Cobalah menyusuri gang-gang hanok di Bukchon cukup lama, dan lambat laun ada yang terasa janggal. Rumah-rumahnya terlalu mirip. Lebar gerbang sama, garis atap sama, panjang tembok sama — berulang di sepanjang gang seperti deretan rumah petak. Kalau para bangsawan Joseon membangun rumahnya masing-masing, pemandangannya tak mungkin seseragam ini.

Jawabannya sederhana: rumah-rumah ini dibangun pada waktu yang sama, oleh jenis perusahaan yang sama, untuk dijual. Gang hanok di Bukchon dan Ikseon-dong adalah kompleks perumahan yang dibuat para pengembang properti pada 1920-an dan 30-an — mereka memborong lahan besar, memotongnya menjadi kaveling kecil, lalu menjejerkan hanok berdesain standar di atasnya. Bayangkan saja sebagai versi zaman kolonial dari proyek kota baru. Panduan ini mengajak Anda melihat bagaimana semua itu terjadi, apa arti rumah-rumah ini bagi orang Korea, bagaimana kedua kawasan berubah seabad kemudian, dan ke mana warga lokal benar-benar pergi hari ini.

Jawaban singkatnya

  • Gang hanok di Bukchon dan Ikseon-dong adalah kompleks perumahan era 1920–30-an. Perusahaan perumahan memecah lahan besar dan membangun hanok ukuran sedang secara massal untuk dijual.
  • Tokoh kuncinya adalah Jeong Se-gwon, pendiri Geonyangsa. Ikseon-dong 166 adalah kompleks hanok yang ia bangun di atas bekas kediaman kerajaan, Nudonggung.
  • Kini Bukchon adalah kawasan hunian dengan jam malam bagi turis; Ikseon-dong menjadi jalan belanja hanok. Wisatawan hanya boleh masuk Zona Merah Bukchon pukul 10 pagi sampai 5 sore.
1920
Tahun Jeong Se-gwon mendirikan Geonyangsa
118rumah
Hanok pra-1930-an yang masih berdiri di Ikseon-dong (Seoul Hanok Portal)
1983
Bukchon ditetapkan sebagai distrik estetika — kebijakan pelestarian dimulai
10–17h
Jam kunjungan wisatawan di Zona Merah Bukchon (berlaku sejak Maret 2025)

Kapan dan oleh siapa Desa Hanok Bukchon dibangun?

Sebagian besar hanok yang berdiri di Bukchon hari ini dibangun dan dijual oleh perusahaan perumahan pada 1920-an dan 30-an. Kawasannya sendiri memang benar-benar tua — keluarga-keluarga berpengaruh Joseon tinggal di sini. Namun kala itu, Bukchon berarti segelintir rumah besar di atas pekarangan luas, bukan gang sempit yang dipadati rumah-rumah kecil seperti sekarang.

Perubahan dimulai dari krisis perumahan di Gyeongseong (Seoul masa kolonial) setelah 1910-an. Seoul Hanok Portal menjelaskan bahwa “akibat kekurangan rumah setelah 1912”, lahan menengah hingga besar dipecah dan muncullah jenis hanok baru, karena perusahaan perumahan yang mengincar untung dari penjualan rumah membeli bidang tanah luas dan lahan hutan lalu membangun hanok ukuran sedang secara besar-besaran. Contoh klasiknya adalah Gahoe-dong 11 dan 31, Samcheong-dong 35, serta Gye-dong 135. Gang menurun di Gahoe-dong 31, tempat wisatawan kini antre berfoto, lahir persis dengan cara ini.

Pendatang mengalir deras. Angka yang dikutip dalam serial Pressian (“Gyeongseong, yang direduksi menjadi kota kolonial”) menyebut populasi kota sekitar 250,000 jiwa pada 1920, 350,000 pada 1930, dan 400,000 pada 1935. Orang Korea yang datang dari daerah untuk bekerja jauh dari cukup tempat tinggal. Memecah satu pekarangan bangsawan menjadi sepuluh atau dua puluh rumah jelas bisnis yang menguntungkan.

Kenapa di utara Cheonggyecheon?

Pada masa pendudukan Jepang, Seoul kira-kira terbelah oleh sungai Cheonggyecheon. Warga Jepang kebanyakan tinggal di selatan, di Namchon (kini Myeongdong, Chungmuro, dan Hoehyeon-dong), sedangkan orang Korea di utara, di Bukchon. Ketika gedung Pemerintah Jenderal berdiri di dalam Istana Gyeongbokgung pada 1926, kantor-kantor dan rumah dinas Jepang ikut bergeser ke utara, dengan permukiman dibangun di Jeokseon-dong, Tongui-dong, dan Hyoja-dong. Orang Korea khawatir akan tersingkir sepenuhnya dari kota tua. Menyediakan hanok bagi orang Korea di Bukchon memang bisnis, tetapi bisnis itu tumbuh dengan latar belakang seperti ini.


Siapa Jeong Se-gwon, sang "raja arsitektur"?

Jeong Se-gwon (1888–1965) adalah pengembang properti Korea yang mendirikan Geonyangsa pada 1920 dan membangun kompleks hanok di berbagai penjuru Seoul. Berasal dari Goseong, Provinsi Gyeongsang Selatan, ia pernah menjadi kepala kecamatan sebelum pindah ke Gyeongseong pada 1919 dan mendirikan perusahaannya setahun kemudian. Dalam bukunya The Architecture King Built Gyeongseong (2017), profesor Universitas Nasional Seoul Kim Kyung-min menyebut Geonyangsa sebagai perusahaan real estat layanan lengkap pertama di Korea.

Produksinya luar biasa besar untuk ukuran zamannya. Gyeongseong Almanac tahun 1929, sebagaimana dikutip Wikipedia bahasa Korea, mencatat bahwa Geonyangsa membangun “lebih dari 300 rumah setiap tahun”. Buletin kota Seoul, Seoul&, memperkirakan ia membangun sekitar 2,000 hanok di dalam dan sekitar kota tua. Gahoe-dong dan Samcheong-dong di Bukchon, Ikseon-dong, Bongik-dong, Hyehwa-dong, Seongbuk-dong, Changsin-dong, Wangsimni, Haengdang-dong — karyanya tersebar di seluruh kota.

📐
Denah standar
Ia memampatkan hanok tradisional menjadi satu blok berbentuk ㅁ agar beberapa rumah muat di satu lahan kecil. Itulah sebabnya rumah-rumah kembar berjajar di sepanjang gang.
🚿
Fasilitas modern
Dapur dan toilet didesain ulang, dan talang seng di tepi atap mengalirkan air hujan langsung ke saluran.
💳
Penjualan cicilan
Pembeli melunasi harga rumah secara tahunan atau bulanan — cikal bakal KPR zaman sekarang.

Ia bukan sekadar pebisnis. Pada 1930-an Jeong ikut aktif dalam Korean Products Promotion Society dan koalisi kemerdekaan Singanhoe, serta membangun dan menyumbangkan gedung untuk Products Promotion Society di Nakwon-dong 300 dan untuk Korean Language Society di Hwa-dong 129. Harga yang ia bayar tidak kecil. Menurut Pemerintah Metropolitan Seoul, ia dipenjara dan disiksa berat dalam insiden Korean Language Society, dan hartanya disita otoritas kolonial; Wikipedia bahasa Korea menyebut tanah yang dirampas darinya lebih dari 35,000 pyeong di Ttukseom. Bisnisnya tak pernah pulih setelah kemerdekaan.

Penilaian terhadapnya beragam. Pada masanya, sebagian orang meremehkannya sebagai "tukang jual rumah" belaka. Sebaliknya, Profesor Kim berpendapat bahwa proyek-proyeknya justru mempertahankan permukiman Korea dari ekspansi Jepang ke Bukchon. Gambaran paling jujur memuat kedua wajahnya sekaligus: pengembang yang mencari untung, sekaligus aktivis kemerdekaan.

Bagaimana Desa Hanok Ikseon-dong terbentuk?

Kawasan di sekitar Ikseon-dong 166 adalah kompleks hanok yang dibangun Jeong Se-gwon sekaligus di atas bekas kediaman kerajaan. Menurut Seoul Hanok Portal, ia membeli lahan termasuk Ikseon-dong 166, 33, dan 19 — di antaranya Nudonggung, kediaman dan kuil ayah Raja Cheoljong — memecahnya menjadi kaveling kecil, lalu menjual atau menyewakan hanok ukuran sedang yang ia bangun di sana.

Kecepatannya akan terasa akrab bagi siapa pun yang pernah melihat kompleks apartemen modern dibangun. Seoul& melaporkan bahwa hingga 1929 lahan itu masih berisi kediaman seorang keturunan kerajaan; pada 1935, puluhan hanok sudah berdiri berimpitan. Dalam enam tahun, satu kompleks kerajaan berubah menjadi satu kampung utuh.

Jika Bukchon dikembangkan kaveling demi kaveling oleh banyak pembangun berbeda, Ikseon-dong dikembangkan sebagai satu blok oleh satu pengembang. Karena itu gangnya lebih sempit, rumahnya lebih kecil dan lebih seragam. Seoul Hanok Portal mencatat bahwa sebagian besar hanok Ikseon-dong berukuran di bawah 30 pyeong (sekitar 100㎡), dan hanya sedikit yang mencapai kisaran 50 pyeong.

💡 Tips praktis: cara mengenali hanok "untuk dijual" era 1920-an

  • Kanopi seng dan talang di sepanjang tepi atap — dipasang agar air hujan mengalir ke saluran, bukan ke halaman. Hanok era Joseon tidak memilikinya.
  • Gerbang yang berjajar rapat — karena kavelingnya dibagi rata, jarak dan lebar gerbang hampir sama persis.
  • Pintu dan jendela berkaca — banyak rumah memakai pintu kaca di sepanjang ruang utama dan kamar.
  • Detail ubin dan bata di dinding luar — jejak material modern yang ikut dicampurkan.

Apa arti hanok kota bagi orang Korea?

Hanok kota adalah “produk hunian modern” pertama yang pernah dibeli orang Korea. Di era Joseon, rumah biasanya dibangun sendiri oleh pemiliknya dengan menyewa tukang kayu. Hanok 1920-an dan 30-an bekerja dengan cara lain: pengembang membangun lebih dulu, lalu orang memilih rumah jadi untuk dibeli atau disewa dengan sistem jeonse. Melunasi harga rumah lewat cicilan tahunan atau bulanan juga muncul pada masa ini. Boleh dibilang, cara orang Korea sekarang membeli apartemen baru sebelum jadi lalu mencicil pinjamannya berawal dari gang-gang ini.

Rumahnya sendiri juga ikut modern. Kompleks yangban yang luas dengan banyak bangunan dan halaman dimampatkan menjadi satu rumah kecil berbentuk ㅁ, lengkap dengan dapur dan toilet berdesain baru. Ini sebuah kompromi: bentuk tradisional yang disesuaikan dengan lahan kota yang sempit dan gaya hidup baru. Lewat rumah seperti inilah kelas menengah Korea menancapkan akar di kota kolonial.

Setelah kemerdekaan, makna itu sempat berbalik. Sejak 1970-an, apartemen menjadi simbol rumah baru yang nyaman, sementara hanok dianggap rumah tua yang dingin dan merepotkan. Bukchon resmi menjadi objek pelestarian saat ditetapkan sebagai distrik estetika kelas 4 pada 1983, tetapi setelah batas ketinggian dilonggarkan menjadi 10m dan tiga lantai pada 1991, makin banyak hanok dirobohkan demi bangunan baru. Arah angin berubah lagi pada 2001, ketika Seoul meluncurkan program “Revitalisasi Bukchon” yang bertumpu pada sistem registrasi hanok. Sejak itu, hanok kembali dipandang bukan sebagai rumah tua untuk dibongkar, melainkan warisan yang perlu dijaga.

📅 Seabad dua kawasan — tonggak penting

TahunBukchonIkseon-dong
1920Jeong Se-gwon mendirikan GeonyangsaJeong Se-gwon mendirikan Geonyangsa
1920–30-anLahan besar di Gahoe-dong 11 & 31, Samcheong-dong 35, Gye-dong 135 dipecah menjadi kompleks hanokLahan Nudonggung dibeli; kompleks hanok rampung sekitar 1935
1983Ditetapkan sebagai distrik estetika kelas 4 — pelestarian dimulai—
1991Batas ketinggian dilonggarkan (10m, 3 lantai) — makin banyak hanok dibongkar—
2001”Revitalisasi Bukchon” diluncurkan, berbasis registrasi hanok—
2004—Ditetapkan sebagai zona redevelopment perkotaan
2014—Komite redevelopment bubar; rencana batal
2018—Ditetapkan sebagai kawasan konsentrasi hanok; rencana unit distrik disahkan
2024–25Zona pengelolaan khusus; denda Zona Merah sejak Maret 2025—

Seperti apa Bukchon dan Ikseon-dong sekarang?

Lahir dengan cara yang sama seabad lalu, kedua kawasan kini menghadapi masalah yang berlawanan. Bukchon membatasi pariwisata demi melindungi tempat yang masih dihuni; Ikseon-dong memilih menjadi kawasan belanja ketimbang dibongkar untuk redevelopment.

Bukchon — kawasan hunian dengan jam kunjungan turis

Bukchon masih menjadi tempat tinggal, tetapi pariwisata telah menggerus jumlah penghuninya. Menurut laporan Hankook Ilbo (Agustus 2023), jumlah penduduk Gahoe-dong dan Samcheong-dong turun 27.8% (2,422 orang) dalam sepuluh tahun sejak 2013, dan dari 16 hanok di Bukchon-ro 11-gil, hanya dua yang masih ditinggali. Kebisingan, sampah, dan privasi yang terusik membuat warga pindah.

Karena itu Jongno-gu menetapkan Bukchon sebagai zona pengelolaan khusus. Menurut Pemerintah Metropolitan Seoul, area sekitar 34,000㎡ di sekitar Bukchon-ro 11-gil adalah Zona Merah, dan wisatawan hanya boleh berkunjung pukul 10 pagi sampai 5 sore. Setelah masa tenggang yang dimulai November 2024, denda berlaku sejak Maret 2025. Pemerintah kota juga telah mengumumkan pembatasan bus wisata carteran.

💡 Tips praktis: etika berkunjung ke Bukchon

  • Zona Merah (sekitar Bukchon-ro 11-gil) terbuka bagi wisatawan hanya pukul 10 pagi–5 sore. Tidak ada sesi foto subuh atau malam hari.
  • Jangan mengintip lewat gerbang atau duduk di tangga dan tembok untuk berfoto — sebagian besar adalah rumah pribadi.
  • Pelankan suara di gang dan bawa pulang sampah Anda.

Ikseon-dong — jalan belanja hanok, bukan redevelopment

Ikseon-dong nyaris lenyap. Pada 2004 kawasan ini ditetapkan sebagai zona redevelopment perkotaan, dan rencana mengganti hanok dengan kompleks serbaguna 14 lantai sempat berjalan (Edaily, Januari 2018). Namun pada 2010 komite perencanaan kota Seoul meminta hanok dilestarikan, dan setelah bertahun-tahun konflik antarwarga, komite redevelopment bubar pada 2014 dan rencana itu batal.

Kira-kira saat redevelopment mandek, para wirausaha muda mulai merenovasi hanok yang lusuh menjadi kafe dan restoran, dan dalam beberapa tahun Ikseon-dong menjelma menjadi kawasan gang hanok paling ramai di Seoul. Seoul Hanok Portal mencatat sekitar 330 restoran, usaha jasa, dan toko per 2018. Pada tahun yang sama Seoul menetapkan Ikseon-dong sebagai kawasan konsentrasi hanok dan mengesahkan rencana unit distrik; menurut Edaily, aturan ini melarang waralaba besar dan membatasi bangunan di jalan utama maksimal lima lantai (20m).

Singkatnya: Bukchon menjatah pariwisata agar tetap menjadi tempat tinggal, sementara gang-gang hunian Ikseon-dong berubah total menjadi deretan toko. Dua kawasan yang lahir dari jenis pengembang yang sama, kini melangkah ke arah berlawanan seratus tahun kemudian.

Ke mana warga lokal pergi sekarang? — Bukchon

Kami sedikit menjauh dari rute turis untuk memilih toko-toko lama dan tempat yang memang didatangi warga sekitar. Restoran lawas Bukchon sudah kami bahas di Restoran Lawas Bukchon dan kafe hanoknya di 10 Kafe Terbaik Bukchon & Ikseon-dong, jadi daftar ini fokus pada tempat yang tidak tumpang tindih.

🫙
Daegu Sesame Oil Shop
Penggilingan minyak di Gyedong-gil sejak 1975, termasuk "Long-Standing Shops" pilihan Seoul.
🍵
Chamasineun Tteul
Rumah teh hanok berhalaman di bukit Samcheong-dong, terkenal dengan ssanghwa-tang dan teh jahe.
🥟
Bukchon Son Mandu
Kedai pangsit buatan tangan ala Seoul yang berawal di Insadong. Pangsit goreng dan kalguksu.
🧶
Dongrim Knot Workshop
Galeri dan bengkel kerajinan simpul tradisional di dalam hanok publik milik kota.

Daegu Sesame Oil Shop (Daegu Chamgireumjip) — hampir 50 tahun memeras minyak di Gyedong-gil

Berjalanlah menanjak di Gyedong-gil dari Stasiun Anguk ke arah SMA Jungang, dan aroma gurih sudah tercium sebelum papan namanya terlihat. Penggilingan minyak ini buka sejak 1975, dan pemilik sekarang mengambil alih pada 1990 (Jongno Cultural Foundation, 2023). Di sini diperas minyak wijen dan minyak perilla, dan dijual pula bubuk biji-bijian misutgaru serta bubuk cabai. Selama puluhan tahun warga sekitar datang memeras minyak menjelang setiap hari raya; belakangan makin banyak pelancong asing yang mampir untuk “tur penggilingan”. Toko ini termasuk Long-Standing Shops (Oraegage) pilihan Seoul.

📍 Buka di Naver Map

Chamasineun Tteul — ssanghwa-tang di halaman hanok

Rumah teh hanok di tanjakan Samcheong-dong (Bukchon-ro 11na-gil). Anda duduk di ruangan yang mengelilingi halaman sambil menikmati teh tradisional seperti ssanghwa-tang (ramuan herbal penghangat tubuh), teh jahe, dan teh omija. Banyak turis yang menemukannya, tetapi tempat ini juga punya pelanggan setia orang Korea yang mengajak orang tua mereka menikmati sore yang tenang. Lokasinya di gang dalam Zona Merah, jadi rencanakan mampir sebelum pukul 5 sore. Menurut informasi terbaru di Diningcode, tempat ini tutup setiap Selasa.

📍 Buka di Naver Map

Bukchon Son Mandu, cabang Bukchon — pangsit kampung tanpa antrean

Kedai pangsit buatan tangan di Bukchon-ro 4-gil. Toko utamanya ada di Insadong, dan ini cabang Bukchon dari merek pangsit yang punya gerai di berbagai sudut Seoul. Menunya setia pada hidangan sederhana — pangsit goreng, pangsit galbi, kalguksu kuah ikan teri — sehingga pekerja kantor dan warga sekitar sering mampir untuk makan cepat. Pas untuk mengisi perut sebelum atau sesudah menyusuri gang hanok.

📍 Buka di Naver Map

Dongrim Knot Workshop — kerajinan simpul tradisional di hanok publik

Bengkel kerajinan simpul tradisional (maedeup) di Bukchon-ro 12-gil, Gahoe-dong. Tempat ini termasuk “hanok publik” yang dibeli dan dikelola Pemerintah Metropolitan Seoul, sehingga menjadi salah satu dari sedikit tempat untuk melihat bagian dalam hanok kota era 1920–30-an dari dekat. Menurut Seoul Hanok Portal, jam bukanya pukul 10 pagi–6 sore dan tutup setiap Senin serta hari raya besar. Untuk kelas praktik membuat simpul, sebaiknya tanyakan lebih dulu.

📍 Buka di Naver Map

Pemandian umum di Gyedong-gil

Di tengah Gyedong-gil dulu berdiri Jungangtang, pemandian umum lingkungan yang dibuka pada 1969. Pemandian ini tutup pada 2014, dan pada 2016 merek kacamata Gentle Monster mengubahnya menjadi showroom sambil mempertahankan papan nama lama, ketel uap, dan struktur bak mandinya. Inilah contoh paling jelas bagaimana ruang keseharian Bukchon berubah menjadi toko untuk pengunjung.


Ke mana warga lokal pergi sekarang? — Ikseon-dong & Nakwon-dong

Di dalam gang hanok Ikseon-dong, sebagian besar usaha kini membidik anak muda. Kami memilih tempat-tempat yang terus didatangi orang Korea, ditambah toko-toko di luar gang, di Nakwon-dong dan Donui-dong, yang sudah melayani warga sekitar selama puluhan tahun.

🍡
Wonjo Nakwon Tteokjip
Cikal bakal gang kue beras Nakwon-dong, berdiri sejak sekitar 1920. Seoul Future Heritage.
🍜
Chanyangjip
Kedai kalguksu seafood yang buka sejak 1965 — jangkar gang mi Ikseon-dong.
🥣
Wonjo Somunnanjip
Kedai sup pereda mabuk ugeoji di dekat Nakwon Arcade, buka sejak subuh untuk pelanggan lansia.
🥟
Changhwadang
Kedai pangsit buatan tangan di gang hanok Ikseon-dong. Siap-siap antre.

Wonjo Nakwon Tteokjip — toko kue beras yang lebih tua dari hanok Ikseon-dong

Toko ini sudah ada di lingkungan ini bahkan sebelum kompleks hanok Ikseon-dong dibangun. Menurut Pemerintah Metropolitan Seoul, awalnya ini toko tteok (kue beras) yang dibuka oleh orang-orang yang pernah bekerja di istana kerajaan, diwariskan turun-temurun dalam keluarga sejak sekitar 1920, dan dinobatkan sebagai Seoul Future Heritage pada 2018. Kue andalannya antara lain dutureop-tteok, gyeongdan lima warna, dan injeolmi. Konon seluruh gang kue beras Nakwon-dong tumbuh di sekelilingnya. Menjelang hari raya besar, antrean pembeli tteok mengular sampai ke jalan.

📍 Buka di Naver Map

Chanyangjip — 60 tahun kalguksu seafood

Kedai kalguksu (mi potong pisau) di gang Donhwamun-ro 11da-gil yang buka sejak 1965. Menunya mi potong tangan dalam kuah kerang dan hasil laut, plus pangsit buatan sendiri. Kedai ini masuk Michelin Guide Seoul dari 2017 hingga 2019 dan, bersama tetangga-tetangganya, menjadikan gang ini “gang kalguksu”. Saat makan siang, pekerja kantor dari sekitar Jongno duduk berdesakan dengan para lansia setempat. Tutup setiap Minggu.

📍 Buka di Naver Map

Wonjo Somunnanjip — sup pereda mabuk ugeoji sejak pukul 4 pagi

Kedai sup di Supyo-ro, di depan Nakwon Arcade. Menunya cuma satu: sup pereda mabuk berisi doenjang, ugeoji (sayur kol kering), dan tahu, tanpa daging. Menurut media kuliner Wikifoodie, harga semangkuk ₩3,000, naik perlahan dari ₩500 pada 1986. Kedai ini favorit mendiang pembawa acara TV Song Hae dan sudah berkali-kali tampil di televisi. Para bapak lansia yang berlalu-lalang antara Taman Tapgol dan Nakwon Arcade datang ke sini sejak sebelum subuh — wajah Jongno yang sama sekali berbeda dari kafe-kafe hanok satu blok jauhnya.

📍 Buka di Naver Map

Changhwadang — antrean pangsit Ikseon-dong

Kedai pangsit buatan tangan di Supyo-ro 28-gil, Ikseon-dong. Menunya berpusat pada jajanan bunsik — pangsit, tteokbokki, dan jjolmyeon (mi kenyal) — dan di akhir pekan antrean terbentuk di gang. Saking terkenalnya, pangsit bekunya dijual di supermarket besar dan aplikasi belanja online. Agar tak menunggu lama, datanglah tepat setelah buka pada hari kerja.

📍 Buka di Naver Map

Ojugine — rebusan ayam pedas untuk rombongan pulang kantor

Restoran rebusan ayam dan gurita pedas di Donhwamun-ro 11ga-gil. Saking ramainya, mereka membuka gedung tambahan dan cabang ketiga di gang yang sama, dan tempat ini jadi favorit rombongan kantor di malam hari. Ritualnya: habiskan rebusannya, lalu goreng nasi di sisa kuahnya. Tutup setiap Minggu.

📍 Buka di Naver Map

Dongbaek Yanggwajeom — kafe dessert hanok bernuansa retro

Kafe hanok di Supyo-ro 28-gil, Ikseon-dong, yang terkenal dengan soufflé pancake dan parfait. Interiornya mengingatkan pada toko kue ala Barat (yanggwajeom) di Gyeongseong era 1920–30-an, jadi Anda bisa mencicipi suasana zaman ketika hanok kota ini masih baru. Kafe ini masuk Blue Ribbon Survey setiap tahun dari 2022 hingga 2024.

📍 Buka di Naver Map

🗺️ Semua tempat dalam panduan ini sekilas

AreaTempatJenisPoin utama
Bukchon, Gye-dongDaegu Sesame Oil ShopPenggilingan minyakSejak 1975, Long-Standing Shop Seoul
Bukchon, Samcheong-dongChamasineun TteulRumah teh hanokDi dalam Zona Merah — datang sebelum pukul 5 sore
Bukchon, Gahoe-dongBukchon Son ManduPangsit, kalguksuMakan santai ala warga sekitar
Bukchon, Gahoe-dongDongrim Knot WorkshopBengkel kerajinanHanok publik milik kota, tutup Senin
Nakwon-dongWonjo Nakwon TteokjipKue berasSejak sekitar 1920, Seoul Future Heritage
Donui-dongChanyangjipKalguksu seafoodBuka sejak 1965, tutup Minggu
Nakwon-dongWonjo SomunnanjipSup pereda mabuk ugeojiBuka sebelum subuh, pelanggan lansia
Ikseon-dongChanghwadangPangsit buatan tanganAntre di akhir pekan
Ikseon-dongOjugineRebusan ayam pedasFavorit pulang kantor, tutup Minggu
Ikseon-dongDongbaek YanggwajeomKafe dessert hanokKonsep toko kue retro

💡 Tips praktis: rute satu hari

  • Pagi — Dari Stasiun Anguk: Gyedong-gil (Daegu Sesame Oil Shop) → tanjakan Gahoe-dong 31 → Chamasineun Tteul di Samcheong-dong. Tinggalkan Zona Merah sebelum pukul 5 sore.
  • Makan siang — Bukchon Son Mandu, atau salah satu restoran lawas Bukchon.
  • Sore — Jalan kaki sekitar 15 menit ke Ikseon-dong. Kelilingi gang hanoknya lalu beristirahat di Dongbaek Yanggwajeom.
  • Malam — Kalguksu di Chanyangjip atau rebusan ayam di Ojugine, lalu bawa pulang sekantong tteok dari Wonjo Nakwon Tteokjip.

Gang-gang Bukchon dan Ikseon-dong bukanlah potret Joseon. Mereka adalah potret zaman ketika orang Korea mencari tempat bernaung di kota kolonial. Saat melewati deretan gerbang kembar itu, ingatlah bahwa setiap rumah pernah menjadi rumah pertama milik seseorang, dicicil bulan demi bulan seratus tahun lalu. Gang yang sama akan terlihat sedikit berbeda. Kalau penasaran dengan jalan-jalan bersejarah modern lainnya di Seoul, susuri juga Jeongdong.