, Pangan, dan Pedesaan mengumumkan akan memperluas pasokan 13 barang kebutuhan pokok Chuseok — termasuk apel, pir, daging sapi hanwoo, dan telur — menjadi 163,000 ton, 1.6 kali level normal, dan menggelontorkan rekor 149 miliar won untuk mendorong diskon hingga 40%. Fakta bahwa pemerintah turun tangan setiap musim hari raya pada harga buah tertentu senilai ratusan miliar won menunjukkan kedua buah ini di Korea bukan sekadar makanan. Meski begitu, kali ini saya belum menemukan sumber yang menjelaskan langsung kaitan ritual leluhur dengan apel dan pir, jadi tafsir itu milik penulis.


Apakah Korea Menonton Musim 2 Drama yang Sama pada 2026?

Ya. Kali ini pemeran utamanya jeruk.

Saat perjanjian perdagangan bebas Korea–AS berlaku pada 2012, tarif jeruk mandarin AS (citrus) mulai turun bertahap dari setinggi 144%. Dan mulai 2026, tarifnya nol. Tren impornya begini.

🍌 Impor jeruk mandarin AS (citrus) — dari penurunan tarif ke tarif nol (2017–2026)

TahunImporCatatan
20170.1 tonpraktis tidak ada
2022529 tonperiode penurunan tarif bertahap
2023586 tonkenaikan kecil
20242,875 tonsekitar 5 kali lipat dalam setahun
2025 (s.d. Agustus)7,619 ton2.6 kali total tahun sebelumnya dalam delapan bulan
2026prakiraan 16,000 tontarif dari maksimal 144% ke nol

Dari 0.1 ton ke 16,000 ton. Naik 160,000 kali lipat dalam sembilan tahun.

Dan judul artikel Hankook Ilbo Januari 2026 yang memberitakan statistik ini sudah mewakili kesimpulan artikel ini.

"16,000 ton jeruk Amerika membanjiri pasar... akankah jeruk Jeju mengikuti jejak pisang?" — Hankook Ilbo, 8 Januari 2026

Yang penting, judul itu tidak menyertakan penjelasan apa pun. Bagi pembaca Korea, frasa jejak pisang bekerja tanpa catatan kaki. Premisnya, semua orang sudah tahu apa yang terjadi pada 1991, dan bagaimana 443ha berakhir dalam empat tahun.

Media Korea mengingat pisang 1991 sebagai arketipe liberalisasi. Tiga puluh lima tahun kemudian, ingatan itu muncul apa adanya di judul sebuah artikel tentang buah yang berbeda.

Apa itu mangam?

Mangam adalah klasifikasi Korea untuk jeruk hibrida yang matang lebih lambat daripada jeruk mandarin biasa. Hallabong, Cheonhyehyang, dan Redhyang adalah varietas utamanya. Kulitnya tebal, kadar gulanya tinggi, dijual sebagai hadiah, dan dihargai berbeda dari jeruk biasa.

Jeju sudah bersiap. Sekitar 20% kebun jeruk Jeju telah beralih dari jeruk biasa ke varietas mangam — Hallabong, Cheonhyehyang, Redhyang. Harganya berbeda. Jeruk biasa di kisaran 9,500–11,000 won/kg; Redhyang di kisaran 10,000–13,000 won/kg. Ini strategi keluar dari ring dengan barang impor murah dan naik ke segmen premium.

Kita pernah melihat strategi ini di suatu tempat. Persis solusi yang sama seperti pisang Jeju yang kembali di harga 9,998 won/kg — tiga kali harga impor.


Apa yang Bisa Dilihat Pelancong di Toko Buah Korea

Kisah ini tidak ada di museum. Ia ada di rak supermarket.

Carilah pisang lokal

Anda bisa menemukan pisang lokal di sudut buah lokal toko ritel besar atau toko-toko di Jeju. 9,998 won per kilogram — sekitar tiga kali harga pisang impor biasa. Satu label harga itu saja memuat seluruh artikel ini. Sebuah industri yang pernah seluas 443ha pada 1989, mati pada 1993 setelah liberalisasi Januari 1991, dan kini hanya bertahan sebagai produk ceruk berharga tiga kali lipat. Harga pasar 2026 saat ini belum dikonfirmasi dengan statistik resmi dalam artikel ini, jadi yang paling akurat adalah membaca sendiri label harga di rak.

Membawa buah masuk atau keluar? Cek sendiri sebelum terbang

Artikel ini tidak memberikan aturan karantina maupun besaran denda untuk buah bawaan pelancong. Korea dikenal membatasi impor buah segar secara prinsip, tetapi saya tidak bisa langsung mengonfirmasi pasal dan besarannya saat menulis. Ini area di mana panduan keliru akan merugikan pembaca secara finansial. Sebelum berangkat, periksa sendiri panduan karantina barang bawaan pelancong Badan Karantina Hewan dan Tumbuhan dan panduan kepabeanan pelancong Bea Cukai Korea. Ada juga informasi di aula kedatangan bandara.

Satu hal lagi yang perlu diketahui saat melihat harga. Di Korea, logika penetapan harga buah impor dan buah lokal benar-benar berbeda. Sebagai referensi, sebuah situs biaya hidup crowdsourcing yang diakses September 2026 menunjukkan harga Seoul sekitar 4,630 won/kg untuk pisang dan 10,252 won/kg untuk apel. Itu data kiriman pengguna, bukan statistik pemerintah, dan artikel ini menyajikannya hanya sebagai referensi. Tapi arahnya jelas: buah yang dikapalkan melintasi samudra dari daerah tropis lebih murah daripada buah yang ditanam di dalam negeri.

Satu hal lagi. Sebagian besar pisang yang dimakan orang Korea berasal dari satu negara. Per sekitar 2012, 90% pisang yang dimakan orang Korea berasal dari Filipina. Artikel ini belum bisa mengonfirmasi pergeseran porsi Ekuador atau Vietnam baru-baru ini. Lihat stiker di toko dan Anda bisa tahu dari mana asalnya sekarang.


Jadi Apa Intinya?

Urutan buah di rak Korea bukan hasil selera. Itu hasil tanggal.

Ringkasnya:

Pada April 1977, sesisir 16 pisang seharga 5,500 won dan semangkuk jajangmyeon seharga 200 won. Sesisir setara 27.5 mangkuk. Pada 1989, Jeju memanen 20,000 ton pisang dari 443ha — tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di pulau itu. Pada Januari 1991, impor diliberalisasi penuh. Pada 1993, pisang Jeju lenyap. Empat tahun.

443ha pada 1989 → liberalisasi impor Januari 1991 → lenyap 1993. Empat tahun.

Lalu pada 2012, pisang menjadi buah nomor 1 di satu jaringan ritel besar dengan penjualan 26 miliar won, mengalahkan apel, pir, dan jeruk lokal. Pada 2018, dari 895,290 ton buah yang diimpor Korea, 427,260 ton — 44.9% — adalah pisang.

Turun dari puncak itu juga cepat. Impor 2022 adalah 319,852 ton, turun 25.1%. Konsumsi buah per kapita sendiri turun dari 59.8kg pada 2015 ke 51.5kg pada 2020. Apel dan pir tergusur bukan karena harga — melainkan pisau. Buah yang tak butuh pisau menang, dan kini buah yang lebih manis sedang menang.

2026: Impor citrus AS tumbuh dari 0.1 ton pada 2017 menjadi prakiraan 16,000 ton. Tarif dari maksimal 144% ke nol. Judul artikelnya berbunyi: akankah jeruk Jeju mengikuti jejak pisang.

Saat Anda memungut sesisir pisang murah di toko buah Korea, Januari 1991 ada di dalam harga itu. Itu kemenangan bagi konsumen — dan bukan bagi 443ha. Dan perhitungan yang sama sedang berlangsung lagi, saat ini juga, di depan buah yang berbeda.

Sumber data

  • Kukmin Ilbo, "[Dari buah tropis menjadi buah rakyat] Murah, sehat... jatuh hati pada pisang" — sesisir April 1977 seharga 5,500 won, jajangmyeon 200 won, tren impor 1997–2012, Filipina 90%, penjualan ritel besar 2012 sebesar 26 miliar won — link
  • Jeju Ilbo, "Pisang Jeju yang sempat punah oleh impor kini bangkit" — 1989: 4.4 juta m² · 20,000 ton, tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi, skala kebangkitan 2015–2017, pisang Jeju 7,000 won/kg vs impor 3,500 won/kg — link
  • Seoul Economic Daily, "Pisang lokal menemukan cahaya setelah 30 tahun... mengapa laku meski tiga kali lebih mahal?" — 1989: 20,000 ton, liberalisasi 1991, lenyap 1993, pisang lokal 9,998 won/kg, kebun Jeju 37,474 m² · 200 ton/tahun — link
  • Seoul Economic Daily, "Impor pisang, jeruk turun sementara kiwi, mangga melonjak... makan lebih sedikit tapi buah lebih mahal" — volume impor per item 2022 vs 2018 Bea Cukai Korea, konsumsi buah per kapita 59.8kg → 51.5kg, perbandingan rasa manis — link
  • Asia Economy, "Stroberi dan pisang naik... harga apel dan pir rontok", 2018 — aT/KREI Fuji 10kg 23,035 won (-22.3%), Singo 15kg 29,385 won (-23%), pir keluar 10 besar, pergeseran ke buah tanpa pisau — link
  • Hankook Ilbo, "16,000 ton jeruk Amerika membanjiri pasar... akankah jeruk Jeju mengikuti jejak pisang?", 8 Januari 2026 — jeruk mandarin AS 0.1 ton (2017) → prakiraan 16,000 ton (2026), tarif maksimal 144% → nol pada 2026, pisang Jeju 1989: 443ha, mangam sekitar 20% · Redhyang 10,000–13,000 won/kg — link
  • Kyunghyang Shinmun, "Makanan rakyat jajangmyeon dulu 100 won pada 1970...", 2023 — data harga per tahun Badan Konsumen Korea (100 won pada 1970, sekitar 1,000 won pada 1990, 6,361 won pada 2023) — link
  • Siaran pers Kementerian Pertanian, Pangan, dan Pedesaan, "MAFRA memberi dukungan cermat demi Chuseok yang berlimpah dan aman bagi petani", 10 September 2026 — 13 barang kebutuhan pokok hari raya pada 1.6 kali normal, 163,000 ton, 149 miliar won, diskon hingga 40% — link
  • Tax & Financial News, "[Kolom ahli] Bagaimana pisang menjadi isu keamanan" — simbolisme liberalisasi impor 1991, estimasi nilai kini sesisir era 1980-an (estimasi kolumnis) — link
  • Chiui Sinbo (Koran Kedokteran Gigi), "Membaca ekonomi 2026 lewat harga pisang Korea", 2026 — PDB per kapita sekitar 300 dolar era 1970-an → sekitar 36,000 dolar 2025, sesisir era 1970-an = sepuluh mangkuk jajangmyeon (dinilai deskripsi kasar) — link
  • Unggahan Clien, "Harga pisang 30 tahun lalu.jpg" — gambar koran 1982 hasil pindaian, pisang 7,000 won/kg · nanas 2,000–5,000 won. Hanya dikutip sebagai referensi dari sumber sekunder komunitas tanpa nama koran dan tanggal — link
  • Numbeo, "Food Prices in Seoul," diakses September 2026 — pisang sekitar 4,630 won/kg, apel sekitar 10,252 won/kg. Data crowdsourcing kiriman pengguna, bukan statistik pemerintah — link